Wakatobi as one of the world’s marine tourism objects is now preparing itself and always be ready to welcome you and your family with the hospitality and its particular culture

// <![CDATA[// tHE mAP

Welcome to Wakatobi, welcome to a splendid island – a place where you can be spoiled by hundreds of amazing underwater creatures known best in the World’s coral reef triangle centre. Traveling in the eastern region of South East Sulawesi Province, Wakatobi is famous in the world by its underwater beauty as Aden for world’s class divers and it lies on the world’s heart coral reef triangle and having a second longest atol in the world after the Great Barrier in Australia.

Wakatobi name is derived from four main islands called Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia and Binongko and surrounded by thousand small islands.

See Also: –
Published in: on 26 January 2010 at 5:13 pm  Leave a Comment  
Tags:

Good Choice to Spend Our Holiday

// //

DIVING SITES

Why Diving at Wakatobi?

A good question to ask.

As a World’s Class Diving Centre, Wakatobi spoiles you with its uniqueness and easy things even it is your first diving experience. As a beginner, you can start diving in a house reef in one of the resorts where you can dive only 20 meters (60 feet) from the dive center. The island offers divers an incredible marine life diversity, both color and natural splendor, and several dive sites easy to access.

One of the most popular sites is Wakatobi Marine Park with its superb diving sanctuary. A great diving holiday and at the same time,  marine conservation and community development will remain as an inspiration key to love more to the nature by protecting from all the damages.

Wakatobi Diamond Class Dive Spot

Wakatobi  own at least  100 Diamond  class Dive spot, Spread away  in 90,000 ha of its  coral reef such as :

a. Wangi-Wangi Island :

    1. Kapotadive
    2. Wahadive I
    3. Wahadive II
    4. Wahadive III
    5. Patuno Gate
    6. Patunodive
    7. Arokadive
    8. Karang Gurita
    9. Tanjung Kapota
    10. Kapota Gate
    11. Kptkr 1
    12. Kptkr 2
    13. Kptkr3
    14. Wanci Gate
    15. Wandokadive
    16. Oogudive
    17. Biradive
    18. Sombudive
b. Kaledupa Island/Hoga

    1. Buoy 1
    2. Buoy 2
    3. Buoy 3
    4. Buoy 4
    5. Bouy 5
    6. Pak Kasim
    7. Baby Batish
    8. Inner Pinnacle
    9. Outer Pinnacle
    10. Ridge 1
    11. Coral garden
    12. Ridge 2
    13. Aquarium
    14. Blue Hole
    15. North Wall 1
    16. North Wall 2
    17. Sampela Buoy 1
    18. Sampela Buoy 2
    19. Kaledupa Buoy 1
    20. Kaledupa Buoy 2
    21. Kaledupa Double
    22. Turkey Beach
    23. Conchta
    24. Zoo
    25. Barracuda
c. Tomia Island

    1. RR&R
    2. Teluk Maya
    3. Traiblazzer
    4. Tanjung Lintea
    5. Pockets
    6. Fan 36 East
    7. Fan 36 West
    8. Spiral Corner
    9. Magnitica
    10. Comuoopia
    11. Batfish Wall
    12. Fan Garden
    13. Starship
    14. Gallery
    15. Pinkys Wall
    16. Black Forest
    17. Lorenzos Delight
    18. Pastel
    19. Inka Palette
    20. Brians Choice
    21. Channel
    22. Tanjung Balok
    23. Dunia baru
    24. Waitii Ridge
    25. Table Coral City
    26. Teluk Waitii
    27. Kolo Soha Beach
    28. Roma
    29. Marimabuk
    30. Gunung Waha
    31. Ali Reef
    32. Bel Valley
    33. Waha Top
    34. Kulati
    35. Blade
    36. Coral Hill
    37. Pintu Timur
    38. Mermaid
    39. Fish Wall
    40. Cavern Wall
    41. Ndaa Light House
    42. Ndaa Drop Off
    43. Ndaa Selatan
    44. House Reef
    45. Anano 1
    46. Anano 2
    47. Rundumadive
    48. Kr dive
Published in: on 26 January 2010 at 4:52 pm  Leave a Comment  
Tags:

Pantai Patuno, Ikon Wisata Wakatobi yang Menggoda

Pantai Patuno, Ikon Wisata Wakatobi yang Menggoda

OLEH: AGUS SANA’A

WAKATOBI – Menyelam di tempat-tempat penyelaman (diving resort) di belahan dunia mana pun di jagat raya ini, Anda akan bercengkerama dengan berbagai jenis ikan dan biota laut, serta menikmati keindahan formasi terumbu karang beragam jenis.

Namun, ketika memilih Patuno Resort sebagai tempat menyelam, Anda tidak sekadar menikmati pemandangan alam bawah laut, tetapi juga dapat bercengkerama dengan sejumlah ikan lumba-lumba yang berkeliaran di kawasan pesisir tempat penyelaman tersebut. Sungguh suatu pemandangan yang amat menyenangkan.
Bagi pengunjung pantai yang tidak suka menyelam, dapat menyaksikan ikan lumba-lumba bermain di sela-sela gelombang laut dari dua pulau kecil tanpa penghuni yang “terbaring” molek di depan pantai. Di pulau yang ukurannya lebih besar, terdapat lubang kecil yang elok dipandang mata. Dari atas pulau itulah pengunjung dapat menikmati pemandangan matahari terbenam yang indah. Jika cuaca bersahabat, Anda juga bisa melihat perahu-perahu nelayan yang sedang mencari ikan.
Pantai Patuno terletak antara Wanci, Ibu Kota Kabupaten Wakatobi dan Bandara Matahora Wanci. Dari Wanci hanya berjarak kurang lebih 22 kilometer, sedangkan dari bandara hanya sekitar tiga kilometer.
Letaknya yang begitu strategis menjadikan kawasan tersebut mudah diakses. Mencapai tempat ini dari Wanci dengan mobil atau sepeda motor hanya butuh waktu kira-kira 30 menit, sedangkan dari bandara sepuluh menit.
Bagi warga dari luar pulau yang ingin berlibur di pantai tersebut, tidak susah menjangkaunya. Setiap hari maskapai penerbangan Ekspres Air melayani rute Ja­karta­–Maka­s­sar–Baubau-Wakatobi dan sebaliknya. Jika ingin melewati Kendari, Ibu Kota Provinsi Sultra, Anda bisa memilih Lion Air, Garuda Indonesia, Merpati Nusantara, Sriwijaya Air atau Batavia Air melalui rute Jakarta–Makassar–Kendari. Dari Kendari, dilanjutkan ­­Tdengan pesawat Susi Air berkapasitas 12 tempat duduk.
“Kalau warga Jakarta mau berlibur ke sini (Pantai Patuno-red) bisa berangkat hari Jumat dari Jakarta. Hari Sabtu menyelam, Minggu balik kembali ke Jakarta, dan Senin sudah bisa masuk kantor,” kata Bupati Wakatobi, Hugua. Oleh karena mudah diakses, Pemerintah Kabupaten Wakatobi menjadikan kawasan tersebut sebagai ikon wisata di Wakatobi.

Pulau-pulau Lain
Bosan menikmati keindahan alam pantai alam bawah laut, pengunjung bisa bergeser ke kawasan wisata lain di kabupaten tersebut, seperti Pulau Huga, Onemombaa atau karang Mari Mabo. Dari Pantai Patuno ke karang Mari Mabo, bisa menggunakan perahu cepat kurang lebih 30 menit. Demikian pula menuju Pulau Hoga, hanya perlu waktu sekitar 25 menit, sedangkan ke Onembaa sekitar dua jam.
Onemombaa, salah satu kawasan wisata diving di Kecamatan Tomia, Kabupaten Wakatobi yang dikelola PT Wakatobi Diving Resort milik Lorent, warga asal Swiss. Di Tomia, perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing) itu menyiapkan fasilitas bandara yang dapat didarati pesawat Fokker-28. Selama ini, para wisatawan yang mengunjungi kawasan tersebut hanya bisa mencarter pesawat dari Bali dengan jadwal penerbangan dua kali sebulan.
Untuk tinggal selama sepuluh hari, pengunjung harus merogoh kocek minimal US$ 3.000.
Saat ini, ke Onemomba tidak harus melewati Bali dengan pesawat carter dan menunggu 15 hari. Tiap hari Anda bisa ke Onemombaa dengan melewati Jakarta-Makassar–Baubau–Wakatobi. Biayanya pun cukup murah, paling tinggi US$ 570. “Pokoknya ke Wakatobi sekarang sangat mudah dan murah,” ujar Hugua.
Sementara itu, Pulau Hoga adalah kawasan wisata selam yang dikelola Wallacea. Di alam bawah laut tersebut terdapat kurang lebih 750 spesies terumbu karang. Bahkan, jenis karang bernama Palao Strea yang selama ini hanya ditemukan di perairan Laut Palao, dapat dijumpai di alam bawah laut Pulau Hoga. Pakar Biologi Kelautan Universitas Hasanuddin Makassar, Dr Ipul, menemukan jenis karang langka tersebut pada 23 November 2009 lalu.
Bupati Wakatobi mengidentikkan keindahan alam bawah laut di dua kawasan yang masuk area Pusat Segi Tiga Terumbu Karang dunia (triangle) itu bak surga nyata. Itu sebabnya, Bupati Wakatobi terus berjuang membangun sarana transportasi, baik udara maupun laut. Tujuannya agar para pecandu selam kelas dunia dapat menikmati surga nyata di Pusat Segi Tiga Terumbu Karang Dunia itu.
Berada di Wakatobi, tidak hanya keindahan alam bawah laut yang bisa dinikmati, melainkan juga keragaman budaya dan berbagai tradisi lisan. Di masyarakat Wakatobi banyak terdapat beragam budaya unik, seperti karia, kabuenga, makan kulit kerang kima, dan bangka mbule-mbule. Budaya bangka mbule-mbule merupakan tradisi masyarakat nelayan Suku Bajau dalam melarung sesajen di tengah laut. Ritual ini untuk menjauhkan nelayan dari marabahaya sambil memohon rezeki berlimpah dari penguasa laut, digelar sekali setahun.
Sementara itu, kabuenga, diyakini sebagai ajang tempat mencari jodoh. Entah ada hubungannya atau tidak, yang pasti artis Zakiah Mecca dan Hanung Bramantyo melaksanakan akad nikah setelah mengikuti acara kabuenga tersebut di Wanci. n
Pantai Patuno, Ikon Wisata Wakatobi yang Menggoda

Published in: on 26 January 2010 at 12:05 pm  Comments Off on Pantai Patuno, Ikon Wisata Wakatobi yang Menggoda  
Tags:

Daya Tarik wisata Wakatobi Diminati Turis Asing

Puluhan Kapal Wisata Singgahi Wakatobi
Era Baru Kamis, 27 Agustus 2009

[ilustrasi] Wangi-Wangi – Sebanyak 61 kapal layar berbagai negara di dunia berlabuh di perairan Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) serangkaian kegiatan festival budaya Wakatobi-Sail Indonesia 2009.

Bupati Wakatobi, Hugua di Wangi-Wangi, Kamis (27/08), mengatakan kedatangan wisatawan mancanegara dengan membawa kapal layar sendiri membuktikan bahwa wisata bahari Wakatobi memikat dunia.

“Mereka ini (wisatawan kapal layar) orang yang mapan ekonomi. Mereka datang menghibur diri dengan keindahan terumbu karang Wakatobi,” kata Hagua.

Kedatangan para wisatawan asing ini secara ekonomi berdampak positif bagi daerah ini karena selama berada di Wakatobi akan berbelanja berbagai pernak pernik karya warga setempat.

Kedatangan kapal layar milik penikmat wisata bahari di Wakatobi yang dikenal dengan visi “Surga Nyata Bawah Laut di Segi Tiga Karang Dunia” sejak tanggal 3 Agustus 2009.

Pemerintah dan masyarakat Wakatobi menyambut antusias para tamu dengan menggelar pentas kebudayaan dan seni.

Potensi wisata laut Wakatobi seluas 1,3 juta hektare menyimpan 750 jenis terumbu karang. Lebih unggul dibandingkan Laut Karibia sebanyak 50 jenis dan Laut Merah sebanyak 300 jenis.

Rute pelayaran kapal yang umumnya berawak satu kekeluarga yakni suami, istri dan anak dimulai dari Darwin Australia kemudian memasuki wilayah perairan Indonesia.

Mereka memasuki Indonesia dari Saumlaki, Masohi, Banda, Namlea, (Maluku), Ternate (Maluku Utara). Kemudian Bunaken (Sulut), Banggai (Sulteng) dan Wakatobi (Sultra).

Dari Kabupaten Wakatobi yang wilayahnya 97 persen laut, maka para wisatawan tersebut akan melanjutkan pelayaran ke Kabupaten Ende (NTT), Kabupaten Berau ,Tarakan (Kaltim) dan mengakhiri lawatan ke Indonesia di Provinsi Bangka Belitung.

Peserta Sail Indonesia, Keith Harding mengatakan kagum dengan keindahan terumbu karang Wakatobi dan sikap ramah masyarakatnya.

“Kami berterima kasih atas penyambutan warga Wakatobi. Wakatobi terindah di dunia dan kami akan kembali mengunjungi Wakatobi,” kata Keith Harding yang disambut tepuk tangan pada acara penyambutan peserta Sail Indonesia.

Peserta Sail Indonesia lainnya, Meicy dari Australia mengatakan tidak akan pernah lupa tentang Wakatobi-Indonesia.

“Saya merayakan hari ulang tahun ke-40 di Wakatobi. Ini sejarah dalam hidup saya karena dirayakan di Indonesia,” kata Meicy pemilik kapal Ligth Foot. (ant/waa)

Published in: on 26 January 2010 at 2:08 am  Leave a Comment  
Tags: