Sidang EB WHO Tak Singgung Substansi Mekanisme Transfer Virus

Sabtu, 23/01/2010 20:08 WIB
Sidang EB WHO Tak Singgung Substansi Mekanisme Transfer Virus
Nograhany Widhi K – detikNews


<a href=’http://openx.detik.com/delivery/ck.php?n=a59ecd1b&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE’ target=’_blank’><img src=’http://openx.detik.com/delivery/avw.php?zoneid=24&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=a59ecd1b’ border=’0′ alt=” /></a>

Jakarta – Mekanisme transfer virus tampaknya masih alot dibahas di Sidang Executive Board (EB) World Health Organization (WHO) ke-126 di Jenewa 18-23 Januari 2010. Substansi mekanisme transfer itu sama sekali tidak disinggung di Sidang itu.

“Khusus untuk masalah kesiapan dan kewaspadaan menghadapi pandemi influenza, hanya disepakati mekanisme atau prosedur untuk melanjutkan perundingan tentang virus sharing dan benefits sharing dan tidak menyinggung sama sekali masalah substansi,” ujar Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan dr Lily S Sulistyowati.

Hal itu disampaikan Lily dalam rilis yang diterima detikcom, Sabtu (23/1/2010).

Masalah virus pandemi influenza, imbuhnya, baru akan dibahas pada pertemuan Kelompok Kerja negara-negara anggota WHO pada tanggal 10 – 12 Mei 2010 di Jenewa sebagai pertemuan persiapan Sidang WHA ke-63.

Dengan demikian, Lily menegaskan tidak benar bahwa pada sidang EB WHO kali ini dibahas dan disepakati masalah pengiriman virus dalam rangka persiapan dan kewaspadaan terhadap pandemi.

“Indonesia tetap konsisten memperjuangkan kepentingan nasional dan negara berkembang lain untuk menciptakan mekanisme virus sharing dan benefits sharing yang adil, transparan dan setara,” tegas dia.

Sedangkan sebagian permasalahan kesehatan yang telah dibahas draft resolusinya dan akan  disahkan lebih lanjut di Sidang WHA ke-63 bulan Mei 2010 adalah tentang hepatitis, kusta, dan Millennium Development Goals (MDGs).

(nwk/nwk)

Published in: on 23 January 2010 at 4:13 pm  Leave a Comment  
Tags:

Flu Babi Belum Usai, Flu Kuda Mengintai

Internasional

<!–

–>Senin, 11-05-09 | 09:09 | 3602 View

NEW DELHI — Serangan virus influenza dari binatang terus berdatangan. Baru saja serangan flu burung (avian influenza) diatasi, dan flu babi (swine flu) sebentar lagi menjadi epidemi (wabah), kini sudah datang lagi kabar ada serangan virus yang datang dari binatang kuda.

Penyakit terbaru dari hewan yang diberi nama equine influenza itu menyerang tiga negara, yaitu Australia, Jepang, dan India. Di India telah menewaskan 43 kuda di negara bagian barat India Rajasthan dan Gujarat. Tahun lalu, pemerintah Provinsi Saga, Jepang, juga membatalkan perlombaan pacuan kuda menyusul berjangkitnya flu kuda pada sembilan kuda balap.

Sebelumnya, kecemasan akan merebaknya wabah flu kuda terjadi di Australia, setelah sedikitnya empat ekor kuda di Sydney dinyatakan positif terserang flu kuda, pertengahan Desember. Media Australia memperkirakan kuda-kuda itu tertular flu dari kuda asal Jepang yang bertandang ke Sydney.

Berdasarkan laporan laboratorium di Hissar, Haryana, di India utara,” kematian kuda akibat serangan flu itu pertama terjadi pada Januari di Gandhinagar, Gujarat. Untuk mencegah penyakit tersebut tersebar luas, pemerintah Gujarat memutuskan melarang membeli dan menjual kuda di negara bagian itu. Di Rajasthan, 25 kuda tewas pada suatu pameran kuda di daerah Jodhpur, menurut laporan tersebut.

Flu Equine disebabkan oleh virus Influansa A yang endemik pada kuda.Virus tersebut bisa berpindah ke jenis hewan lain dan sampai kemarin belum diketahui menular pada manusia.

Influensa Equine ditandai dengan sangat tingginya penularan di antara kuda, dan mempunyai masa inkubasi relatif singkat, yakni satu sampai lima hari. Kuda yang terserang flu ini bisa mengembangkan gejala-gejala demam, batuk kering dan keluar ingus dari hidungnya. (AP/kim/jpnn)

Published in: on 23 January 2010 at 10:58 am  Leave a Comment  
Tags:

Fakta Katak Tak Steril dari Wabah

Ternyata, Katak Bawa Wabah Salmonella

Restia Juwita

09/01/2010 23:01 | Penelitian
Liputan6.com, Washington: Menurut US Centers for Disease Control and Prevention (CDC), wabah Salmonella sedang berkembang biak, karena ada 85 kasus infeksi Salmonella di 31 negara yang teridentifikasi, akhir Desember silam. Wabah salmonella sebelumnya dikaitkan pada hewan peliharaan kecil lainnya, seperti kura-kura. Tapi sekarang ini, wabah tersebut juga ditemukan pada katak, terutama kodok kurcaci Afrika. Demikian dilansir HealthDay News, Kamis (7/1).

Kebanyakan infeksi wabah ini terjadi pada anak-anak, kata penulis dan epidemiologi CDC, Shauna Mettee. Tanda-tanda pertama wabah ini terjadi April silam di Utah, tempat pejabat mengidentifikasi lima kasus infeksi Salmonella pada anak-anak. Kasus itu kemudian ditemukan di negara-negara lain, termasuk Colorado, Ohio, New Mexico dan California.

Seperti kura-kura, katak diketahui membawa Salmonella. Penyakit ini diberikan kepada manusia tidak hanya dengan menyentuh katak itu sendiri, tetapi dari air di akuarium. “Ada katak yang terkontaminasi Salmonella melakukan kontak langsung dengan manusia. Bahkan ketika Anda menukar air di akuarium, beberapa
Salmonella tetap berada di dalam air, kerikil akuarium atau permukaan lain di dalam tangki,” ujar Mattee.

Saat ini, US Food and Drug Administration melarang penjualan cangkang kura-kura yang panjangnya kurang dari 10 sentimeter, karena memiliki risiko tinggi Salmonella. Mettee tidak mengecilkan hati orang-orang untuk memelihara kodok ini, tetapi penting untuk mengikuti beberapa panduan sederhana agar Anda dan anak-anak terlindung dari wabah. “Jika Anda memiliki kontak dengan kodok, air atau habitat mereka, cuci tangan dengan sabun dan air secara menyeluruh,” katanya.

Di samping itu, akuarium tidak boleh dibersihkan di dekat tempat makanan. Jika tangki dibersihkan di bak mandi, bak mandi juga harus dibersihkan dengan pemutih dan air. “Kami juga merekomendasikan, akuarium tidak akan disimpan dalam sebuah kamar tidur anak,” tambahnya.

Kebanyakan orang yang terinfeksi Salmonella mengembangkan diare, demam dan kram perut dalam waktu 12 hingga 72 jam setelah kontak dengan kuman. Infeksi biasanya bersih dalam jangka waktu lima hingga tujuh hari. Tapi, infeksi berat dapat terjadi, terutama pada bayi, orang tua dan orang dengan sistem kekebalan yang lemah. Dalam kasus yang berat, infeksi Salmonella dapat menyebar dari usus ke aliran darah dan bagian lain dari tubuh, dan dapat menyebabkan kematian kecuali jika diberikan antibiotik.

Dr Pascal James Imperato, dari School of Public Health di SUNY Downstate Medical Center di New York, mengatakan, “Sudah lama bahwa katak, penyu, ular dan reptil lain, serta anak ayam dan anak bebek, dapat berfungsi sebagai pembawa sehat berbagai spesies salmonella yang dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia.”(YUS)

Published in: on 23 January 2010 at 10:24 am  Leave a Comment  
Tags:

Sering Bercinta, Serangan Jantung Menjauh

Restia Juwita

10/01/2010 19:59 | Seks

Liputan6.com, Massachusetts: Tahukah Anda bahwa laki-laki yang sering melakukan hubungan seks akan berkurang 45 persen kemungkinannya terkena serangan jantung daripada laki-laki yang jarang berhubungan seks. Penelitian ini dilakukan kepada lebih dari 1.000 orang, dan hasilnya menunjukkan bahwa seks memiliki efek perlindungan pada jantung laki-laki.

Setiap tahun penderita serangan jantung di Britania mencapai 270 ribu orang. Meskipun seks telah lama dianggap baik untuk kesehatan fisik dan mental, baru ada sedikit bukti ilmiah yang menunjukkan manfaat hubungan antara seks dan penyakit jantung.

Dalam studi terbaru, ilmuwan di New England Research Institute di Massachusetts, dilacak aktivitas seksual pria berusia antara 40-70. Para peneliti juga memperhitungkan faktor risiko lain seperti umur, berat badan, tekanan darah, dan kadar kolesterol. Hasilnya, orang-orang yang bercinta setidaknya dua kali seminggu cenderung jauh lebih kecil memiliki penyakit jantung ketimbang mereka yang bercinta sekali sebulan atau kurang, seperti dilansir The Telegraph, Jumat (8/1).

Menurut peneliti, manfaat seks bisa memberikan efek pada tubuh, yakni fisik dan emosional yang baik. Pria yang sering melakukan aktivitas seksual lebih sehat dibanding yang tidak sering, karena seks bisa menggurangi tingkat stres dan memberikan dukungan sosial. Pun, seks dalam beberapa bentuk memiliki komponen kegiatan fisik yang dapat langsung berfungsi untuk melindungi kesehatan jantung.

Sebuah studi awal di National Cancer Institute di AS menunjukkan pria yang mengalami ejakulasi melalui hubungan seks atau masturbasi, setidaknya lima kali seminggu, punya kemungkinan jauh lebih kecil terkena kanker prostat.

Sementara, seks sekali atau dua kali seminggu di musim dingin dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan mengurangi kemungkinan terkena pilek dan flu, menurut para peneliti di Wilkes University, Pennsylvania. Mereka menemukan hal itu dapat meningkatkan kadar imunoglobulin A atau IGA yang mengikat untuk organisme yang menyerang tubuh dan kemudian mengaktifkan sistem kekebalan tubuh untuk menghancurkan mereka.

Selain itu, seks teratur bahkan dapat mendorong indera penciuman seorang wanita dengan memicu pelepasan hormon yang disebut prolaktin, menurut para ilmuwan di Universitas Calgary di Kanada. Ini mungkin sebuah mekanisme untuk membantu mengikat ibu dengan bayi yang baru lahir.(YUS)

Published in: on 23 January 2010 at 10:01 am  Leave a Comment  
Tags: ,

Memahami Naluri wanita

Ciuman-ciuman yang Mengejutkan Wanita

Astrid Puspasari

10/01/2010 20:21 | Seksologi
Liputan6.com, Jakarta: Apakah Anda ingin menjadi pasangan yang memuaskan bagi sang kekasih? Ada beberapa hal yang bisa membuat pasangan Anda tambah lengket. Berikut adalah beberapa petunjuk dari Ask Men:

Pertama, ciumlah daerah kelopak mata wanita Anda dengan lembut dan ringan di daerah ini. Kemudian ke seluruh wajahnya, boleh juga sembari memuji kecantikannya.

Kedua, ciumlah telinganya kemudian ke leher yang dilanjutkan ke bahu. Banyak wanita menyukai leher mereka dicium.

Ketiga, peluklah pasangan Anda dari belakang sambil mencium lehernya. Selanjutnya, mainkan jemari tangan Anda dari rusuk hingga ke persimpangan pinggulnya.

Keempat
, sesekali perlu mencium dan menjilati leher dan telinga dengan penuh bernafsu. Tapi, ingat, jangan meninggalkan air liur di telinganya.

Kelima, jangan katakan “terima kasih” setelah Anda menikmatinya. Sebab, perkataan itu akan membuatnya tersinggung dan terkesan seperti pelacur. Tunjukkan penghargaan Anda dengan cara lain seperti mengatakan “kamu sungguh mempesona sayang” dengan tulus.

Keenam, jika reaksi Anda terlalu cepat, hal itu justru membuat wanita tidak nyaman. Namun, jangan pula berlama-lama menggantungnya hingga ia merasa bosan dan kecewa. Bereaksilah di saat yang tepat, dengan begitu hasilnya akan luar biasa.

Dan, bersikap halus dan selalu berinovasi akan membuat pasanganmu seperti diberi hadiah yang tak ternilai. Pastikan itu Anda.(ANS)

Published in: on 23 January 2010 at 8:55 am  Leave a Comment  
Tags: ,

Awas, Produk Herbal China Berbahaya

Indira Dania Sibarani

11/01/2010 11:57 | Kesehatan

Liputan6.com, Taipeh: Pemakaian produk herbal yang populer di kalangan masyarakat China, yang salah satunya mengandung asam aristolochic, ternyata ada kaitannya dengan meningkatnya resiko kanker saluran urin, demikian hasil studi penemuan para ilmuwan di Taiwan.

Asam aristolochic, dikalangan masyarakat China dikenal dengan “Mu Tong” umummnya dapat ditemukan dalam beberapa macam produk herbal yang digunakan oleh masyarakat China untuk pengobatan hepatitis dan “eczema”.

Pada sebuah makalah yang dipublikasikan the Journal of the National Cancer Institute, para peneliti mengatakan bahwa mereka yang mengonsumsi Mu Tong menderita resiko pengembangan kanker saluran urin jauh lebih tinggi dan tingkat resiko semakin tinggi dengan tingginya dosis obat yang diberikan.

Juru bicara Institute of Occupational Medicne dan Industrial Hygiene di National Taiwan University, Jung Der Wang, dilansir dari ANTARA Senin (11/1) melarang melarang semua produk yang mengandung sedikitpun asam aristolochic, ia juga merekomendasikan untuk melanjutkan pengawasan berbagai macam herbal, termasuk herbal produk China.(AYB)

Published in: on 23 January 2010 at 8:46 am  Leave a Comment  
Tags:

Terlalu Banyak Nonton TV Bisa Cepat Mati?

Kompas
Kompas – Rabu, 13 Januari

* Kirim
* Kirim via YM
* Cetak

[Terlalu Banyak Nonton TV Bisa Cepat Mati?] Terlalu Banyak Nonton TV Bisa Cepat Mati?
Slideshow: Foto Selebriti

WASHINGTON, KOMPAS.com — Sebuah penelitian baru menunjukkan, terlalu banyak menonton televisi dapat memangkas umur manusia. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan di situs Web Circulation, sebuah jurnal Asosiasi Jantung Amerika (American Heart Association), ditemukan bahwa semakin lama seseorang menonton televisi, semakin besar pula risiko kematian dini–terutama penyakit jantung.

Sebagaimana dikutip dari CNN Health, penelitian tersebut berlangsung selama lebih dari enam tahun dan memonitor kehidupan 8.800 orang dewasa di Australia yang tidak memiliki sejarah penyakit jantung dalam enam tahun terakhir.

Hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa dari jumlah total partisipan yang menonton televisi selama empat jam atau lebih, sebanyak lebih dari 80 persen punya kemungkinan meninggal akibat penyakit jantung dan lebih dari 46 persen mungkin meninggal akibat penyebab lain.

Setiap tambahan satu jam di depan televisi meningkatkan risiko meninggal akibat penyakit jantung sebanyak 18 persen dan risiko kematian secara keseluruhan sebanyak 11 persen.

Pola ini tetap berlaku walaupun tingkat pendidikan dan kesehatan partisipan secara keseluruhan–termasuk umur, merokok atau tidak, level kolesterol, dan tekanan darah–turut diperhitungkan.

Menurut David Dunstan PhD, ketua penelitian dan kepala laboratorium kegiatan fisik di Baker IDI Heart and Diabetes Institute, sebuah pusat riset nasional di Victoria, Australia, yang membahayakan bukan televisi itu, tetapi posisi duduk ketika menonton televisi.

“Menonton televisi berkepanjangan sama dengan terlalu banyak duduk, yang berarti ketidakhadiran pergerakan otot … (sehingga) dapat mengganggu metabolisme Anda,” kata Dunstan.

Published in: on 22 January 2010 at 7:53 pm  Leave a Comment  
Tags:

Pengiriman Virus

Pembahasan Standar Pengiriman Virus Dituntaskan Mei 2010
Kompas
Kompas – Kamis, 21 Januari

* Kirim
* Kirim via YM
* Cetak

[Pembahasan Standar Pengiriman Virus Dituntaskan Mei 2010] Pembahasan Standar Pengiriman Virus Dituntaskan Mei 2010

JAKARTA, KOMPAS.com – Sidang Badan Eksekutif Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memutuskan akan menyelesaikan pembahasan mengenai standar perjanjian pengiriman materi biologi (Standard Material Transfer Agreement/SMTA), khususnya untuk virus, pada Mei.

“Soal pengiriman virus, keputusan yang diambil dalam ’Executive Board Meeting’ adalah akan dilakukan pertemuan akhir pada bulan Mei 2010,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, Kamis.

Tjandra merupakan anggota delegasi Indonesia dalam pertemuan Badan Eksekutif WHO di Jenewa, Swis. Pembahasan masalah yang menyangkut pembagian keuntungan bagi negara pengirim virus serta penggunaan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) inovasi obat dan vaksin pada saat pandemi, menurut dia, juga akan dituntaskan pada bulan yang sama.

“Keputusan ini didukung oleh seluruh negara anggota ’Executive Board’ karena memang didahului dengan pertemuan konsultasi yang dihadiri negara maju dan negara berkembang,” katanya.

Hasil pertemuan pada Mei tersebut, selanjutnya akan dibawa ke sidang kesehatan dunia (World Health Assembly).

Sebelumnya Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Hubungan Kerja Sama Internasional dan Kelembagaan, Makarim Wibisono menjelaskan bahwa pada dasarnya semua menyetujui penggunaan SMTA dalam pengiriman materi biologi.

Namun, kata dia, negara-negara maju tidak mau kalau ada substansi yang mengikat secara hukum dalam SMTA tersebut seperti yang dikehendaki negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Direktur Jenderal WHO kemudian menawarkan jalan tengah yakni agar penggunaan SMTA dilakukan secara bertahap dan pada tahap awal hanya diterapkan dalam sistem WHO.”Jadi penggunaan SMTA hanya dilakukan untuk pengiriman virus ke laboratorium di bawah WHO saja, dari sistem WHO ke pusat riset atau perusahaan pengembang vaksin tidak pakai SMTA, hanya menggunakan panduan prinsip dari WHO,” katanya.

Namun Indonesia bersama negara-negara berkembang tetap berusaha memperjuangkan penggunaan SMTA dalam seluruh pengiriman materi biologi, di dalam maupun di luar sistem WHO.

Sementara terkait HAKI, ia menjelaskan, negara-negara berkembang menghendaki agar pada saat pandemi produsen pemegang vaksin dan obat menyerahkan HAKI atas produknya kepada WHO yang selanjutnya akan mengatur penggunaan HAKI secara bersama untuk memudahkan negara terdampak pandemi mengakses obat dan vaksin.

Published in: on 22 January 2010 at 7:45 pm  Leave a Comment  
Tags:

Perdagangan Organ, Bisakah?

Bayangkan jika anggota tubuh kita diperdagangkan..
Kompas – Kamis, 21 Januari
• Kirim
• Kirim via YM
• Cetak
Perdagangan Organ, Bisakah?
Oleh : Indira PermanasariPenculikan bayi di rumah sakit kerap diikuti isu terkait perdagangan organ tubuh dan keterlibatan sindikat internasional. Rumah persalinan disebut-sebut menjadi sasaran baru. Namun, mudahkah urusan transplantasi organ dan jaringan tubuh? Termasuk ketika dilakukan terhadap bayi?
Pencangkokan organ tubuh bayi bukan hal baru. Di New York, Elijah Moulton (8 bulan) menjalani transplantasi lima organ sekaligus (hati, usus halus, pankreas, usus besar, dan lambung) di Morgan Stanley Children’s Hospital New York tahun 2006.
Jauh sebelumnya, 26 Oktober 1984, sebuah peristiwa bersejarah bidang kedokteran terukir di Loma Linda University Medical Center. Dr Leonard L Bailey memelopori transplantasi jantung lintas spesies dari seekor babon kepada bayi yang baru lahir prematur. Operasi Baby Fae menjadi landasan prosedur pencangkokan jantung bayi di rumah sakit itu. Kini, ada ribuan transplantasi jantung pada bayi baru lahir di dunia.
Indonesia tak mau ketinggalan. RS Dokter Kariadi Semarang bekerja sama dengan Universitas Diponegoro dan National University Hospital Singapura melakukan cangkok hati pertama pada bayi
berusia 1 tahun 3 bulan dengan donor sang ibu pada 2006. Sebanyak 25 persen hati sang ibu diambil dan dicangkokkan ke hati bayi yang rusak (Kompas, Oktober 2006).
Rumitnya pencangkokan
Dokter spesialis penyakit dalam dari Bidang Advokasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Ari Fachrial Syam, berpendapat, seiring perkembangan teknologi kedokteran, pencangkokan organ tubuh termasuk untuk bayi kian maju. Namun, transplantasi organ sangat kompleks. Organ yang dapat dicangkokkan, antara lain, adalah ginjal, kornea mata, jantung, paru-paru, hati, kulit, pankreas, dan sumsum tulang belakang.
Di Indonesia, yang rutin ialah pencangkokan ginjal dan kornea mata. Kendala utama teknologi transplantasi jantung dan hati di Indonesia biasanya terkait donor.
Jika dilakukan ilegal, di tengah larangan komersialisasi organ dan keharusan kejelasan identitas donor, pencangkokan jadi lebih rumit. Kerumitan dimulai dari soal dokumen identitas donor, kecocokan donor, hingga penyimpanan organ (jika butuh disimpan terlebih dahulu). Pengerjaannya harus oleh tim dokter dan rumah sakit berfasilitas memadai. Risiko kesehatannya besar dan biayanya pun besar—skala ratusan juta hingga miliaran rupiah. Dengan biaya sebesar itu tentu penerima organ tidak mau sembarangan menerima organ donor.
Agar penerima organ bertahan hidup, donor diseleksi ketat. Harus diketahui profil dan kesehatannya, mulai dari usia, ukuran tubuh, screening (virus, jamur dan bakteri), golongan darah, reaksi antigen, hingga antibodi. Si penerima juga dipertimbangkan usia, jenis sakit, dan komplikasi lain yang diderita.
Kesamaan golongan darah saja tidak menjamin kesesuaian dan tingkat kesuksesan. Masih ada faktor kekebalan tubuh, yaitu reaksi tubuh terhadap benda asing. Ini dilihat dari reaksi antigen dan antibodi. Antigen merupakan zat yang dapat merangsang respons kekebalan. Antigen pada organ yang dicangkokkan akan memberikan peringatan kepada tubuh penerima bahwa organ itu merupakan benda asing dan terjadi serangan (penolakan).
Jika tidak cocok, perlu usaha lebih besar dan sulit untuk menentralkan. Human leukocyte antigens (HLA) merupakan antigen yang ikut menentukan peluang keberhasilan pencangkokan. Saudara kembar identik mempunyai HLA sama. Hubungan persaudaraan kandung berpeluang mempunyai kemiripan HLA lebih besar. Oleh karena itu, keluarga biasanya lebih cocok sebagai donor. Sekalipun HLA mirip, sistem kekebalan penerima organ masih harus dikendalikan agar tidak terjadi penolakan. Obat-obatan penekan sistem kekebalan (imunosuppresan) biasanya digunakan.
Untuk transplantasi organ pada bayi lebih kompleks lagi. Organ tubuh bayi yang baru lahir masih berkembang, sementara dibutuhkan kesiapan kondisi tubuh si penerima. Ukuran organ pun harus sesuai. Organ seperti ginjal pada bayi, misalnya, tidak dapat dicangkokkan ke orang dewasa. ”Operasi pencangkokan
disertai terapi dengan berbagai obat-obatan. Bagi bayi yang rentan tentu butuh penanganan khusus,” ujar Ari.
Pengambilan organ tubuh donor tidak bisa sembarangan agar kondisi organ tetap baik. ”Operasi demikian hanya bisa dilakukan di tempat yang ada ruang operasi berfasilitas memadai. Kalau itu dilakukan di rumah sakit, tentu melibatkan dokter dan sejumlah tenaga kesehatan. Sangat sulit dilakukan sendiri oleh dokter,” ujarnya.
Terlebih lagi jika donor dan pasien berada di lokasi berbeda. Organ perlu disimpan dan dipindahkan. Padahal, Ari mengatakan, terdapat ”periode emas”, yakni batas waktu organ masih dalam kondisi baik. Jaringan hidup dapat bertahan 6-8 jam dengan penyimpanan yang baik. Masih tergantung jenis organ dan kondisinya. Transplantasi jantung dan paru-paru, misalnya, harus
segera dilakukan setelah organ diambil karena waktu simpannya pendek. Oleh karena itu, umumnya donor dari korban kecelakaan atau yang mati batang otak (brain dead).
Di Indonesia, aturan transplantasi tertuang dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Pasal 64 menyebutkan, transplantasi organ hanya untuk tujuan kemanusiaan dan dilarang dikomersialkan. Organ dan jaringan tubuh dilarang diperjualbelikan dengan dalih apa pun. Pasal 65 menegaskan transplantasi hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. Pelaksanaannya pun hanya di fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.(AP/www.pjnhk/ http://www.house.gov)

Published in: on 22 January 2010 at 7:03 pm  Leave a Comment  
Tags:

Meramal Kesehatan Jantung (Health)

Meramal Kesehatan Jantung

Kompas – Selasa, 19 Januari
• Kirim
• Kirim via YM
• Cetak
Meramal Kesehatan Jantung
KOMPAS.com – Mungkin Anda sering mendengar kisah tentang orang yang masih muda namun terkena serangan jantung. Lalu Anda bertanya dalam hati, “dapatkah itu terjadi pada saya?”
Dalam kebanyakan kasus, serangan jantung bukan jatah bagi mereka yang masih muda. Namun betapa pun kecilnya kemungkinan terkena serangan jantung, bukan berarti Anda boleh mengabaikannya. Akan mengalami serangan jantung atau tidak, dalam banyak hal Anda sendiri yang menentukan.
Menurut para ahli, ada tiga cara tes sederhana untuk memprediksi kemungkinan kita terkena serangan jantung. Dokter Anda mungkin akan melakukan serangkaian pemeriksaan yang rumit untuk mengetahui kondisi kesehatan jantung Anda. Namun ada tiga cara sederhana yang bisa Anda lakukan sendiri di rumah.
1. Tes tidur
Jawablah pertanyaan ini: Apakah Anda sering mengantuk di siang hari? Bila iya, maka risiko Anda terkena penyakit jantung makin besar. Penelitian yang dimuat dalam Journal of the American Medical Association menyebutkan, waktu tidur yang cukup akan mengurangi risiko penyakit jantung hingga 33 persen.
Saat Anda kurang tidur, tubuh akan melepaskan hormon stres yang bisa menyebabkan pembuluh darah mengerut dan menimbulkan peradangan. Bila Anda sering mengantuk dan lelah di siang hari, bisa jadi kualitas dan kuantitas waktu tidur Anda kurang baik.
2. Tes vitamin D
Rendahnya kadar vitamin D bisa meningkatkan risiko penyakit darah tinggi dan inflamasi pada pembuluh darah. Kadar vitamin D yang cukup pada orang dewasa sekitar 30-40 ng/ml. Untunglah karena tinggal di negara tropis yang kaya akan matahari, risiko kekurangan vitamin D bagi orang Indonesia tak begitu besar.
3. Tes jari
Sel pelapis yang menutup pembuluh darah, termasuk di jari telunjuk, kita terdiri dari lapisan tunggal yang disebut dengan endotel yang berfungsi menghasilkan zat kimia yang memengaruhi fungsi pembuluh darah, misalnya untuk membesar, berkontrasi, mengecil, dan sebagainya. Perubahan pada endotel bisa terlihat bahkan bertahun-tahun sebelum tanda-tanda gangguan jantung muncul.
Karena itu para ahli meyakini kondisi endotel yang prima bisa jadi tolak ukur penyakit jantung dan stroke. Untuk mengujinya, Anda bisa menggetes temperatur jari telunjuk menggunakan detektor suhu dan mengukur tekananan darah dengan manset yang dililitkan di lengan.
Saat manset memompa, aliran darah ke tangan akan berkurang dan suhu jari telunjuk turun. Setelah lima menit, manset dilonggarkan dan aliran darah kembali normal. Makin cepat suhu jari telunjuk naik, makin sehat endotel.
Bila hasil ketiga tes ini menunjukkan Anda berisiko terkena serangan jantung, konsultasikan dengan dokter. Selain itu, Anda juga dapat berusaha mengubah atau mengendalikan risiko ini dengan menjaga tekanan darah, kadar kolesterol, berat badan, dan menghindari rokok.

Published in: on 22 January 2010 at 7:02 pm  Leave a Comment  
Tags: