Banyak Masjid Salah Tentukan Kiblat VIVAnews By Elin Yunita Kristanti – Jumat, 22 Januari * Kirim * Kirim via YM * Cetak [Shalat di masjid Mutia] Shalat di masjid Mutia VIVAnews – Arah kiblat, ke mana umat Islam menghadap saat sembahyang, diduga mengalami pergeseran. Perubahan arah kiblat ini terungkap berdasarkan metode ukur satelit. Akibatnya, banyak masjid salah mementukan arah kiblat. Menteri Agama Suryadharma Ali menyatakan bahwa kesalahan penentuan kiblat yang banyak terjadi di beberapa masjid di Indonesia, pembetulannya tidak harus dengan membongkar bangunan masjid. “Tak harus dibongkar masjidnya, cukup posisi shaf dan arah kiblatnya yang diubah,” kata Suryadharma, seperti dimuat laman Departemen Agama. Kesalahan kiblat antara lain terjadi pada beberapa masjid di Jawa Tengah yang diketahui salah menetapkan arah kiblatnya. Juga di Jakarta. “Memang ada beberapa temuan masjid yang salah kiblat, seperti di Jakarta saja ada beberapa masjid milik instansi pemerintah yang juga salah kiblatnya,” tambah dia. Meski selama ini, salah arah, tambah dia, tidak terlalu mempengaruhi makna dari shalat. “Tapi itu kan tidak jadi permasalahan, karena ketidaktahuan. Yang penting itu niat untuk ibadah kita, arah tidak mengurangi makna dan kekhusyukan shalat,” katanya. Terkait salah kiblat ini, Kementerian Agama akan menurunkan tim untuk mengukur kembali arah kiblat. “Kita akan menurunkan tim Kementerian Agama di masing-masing daerah, juga dibantu ormas-ormas setempat, untuk mengukur kembali arah kiblat itu,” ujarnya.

Banyak Masjid Salah Tentukan Kiblat
VIVAnews
By Elin Yunita Kristanti – Jumat, 22 Januari

* Kirim
* Kirim via YM
* Cetak

[Shalat di masjid Mutia] Shalat di masjid Mutia

VIVAnews – Arah kiblat, ke mana umat Islam menghadap saat sembahyang, diduga mengalami pergeseran. Perubahan arah kiblat ini terungkap berdasarkan metode ukur satelit.

Akibatnya, banyak masjid salah mementukan arah kiblat. Menteri Agama Suryadharma Ali menyatakan bahwa kesalahan penentuan kiblat yang banyak terjadi di beberapa masjid di Indonesia, pembetulannya tidak harus dengan membongkar bangunan masjid.

“Tak harus dibongkar masjidnya, cukup posisi shaf dan arah kiblatnya yang diubah,” kata Suryadharma, seperti dimuat laman Departemen Agama.

Kesalahan kiblat antara lain terjadi pada beberapa masjid di Jawa Tengah yang diketahui salah menetapkan arah kiblatnya. Juga di Jakarta.

“Memang ada beberapa temuan masjid yang salah kiblat, seperti di Jakarta saja ada beberapa masjid milik instansi pemerintah yang juga salah kiblatnya,” tambah dia.

Meski selama ini, salah arah, tambah dia, tidak terlalu mempengaruhi makna dari shalat. “Tapi itu kan tidak jadi permasalahan, karena ketidaktahuan. Yang penting itu niat untuk ibadah kita, arah tidak mengurangi makna dan kekhusyukan shalat,” katanya.

Terkait salah kiblat ini, Kementerian Agama akan menurunkan tim untuk mengukur kembali arah kiblat. “Kita akan menurunkan tim Kementerian Agama di masing-masing daerah, juga dibantu ormas-ormas setempat, untuk mengukur kembali arah kiblat itu,” ujarnya.

Published in: on 22 January 2010 at 8:03 pm  Leave a Comment  
Tags:

Ahli Geologi Entrepreneur: (Calon) Penyelamat Industri Ekstraksi GSDM Indonesia

Bagaimana seharusnya Seorang Geologi berfikir

Andang Bachtiar
Ketua Umum IAGI

Abstrak

Pengembangan sumber daya manusia bidang GSDM (Geologi dan Sumberdaya Mineral) di Indonesia telah berhasil memasok tenaga ahli pengatur (regulator) dan pelaksana tingkat bawah (executor) bagi industri ekstraksi bahan tambang, tapi cenderung gagal dalam menciptakan strata entrepreneur kebumian. Kondisi aktual industri pertambangan yang telah mengalami stagnasi jauh hari sebelum otonomi daerah dijalankan dan minimnya penerapan ilmu geologi dalam perencaaan dan pelaksanaan pembangunan wilayah telah menjadi bukti bahwa pendidikan dan latihan bagi para ahli geologi Indonesia tidak tepat sasaran. Model berpikir lateral, teknik komunikasi alternatif, kemampuan pembuatan portofolio investasi, dan penguasaan ekonomi lingkungan HARUS diberikan dalam pendidikan dan latihan para ahli geologi untuk bisa survive dan sekaligus menggerakkan industri ekstraksi GSDM, terutama di era otonomi daerah sekarang ini. Dalam program eksternalnya, IAGI menekankan pada sosialisasi geologi ke masyarakat umum tentang perlunya komunitas mengetahui dan kalau bisa memahami – menerapkan prinsip-prinsip geologi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk didalam mengekstraksi bahan tambang dan perencanaan/pelaksanaan pembangunan wilayah. Usaha tersebut tidak akan efektif kalau tidak ditunjang oleh contoh praktis dari kiprah/kinerja ahli geologi Indonesia di bidang yang bisa dilihat langsung oleh masyarakat, yaitu bidang “community geology”. Para ahli geologi entrepreneur-lah yang secara potensial bisa menjadi contoh; dan kita sangat kekurangan tipe ahli geologi ini.

Apakah jumlah geoscientist kita sudah mencukupi? Idealnya, untuk tiap US$100MM Mining Gross Domestic Product diperlukan 30 geoscientist (Ong, 1999). Prediksinya: untuk tahun 2000 Indonesia membutuhkan 10.000 geoscientist, berdasarkan asumsi bahwa GDP yang berasal dari industri mineral kita adalah US$ 32.000 MM. Pada saat ini jumlah anggota IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) adalah 2675 orang. Ditambah dengan anggota Perhapi yang diasumsikan 1000 orang, maka jumlah geoscientist aktif Indonesia yang terdaftar di Asosiasi Profesi tidak akan melebihi 4000 orang. Dari pengalaman penyelenggaraan PIT IAGI, pada umumnya 25% dari partisipan adalah geologist non IAGI-member. Dengan demikian, tidak lebih dari 5000 orang geoscientist pada saat ini aktif di Indonesia: separoh dari jumlah ideal yang dituliskan oleh Pak Ong Han Ling di atas. Untuk mencapai kondisi ideal tersebut, nampaknya penambahan geoscientist lulusan baru (+/- 500 orang pertahun dari 10 jurusan kebumian perguruan tinggi di Indonesia) akan dengan mudah diserap. Walaupun demikian, kenyataan membuktikan bahwa banyak geologist lulusan baru kebingungan mencari kerja dibidang geologi dan sumberdaya mineral. Terlalu sedikit rekrutmen terbuka yang dilakukan, dan selain itu, memang pada 2-3 tahun terakhir ini kondisi industri pertambangan Indonesia sedang mengalami kelesuan (Prihatmoko dan Digdowirogo, 2001). Dengan demikian, permasalahan jadi bergeser ke faktor eksternal. Atau, jangan-jangan lesunya kondisi industri ekstraktif bahan tambang kita juga dipengaruhi oleh kurangnya kwantitas dan kwalitas geoscientist kita yang berkecimpung didalamnya???

Analisis praktisi tentang lesunya pertambangan Indonesia jarang sekali mengkaitkan langsung dengan kwantitas & kwalitas sumberdaya manusia kita. Karena relatif baru 40 tahunan kita belajar dari industri pertambangan modern di Indonesia (era KK di Indonesia dimulai akhir 60-an), maka dianggap bahwa sangatlah wajar kalau sumberdaya manusia kita sedang dalam taraf belajar, sehingga tidak perlu ikut di”persalahkan” dalam situasi stagnasi pertambangan saat ini. Hal ini bukanlah merupakan suatu excuse yang tepat. Pendidikan geologi kita di Universitas Hasanuddin ini sudah berumur 25 tahun, bahkan di Indonesia pendidikan tersebut sudah berjalan 50 tahun yang berarti bahwa sudah ada 2 generasi senior geologist yang berkiprah di dunia pergeologian. Sekaranglah saat yang tepat untuk mengevaluasi, sejauh mana kwalitas pendidikan geologi kita telah bisa menjawab tantangan pemberdayaan industri ekstraktif bahan tambang kita, sehingga hasil evaluasinya bisa kita aplikasikan ke pembentukan sumberdaya manusia geologist kita generasi berikutnya.
Marilah kita tinjau statistik anggota IAGI. Dari 2675 anggota IAGI, 49% bekerja sebagai pegawai di industri pertambangan dan perminyakan, 15% bekerja di lembaga penelitian, 12% di Perguruan Tinggi, 11% di lembaga pemerintahan, 1% konsultan lepas, dan 12% lain-lain (non-geologi: IT business, agrobisnis, asuransi, tidak mengisi jenis pekerjaan, dsbnya). Dari angka-angka tersebut terlihat bahwa kita telah berhasil memasok tenaga pelaksana (executor) untuk industri secara mencolok, yaitu hampir separoh dari ahli geologi kita bekerja untuk industri. Selain itu, secara proporsional kita juga telah berhasil memasuki kalangan periset, pengambil keputusan dan pengatur (regulator) di lembaga pemerintahan. Tetapi coba kita perhatikan jumlah konsultan lepas kita: hanya 1%!!! Hanya sedikit ahli geologi kita yang berani mandiri untuk menjadi konsultan lepas. Pengembangan sumberdaya manusia kita telah gagal membentuk minat ahli geologi untuk berani berwiraswasta tanpa tergantung dari status kepegawaian. Tidak banyak entreprenuer yang kita hasilkan. Seharusnya, setelah 2 generasi pergeologian di Indonesia, kita sudah cukup mampu untuk mempunyai ahli geologi wiraswasta untuk bisa menggerakkan industri ekstratif kebumian Indonesia. Apalgi dimasa-masa sulit seperti ini, ketika perusahaan-perusahaan tambang berguguran, dan trend eksplorasi dunia menurun. Meskipun apabila kita asumsikan bahwa 12% lain-lain anggota IAGI adalah termasuk para pebisnis geologi, ternyata kiprah kita tidak begitu signifikan untuk bisa menolong situasi keterpurukan industri ekstraktif kebumian Indonesia.

Selain statistik sumberdaya manusia, kita juga bisa mengevaluasi sejauh mana geologi telah dipakai secara benar dalam eksplorasi dan eksploitasi industri ekstraktif kebumian, dan lebih jauh lagi: sejauh mana dia diterapkan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan wilayah. Tidak ada angka yang bisa kita rujuk, tetapi dari pengalaman industri yang penulis dapatkan selama ini, beberapa fenomena bisa kita ajukan sebagai fakta subjektif:
1. Tidak terlalu banyak ahli geologi Indonesia yang menduduki posisi sebagai pengambil keputusan teknis penting E&P di industri pertambangan multinasional. Kebanyakan posisi tersebut ditempati oleh expatriat. Kita pada umumnya berada pada lapisan tebal bagian bawah yang melaksanakan tugas-tugas E&P.
2. Geologist-geologist terbaik kita cenderung untuk mengambil jalur managerial atau sengaja diarahkan oleh manajemen untuk mengambil posisi-posisi akhir sebagai HRD manager, Public Relation, dan yang sangat populer: Government Liason (penghubung ke pemerintahan).
3. Dalam RTRW, peta geologi seringkali dipakai sebagai pelengkap, yaitu dengan cara mem”blow-up” informasi dari peta skala regional untuk dipaksakan masuk ke peta detail. Usaha pemetaan ulang yang dilakukan hanya sekedar berupa pengecekan setempat untuk kalibrasi. Padahal seharusnya kita juga melakukan pemetaan skala detail untuk pembuatan peta RTRW detail
4. Pelaksanaan pembangunan wilayah (jalan, bangunan, prasarana fisik, dsbnya) seringkali merujuk ke informasi geologi secara basa-basi, yaitu mencantumkan hasil-hasil penelitian terdahulu dan memasukkan informasi-informasi kwalitatif yang sangat tidak berhubungan langsung dengan kebutuhan teknis kwantitatif.

Dari uraian subjektif sekilas diatas, terlihat bahwa ahli geologi kita kurang percaya diri, kurang mampu “menjual diri”, dan kurang kwantitatif. Kesemuanya itu berkaitan dengan kurangnya sifat-sifat entreprenuership dalam diri kita.

Bagaimana kalau kita kaitkan juga kondisi diatas dengan tantangan otonomi daerah yang sekarang ini sedang berlangsung?? Dalam gerak otonomi daerah saat ini, perubahan paling mencolok yang berhubungan langsung dengan profesi ahli geologi (pertambangan) adalah penguasaan dan pengaturan langsung industri pertambangan umum oleh daerah-daerah kabupaten kota. Kesan umum yang terjadi adalah: kita (geologist) tergagap-gagap dan terkaget-kaget dengan besarnya peluang yang dimungkinkan untuk berkiprah langsung di daerah-daerah. Maka berbondong-bondonglah kita, baik secara individu, kelembagaan pemerintah, kumpulan bisnis, perguruan tinggi, lembaga penelitian, maupun mengatas-namakan LSM dan memanfaatkan cap “PAD” (Putra Asli Daerah): datang ke daerah-daerah dan menawarkan diri mengerjakan inventarisasi sumber-daya alam daerah, menata ruang daerah, dan menghitung PAD (Pendapat Asli Daerah) dari migas dan bahan tambangnya. Sementara itu, dari 360-an kabupaten/kota yang berotonomi, kurang dari 20%-nya mempunyai aparat/birokrat yang punya latar-belakang geologi untuk cukup memahami masalah sumberdaya alam kebumian (Bahar, 2001). Akibatnya: terjadilah kesenjangan antara persepsi (penerimaan) dan supply (penawaran), walaupun telah terjadi kecocokan antara demand (kebutuhan) dan supply (penawaran). Produk konsultansi kita pada umumnya tidak bisa dirasakan langsung oleh daerah dalam bentuk peningkatan kesejahteraan yang instant, karena masih ada rangkaian proses eksplorasi dan eksploitasi panjang yang menunggu setelah inventarisasi maupun (apalagi hanya “sekedar”) perencanaan tata ruang. Sementara itu, daerah seringkali maunya berorientasi “quick yielding”, karena kurangnya pemahaman tentang sumberdaya alam kebumiannya tadi. Kalau hal ini terus berlangsung, maka bukan tidak mungkin profesi ahli geologi menjadi tidak populer dan mengalami kebangkrutan image di daerah-daerah.

Dari kacamata industri pertambangan, sebenarnya perubahan yang diakibatkan oleh OTODA hanyalah sebagian kecil dari kumpulan masalah besar yang telah menghambat gerak langkah investasi pertambangan di Indonesia, bahkan jauh hari sebelum pelaksanaan otonomi dimulai (Ness, 2001). Undang-undang pertambangan, perburuhan, kehutanan, perbankan, aturan pajak dan investasi secara nasional adalah faktor-faktor penting yang selama ini telah menghambat gerakan investasi dan produksi pertambangan di Indonesia. Apakah artinya? Regulator kita (Pemerintah & Dewan) kurang mampu bermain untuk bisa menyelaraskan kebutuhan pengembangan industri, keinginan rakyat untuk sejahtera, dan kepentingan pengusaha/pemilik modal. Padahal menurut catatan IAGI, 30% dari anggota IAGI yang bergerak di bidang pertambangan adalah pegawai institusi pemerintah, menduduki peringkat kedua setelah mereka yang bekerja langsung di industri pertambangan. Artinya: cukup banyak regulator pertambangan kita yang mempunyai background geologi. Nampaknya, usaha untuk menyadarkan kalangan pengambil keputusan tentang pentingnya mengintegrasikan pengaturan industri ekstraksi kebumian dengan bidang-bidang terkait (kehutanan, lingkungan, perbankan, keuangan, dsb) belum begitu nampak hasilnya, walaupun sudah banyak para birokrat yang mempunya latar belakang geologi – pertambangan.

Hipotesis perlu diajukan untuk menjawab masalah kurangnya ahli geologi entreprenuer kita. Salah satunya adalah kurang kondusifnya sistim pengembangan sumberdaya manusia geologi (formal di perguruan tinggi maupun non formal di diklat-diklat) untuk pembentukan sikap mental entreprenuership. Beberapa hal yang bisa diajukan untuk jadi pertimbangan dalam pembentukan sikap mental entreprenurship dalam diri ahli geologi kita adalah:

1. Kebiasaan berpikir lateral. Kebanyakan para “pegawai” / birokrat / buruh mempunyai sikap dasar berpikir yang vertikal, seperti juga tentara. Tetapi para scientist dan periset, supaya mereka berhasil, harus mempunyai kebiasaan berpikir lateral: mencari anomali untuk ditindak-lanjuti. Demikian juga seharusnya sikap dasar para ahli geologi. Kita semua pada dasarnya adalah eksplorasionis (pencari sesuatu yang baru). Jadi kalau karena jadi pegawai atau birokrat, terus sikap dasar kegeologian kita lantas berubah jadi vertikal, kita tidak berhak menyebut diri kita eksplorasionis / geologist lagi. Dengan berpikir lateral, ide-ide paling anehpun tentang kemungkinan pencarian sumber-sumber baru mineral dan bahan tambang akan tumbuh dengan subur. Dalam mendidik dan melatih para pegawai yang nantinya bergerak dibidang industri ekstraktif kebumian, kebiasaan seperti ini harus selalu kita tanamkan dan latihkan.
2. Teknik komunikasi alternatif perlu dipunyai oleh para ahli geologi kita untuk bisa meyakinkan kalangan pengambil keputusan maupun -terutama dalam era OTODA ini- masyarakat umum. Seringkali kita bangga menggunakan jargon-jargon bahasa “dewa” untuk menerangkan fenomena geologi yang paling sederhana sekalipun, kepada orang awam. Tentu saja dalam situasi keterpurukan dunia industri ekstraktif Indonesia saat ini, bahasa “dewa” kita tidak akan digubris oleh para stake-holder. Yang penting adalah: apakah hasil akhir kerja kita bisa cepat dinikmati oleh masyarakat. Tetapi kalau dengan bahasa “rakyat” kita bisa meyakinkan masyarakat bahwa proses eksplorasi itu memerlukan tahapan-tahapan, bahwa ada resiko yang terkandung dalam setiap kegiatan eksplorasi, dsnya; maka mudah-mudahan masyarakat kita menjadi lebih mengerti dan mau untuk menerapkan prinsip-prinsip geologi kita dalam kehidupan sehari-hari. Teknik berbicara dengan kalangan LSM (terutama yang berhubungan dengan kelestarian lingkungan) tentunya berbeda dengan teknik menerangkan suatu prospek geologi di forum ilmiah. Menerangkan geologi ke masyarakat pengunjung obyek wisata geologi perlu dilatihkan ke sumberdaya manusia kita. Selain itu, teknik presentasi didepan investor, tentunya tidak perlu membawa-bawa istilah-istilah rumit.
3. Kemampuan membuat portofolio investasi jarang dimiliki oleh para ahli geologi kita, karena sebagian besar yang bekerja di industri terkotak-kotak hanya menjadi “sekrup” yang bekerja di bidang eksplorasi. Hal ini perlu ditekankan, karena pada masa era OTODA ini daerah-daerah akan berlomba-lomba untuk menarik investor, dan bahasa yang paling dimengerti oleh investor adalah portofolio ekonomi investasi.
4. Penguasaan ekonomi lingkungan juga harus dipunyai oleh sumberdaya manusia geologi, karena dijaman global seperti ini peran LSM-LSM lingkungan telah semakin dominan. Neraca sumberdaya alam, biaya lingkungan, kwantifikasi biaya sosial perlu untuk selalu dimasukkan dalam perhitungan setiap prospek geologi. Memang kita bisa menyerahkan tugas-tugas nomer 3 dan 4 diatas kepada ahli spesialisnya, tetapi karena ahl geologilah yang memasok asumsi-asumsi dasarnya (reserve, lifetime, impact, dsbnya), maka mutlak kita harus menguasai kajian ekonomi lingkungan tersebut.

IAGI, sebagai organisasi asosiasi profesi, telah mulai mengkampanyekan geologi ke masyarakat secara intensif lewat satuan tugas khusus OTODA. Fokus kita bukan dibidang pengerjaan proyek-proyek, karena memang IAGI bukan lembaga konsultan. Tetapi IAGI lebih menekankan pada perlunya masyarakat memehami ilmu geologi secara praktis, sehingga mereka tidak akan kaget lagi dengan proses-proses E&P dalam industri ekstraktif bahan kebumian kita, yang dalam era OTODA ini secara langsung mereka hadapi di daerah-daerah.
Usaha IAGI tersebut tidak akan efektif, apabila lembaga-lembaga diklat (dan pendidikan formal) kita tidak secara selaras memodifikasi pendekatan pelatihannya seperti kami usulkan diatas. Kesemuanya itu untuk menciptakan entreprenuer-entreprenuer geologist yang akan menyelamatkan industri ekstraktif kebumian kita.

Jakarta, 11 Desember 2002.

Referensi:

Bahar, Irwan, 2001, “Status Task Force DESDM dalam rangka Otonomi Daerah”, Lunchoen Talk IAGI PIT30 Yogjakarta, September 2001.

Ness, Richard B., 2001, Keynote Speech pada Pertemuan Tahunan Ke-10 PERHAPI, Bandung, September 2001

Ong, H.L, 1999, “Sistem Pendidikan dan Tingkat Kebutuhan Ahli Geologi Indonesia dalam menghadapi Perubahan Pasar”, Panel Diskusi PIT IAGI-28, Jakarta, Nopember 1999.

Prihatmoko, S dan Digdowirogo, S., 2001, “Situasi Industri Pertambangan dan Status Ahli Geologi Pertambangan Indonesia”, Kolokium Pertambangan Balitbang DESDM, Bandung, Nopember 2001.

Published in: on 22 January 2010 at 4:46 pm  Leave a Comment  
Tags:

Mengupas Isu Kiamat 2012

Apa bener Kiamat 2012 ituw akan datang?

Isu tentang Kiamat yang katanya bakal terjadi di tahun 2012 pertama kali kudengar di acara Extravaganza, waktu itu yang menjadi bintang tamu adalah paranormal terkenal Mama Lauren. Pertanyaan yang disampaikan oleh si pembawa acara tentang isu “Kiamat 2012″ yang sedang marak di dunia maya dan bahkan ada bukunya tersebut dijawab Mama Lauren dengan mengatakan bahwa ilmu penerawangan (penglihatannya) tidak bisa menembus tahun 2013, semuanya seperti terhalang dan gelap, bakal terjadi bencana besar yang akan membinasakan separuh lebih umat manusia.

Sebagai seorang muslim kita percaya bahwa kiamat pasti akan terjadi. Kapan terjadinya? Hanya Allah SWT Yang Maha Tahu. Kita hanya tahu lewat tanda-tanda akan datangnya hari Kiamat itu. Pada manuskrip peninggalan suku Maya yang tinggal di selatan Meksiko atau Guatemala yang dikenal menguasai ilmu Falak, disebutkan bahwa kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012. Disebutkan juga pada waktu itu akan muncul gelombang galaksi yang besar-besaran sehingga mengakibatkan terhentinya semua kegiatan di muka Bumi ini.

Kiamat Hanya Ilmu Allah

Ramalan akan adanya kiamat pada 2012 dari suku Maya sebenarnya belum diketahui dasar perhitungannya. Tetapi issu ini sudah menyebar luas lewat media Internet. Sebagai Muslim, saya hanya yakin bahwa Kiamat ada dan PASTI akan datang. Dan waktunya, kita tidak ada yang tahu, apalagi sampai menyebut tanggal.

Tentang waktu, kapan kiamat terjadi, ummat Islam hanya diberi sign, berupa tanda2 datangnya kiamat. Bila tanda-tanda sudah ada, maka hari yang dimaksud memang sudah dekat. Tetapi tepatnya kapan, kembali ke konsep dasar, Ummat Islam tidak ada yang boleh menyebut waktu, baik hari, tanggal, bulan maupun tahun

Tanda-Tanda Kecil, datangnya Kiamat :

Dari Dakwatuna saya dapatkan, bahwa tanda-tanda kiamat kecil terbagi menjadi dua: Pertama, kejadian sudah muncul dan sudah selesai; seperti diutusnya Rasulullah SAW., terbunuhnya Utsman bin ‘Affan, terjadinya fitnah besar antara dua kelompok orang beriman. Kedua, kejadiannya sudah muncul tetapi belum selesai bahkan semakin bertambah; seperti tersia-siakannya amanah, terangkatnya ilmu, merebaknya perzinahan dan pembunuhan, banyaknya wanita dan lain-lain.

Di antara tanda-tanda kiamat kecil adalah :

1. Diutusnya Rasulullah SAW

Jabir r.a. berkata, ”Adalah Rasulullah saw. jika beliau khutbah memerah matanya, suaranya keras, dan penuh dengan semangat seperti panglima perang, beliau bersabda, ‘(Hati-hatilah) dengan pagi dan sore kalian.’ Beliau melanjutkan, ‘Aku diutus dan hari Kiamat seperti ini.’ Rasulullah saw. mengibaratkan seperti dua jarinya antara telunjuk dan jari tengah. (HR Muslim)

2. Disia-siakannya amanat

Jabir r.a. berkata, tatkala Nabi saw. berada dalam suatu majelis sedang berbicara dengan sahabat, maka datanglah orang Arab Badui dan berkata, “Kapan terjadi Kiamat ?” Rasulullah saw. terus melanjutkan pembicaraannya. Sebagian sahabat berkata, “Rasulullah saw. mendengar apa yang ditanyakan tetapi tidak menyukai apa yang ditanyakannya.” Berkata sebagian yang lain, “Rasul saw. tidak mendengar.” Setelah Rasulullah saw. menyelesaikan perkataannya, beliau bertanya, “Mana yang bertanya tentang Kiamat?” Berkata lelaki Badui itu, ”Saya, wahai Rasulullah saw.” Rasulullah saw. Berkata, “Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah kiamat.” Bertanya, “Bagaimana menyia-nyiakannya?” Rasulullah saw. Menjawab, “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat.” (HR Bukhari)

3. Penggembala menjadi kaya

Rasulullah saw. ditanya oleh Jibril tentang tanda-tanda kiamat, lalu beliau menjawab, “Seorang budak melahirkan majikannya, dan engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang, dan miskin, penggembala binatang berlomba-lomba saling tinggi dalam bangunan.” (HR Muslim)

4. Sungai Efrat berubah menjadi emas

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat sampai Sungai Eufrat menghasilkan gunung emas, manusia berebutan tentangnya. Dan setiap seratus 100 terbunuh 99 orang. Dan setiap orang dari mereka berkata, ”Barangkali akulah yang selamat.” (Muttafaqun ‘alaihi)

5. Baitul Maqdis dikuasai umat Islam

”Ada enam dari tanda-tanda kiamat: kematianku (Rasulullah saw.), dibukanya Baitul Maqdis, seorang lelaki diberi 1000 dinar, tapi dia membencinya, fitnah yang panasnya masuk pada setiap rumah muslim, kematian menjemput manusia seperti kematian pada kambing dan khianatnya bangsa Romawi, sampai 80 poin, dan setiap poin 12.000.” (HR Ahmad dan At-Tabrani dari Muadz).

6. Banyak terjadi pembunuhan

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tiada akan terjadi kiamat, sehingga banyak terjadi haraj.. Sahabat bertanya apa itu haraj, ya Rasulullah?” Rasulullah saw. Menjawab, “Haraj adalah pembunuhan, pembunuhan.” (HR Muslim)

7. Munculnya kaum Khawarij

Dari Ali ra. berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Akan keluar di akhir zaman kelompok orang yang masih muda, bodoh, mereka mengatakan sesuatu dari firman Allah. Keimanan mereka hanya sampai di tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya. Di mana saja kamu jumpai, maka bunuhlah mereka. Siapa yang membunuhnya akan mendapat pahala di hari Kiamat.” (HR Bukhari).

8. Banyak polisi dan pembela kezhaliman

“Di akhir zaman banyak polisi di pagi hari melakukan sesuatu yang dimurkai Allah, dan di sore hari melakukan sesutu yang dibenci Allah. Hati-hatilah engkau jangan sampai menjadi teman mereka.” (HR At-Tabrani)

9. Perang antara Yahudi dan Umat Islam

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat sehingga kaum muslimin berperang dengan yahudi. Maka kaum muslimin membunuh mereka sampai ada seorang yahudi bersembunyi di belakang batu-batuan dan pohon-pohonan. Dan berkatalah batu dan pohon, ‘Wahai muslim, wahai hamba Allah, ini yahudi di belakangku, kemari dan bunuhlah ia.’ Kecuali pohon Gharqad karena ia adalah pohon Yahudi.” (HR Muslim)

10. Dominannya Fitnah

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat, sampai dominannya fitnah, banyaknya dusta dan berdekatannya pasar.” (HR Ahmad).

11. Sedikitnya ilmu

12. Merebaknya perzinahan

13. Banyaknya kaum wanita

Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda. “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah ilmu diangkat, banyaknya kebodohan, banyaknya perzinahan, banyaknya orang yang minum khamr, sedikit kaum lelaki dan banyak kaum wanita, sampai pada 50 wanita hanya ada satu lelaki.” (HR Bukhari)

14. Bermewah-mewah dalam membangun masjid

Dari Anas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Diantara tanda kiamat adalah bahwa manusia saling membanggakan dalam keindahan masjid.” (HR Ahmad, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban)

15. Menyebarnya riba dan harta haram

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Akan datang pada manusia suatu waktu, setiap orang tanpa kecuali akan makan riba, orang yang tidak makan langsung, pasti terkena debu-debunya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi)

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Akan datang pada manusia suatu saat di mana seseorang tidak peduli dari mana hartanya didapat, apakah dari yang halal atau yang haram.” (HR Ahmad dan Bukhari)

16. Menggembungnya bulan

Rasulullah saw bersabda: ” di antara sudah mendekatnya kiamat ialah menggembungnya bulan sabit(awal bulan) ” dishahihkan� AlBaani di Ash Shahihah nomor 2292 dalam riwayat yang lain dikatakan “di antara sudah dekatnya hari kiamat ialah bahwa orang akan melihat bulan sabit seperti sebelumnya, maka orang akan mengatakan satu bentuk darinya untuk dua malam dan masjid akan dijadikan tempat untuk jalan jalan serta meluasnya mati mendadak” (Ash Shahiihah AlBani 2292).

Tanda-Tanda besar, datangnya Kiamat:

Sedangkan tanda-tanda kiamat besar yaitu kejadian sangat besar dimana kiamat sudah sangat dekat dan mayoritasnya belum muncul, seperti munculnya Imam Mahdi, Nabi Isa, Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj.

Ayat-ayat dan hadits yang menyebutkan tanda-tanda kiamat besar di antaranya:

Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata, “Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” Dzulqarnain berkata, “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (Al-Kahfi: 82)

“Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (An-Naml: 82)

Dari Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari ra, berkata: Rasulullah saw. muncul di tengah-tengah kami pada saat kami saling mengingat-ingat. Rasulullah saw. bertanya, “Apa yang sedang kamu ingat-ingat?” Sahabat menjawab, “Kami mengingat hari kiamat.” Rasulullah saw. bersabda,”Kiamat tidak akan terjadi sebelum engkau melihat 10 tandanya.” Kemudian Rasulullah saw. menyebutkan: Dukhan (kabut asap), Dajjaal, binatang (pandai bicara), matahari terbit dari barat, turunnya Isa as. Ya’juj Ma’juj dan tiga gerhana, gerhana di timur, barat dan Jazirah Arab dan terakhir api yang keluar dari Yaman mengantar manusia ke Mahsyar. (HR Muslim)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Hari tidak akan berakhir, dan tahun belum akan pergi sehingga bangsa Arab dipimpin oleh seorang dari keluargaku, namanya sama dengan namaku.” (HR Ahmad)

Perbedaan antara tanda-tanda kiamat kecil dan kiamat besar adalah :

1. Tanda-tanda kiamat kecil secara umum datang lebih dahulu dari tanda-tanda kiamat besar.
2. Tanda-tanda kiamat kecil sebagiannya sudah terjadi, sebagiannya sedang terjadi dan sebagiannya akan terjadi. Sedangkan tanda-tanda kiamat besar belum terjadi.
3. Tanda kiamat kecil bersifat biasa dan tanda kiamat besar bersifat luar biasa.
4. Tanda kiamat kecil berupa peringatan agar manusia sadar dan bertaubat. Sedangkan kiamat besar jika sudah datang, maka tertutup pintu taubat.
5. Tanda-tanda kiamat besar jika muncul satu tanda, maka akan diikuti tanda-tanda yang lainnya. Dan yang pertama muncul adalah terbitnya matahari dari Barat.

Lalu apa sebenarnya Kiamat tahun 2012..?

Kiamat 2012 adalah terjadinya Badai Matahari:

Menurut Pak Bambang S Tedjasukmana dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), bahwa fenomena yang akan muncul pada sekitar tahun 2011-2012 adalah badai Matahari. Prediksi ini berdasar pada pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di berbagai negara maju yang sudah dilakukan sejak tahun 1960-an dan Indonesia oleh LAPAN telah dilakukan sejak tahun 1975.

Badai Matahari = Flare dan CME

Masih menurut ahli lain dari LAPAN, bahwa badai Matahari akan terjadi ketika adanya flare dan Corona Mass Ejection (CME). Apa itu Flare..? Flare adalah ledakan besar di atmosfer Matahari yang dahsyatnya menyamai 66 juta kali ledakan bom atom Hiroshima. Padahal bom atom yang dijatuhkan Paul Tibbets, pilot pesawat Amerika Serikat (AS), B-29 Enola Gay, Agustus 1945, telah merenggut sekitar 80.000 jiwa manusia. Berarti kalau dikalikan 66 juta lagi, wouw…!

Sedang CME adalah sejenis ledakan sangat besar yang menyebabkan lontaran partikel2 berkecepatan tinggi yakni sekitar 400 km/detik. wouw…

Gangguan cuaca Matahari ini dapat mempengaruhi kondisi muatan antariksa hingga mempengaruhi magnet Bumi, selanjutnya berdampak pada sistem kelistrikan, transportasi yang mengandalkan satelit navigasi global positioning system (GPS), dan sistem komunikasi yang menggunakan satelit komunikasi dan gelombang frekuensi tinggi (HF), serta dapat membahayakan kesehatan atau kehidupan manusia, misal karena magnet Bumi terganggu, maka alat pacu jantung juga akan terganggu.

Persiapan menuju Kiamat 2012 itu…:
Dikatakan para ahli bahwa dari Matahari, milyaran partikel alektron sampai ke lapisan ionosfer Bumi dalam waktu empat hari, Dampak dari serbuan dari partikel elektron ini di kutub berlangsung beberapa hari. Selama itu, bisa dilakukan langkah-langkah antisipasi untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan.

Mengantisipasi munculnya badai antariksa itu, LAPAN tengah membangun Pusat Sistem Pemantau Cuaca Antariksa Terpadu di pusat Pemanfaatan Sains Antariksa LAPAN Bandung. Objek yang dipantau antara lain lapisan Ionosfer dan geomagnetik, serta gelombang radio. Sistem ini akan beroperasi penuh pada Januari 2009 mendatang.

Langkah antisipasi LAPAN yang telah dilakukan adalah menghubungi pihak-pihak yang mungkin akan terkena dampak dari muncul badai antariksa ini, yakni Dephankam, TNI,Dephub, PLN, dan Depkominfo, serta Pemda.

Saat ini pelatihan bagi aparat pemda yang mengoperasikan radio HF telah dilakukan sejak lama, kini telah ada sekitar 500 orang yang terlatih menghadapi gangguan sinyal radio. PLN harus melakukan sosialisasi ke masyarakat akan adanya pemutusan berkala demi mengurangi dampak badai antariksa ini.

Penerbangan dan pelayaran yang mengandalkan GPS sebagai sistem navigasihendaknya menggunakan sistem manual ketika badai antariksa terjadi dalam memandu tinggal landas atau pendaratan pesawat terbang.

Perubahan densitas elektron akibat cuaca antariksa dapat mengubah kecepatan gelombang radio ketika melewati ionosfer sehingga menimbulkan delay propagasi pada sinyal GPS. Perubahan ini mengakibatkan penyimpangan pada penentuan jarak dan posisi. Selain itu, komponen mikroelektronika pada satelit navigasi dan komunikasi akan mengalami kerusakan sehingga mengalami percepatan masa pakai, sehingga bisa tidak berfungsi lagi.

Saat ini LAPAN telah mengembangkan pemodelan perencanaan penggunaan frekuensi untuk menghadapi gangguan badai matahari tinggi untuk komunikasi radio HF.

Kut. Red

Published in: on 22 January 2010 at 4:10 pm  Leave a Comment  
Tags:

Cybersmut dan Cybersex: Digitalisasi Syahwat, Robotisasi Tubuh

Sigit Djatmiko
Peminat Kebudayaan
Anggota Redaksi sudut.or.id
Email : sigitdj@indonet.com
Anda dapat menemuinya di Portal Kebudayaan dan Tafsir

Ana titir jroning rasa
tengara retu kang wis nyasmitani
mring ragaku mring ragamu:
bakal teka wisana
ing resmining saresmi karobah eluh
lan bakal sirna samsara
luluh ing asih lan pati [1]
Dalam lirik di atas, yang digubah dengan indahnya oleh Goenawan Mohamad, narasi mengenai seks telah melepaskan diri dari sekedar representasi aktivitas jasmani. Seks telah mengalami sublimasi dan lantas menjadi simbolisasi yang menggetarkan tentang maut: pesona senggama yang berjalin-berkelindan dengan bayang-bayang kematian. Aktivitas seksual, dalam konteks itu, dengan demikian hanya dimaksudkan sebagai penanda, metafora, atau pasemon atas pokok persoalan lain lagi, yang barangkali bisa terkesan tak saling bersangkut-paut,[2] ialah sesuatu yang immaterial, mistis, spiritual dan filosofis; perlambang yang menggaungkan kembali misteri penciptaan dan tujuan akhir eksistensi manusia. Pembacaan atas teks simbolis demikian itu, kendatipun berbicara tentang seks, sudah barang tentu mustahil memprovokasi dorongan syahwat pembacanya, melainkan justru akan merangsang kuriositas, perenungan, pengetahuan, kepuasan estetis, dan sikap-sikap asketis, yang oleh sejumlah filsuf seperti Plato, Epikurus, atau Agustinus — untuk menyebut beberapa nama — bahkan dianggap bertolak-belakang dengan hasrat-hasrat jasmani.[3] Pada tataran ini, pemaknaan atas seks lantas menjadi persoalan yang samasekali tidak sederhana.
Dalam khasanah kepustakaan klasik, memang ada beberapa kitab yang menampilkan hubungan seks, kemanunggalan antara lingga dan yoni, sebagai simbolisasi mistik seperti lirik tembang di atas, semisal kitab Gatoloco, Centhini, Prem Sagar dan Gita Govinda. Bisa dicatat pula sejumlah kitab yang memang bertujuan mengetengahkan seks pada dirinya sendiri, namun tidak dalam konteks memprovokasi fantasi erotis, melainkan dalam kerangka penyusunan suatu doktrin atau filsafat mengenai seks, seperti kitab Kamasutra, Asmaragama, dan Ars Amatoria. Sementara itu, dalam khasanah sastra beberapa novel pernah dituding melanggar kesusilaan pada zamannya, seperti Madame Bovary karya Gustave Flaubert, Ulysses dari James Joyce, atau Lady Chatterley’s Lover karangan DH Lawrence. Roman Belenggu karya Armijn Pane yang terbit pada tahun 1940-an pun pernah dianggap kurang senonoh pada masa itu, hanya karena mengisahkan bahwa pasien perempuan dokter Sukartono tersingkap kainnya sehingga terlihatlah pahanya.[4] Tetapi bagaimanapun juga, sejumlah kitab dan karya sastra itu sudah amat jauh dari kesan cabul di mata pembaca zaman sekarang yang mengonsumsi teks, gambar, film, serta kenyataan-kenyataan lain yang jauh lebih ekstrem dan edan.
Dibandingkan dengan pelbagai karya di atas, seksualitas akan tampil dalam wajahnya yang amat jauh berbeda jika kita membaca, umpamanya, novel-novel underground karangan Enny Arrow [5] yang memang begitu vulgar dan mengekspos segala kebanalan seks secara terang-terangan. Penulisan novel stensilan ini tentunya memang dimaksudkan untuk menggugah syahwat pembacanya, dan sudah barang tentu tidak bertujuan menyimbolisasikan apa-apa selain menyuguhkan fantasi aktivitas seksual yang badaniah itu sendiri, kendatipun fakta bahwa teks-teks demikian itu ada dan beredar secara sembunyi-sembunyi di tengah masyarakat mungkin bisa menyiratkan kenyataan tertentu di luar teks, semacam berlangsungnya represi moral yang terlampau berlebihan atas kehidupan seksual masyarakat, adanya kemunafikan sosial yang terpendam, serta pelecehan diam-diam atas nilai-nilai yang berlaku.
Dan zaman memang terus berubah. Representasi seksualitas serta pornografi dalam lanskap sosial pun mengalami transformasi yang signifikan. Pada awal era 1980-an banyak remaja yang barangkali sudah dibikin cukup terperangah oleh novel-novel subversif karangan Enny Arrow atau serial Nick Carter.[6] Namun, sejalan dengan perkembangan teknologi audio-visual, dominasi teks mesum itu dalam kancah pornografi lantas tersisihkan oleh membanjirnya kaset-kaset video porno, yang kemudian diikuti oleh VCD porno yang popularitasnya masih bertahan hingga sekarang dan begitu mudah diperoleh di tempat-tempat penyewaan VCD, baik di kota besar maupun dusun-dusun pinggiran,[7] dengan sejumlah kategori dari yang biasa-biasa saja hingga yang terasa menjijikkan, dari yang hardcore hingga softcore, dari perilaku seksual yang dianggap “normal” hingga yang “menyimpang”. Bahkan VCD porno versi Indonesia dengan para pemain pribumi rupanya juga telah diproduksi secara massal dan beredar luas. Yang cukup popular di antaranya berlabel “Anak Ingusan” dan “Kok Loyo?”. Tertangkapnya para aktor dan aktris porno lokal itu oleh pihak kepolisian menjadi berita hangat di media massa akhir-akhir ini, dan justru kian menghasut rasa penasaran orang untuk menonton rekaman adegan syur yang mereka lakukan.
Kendati demikian, kehadiran media audio-visual mesum ternyata tak menghapus samasekali keberadaan pornografi dalam bentuk teks, meskipun media penyebaran teks yang tak senonoh itu telah mengalami perubahan yang sungguh revolusioner. Pornografi tekstual yang semula beredar melalui media cetakan secara terbatas dan bergerilya kini membanjiri kita tanpa hambatan melalui jaringan internet, dalam bentuk kisah-kisah cabul yang diedarkan melalui mailing-list maupun yang tersedia di situs-situs porno sehingga siap dibaca atau di-download oleh siapapun, dan yang tentu saja berjalan seiring dengan peredaran rekaman video, foto-foto dan kartun porno yang tak terbilang jumlahnya di dunia cyber yang begitu mudahnya diakses oleh para netters dari seluruh pelosok bumi. Teknologi internet telah menyediakan kemudahan luar biasa untuk menyebarluaskan apapun, termasuk pornografi, yang dikarenakan medium penyebarannya lantas popular dengan sebutan cyberporn, digital porn, atau cybersmut.[8] “Electronic, computer-mediated, and post-biological systems are now a fundamental part of our daily sex life and are playing a significant role in the transformation and globalization of cyberculture.” [9] “And with every new digital innovation, porn is being reshaped, transformed into something that … in many ways represents a far more significant break with the past.” [10]
Terminal pornografi di dunia maya tentu saja adalah situs-situs porno. Para netters Indonesia tentunya sudah tak asing lagi dengan situs-situs lokal favorit yang menyuguhkan segala jurus pornografi semacam “Pondokputri”, “17tahun.com”, “Ceweqmatre”, “Kramat Tunggak” dan sebagainya, ataupun pelbagai mailing-list porno semacam “Genjotan Asia”, “Bursasex”, atau “Cerita-cerita Seru” yang uniknya memakai slogan yang dengan cerdasnya memelesetkan motto majalah Tempo: “Enak di-Klik tur Saru.”.
Bagaimanapun juga, cybersmut pada hakikatnya adalah pornografi sebagai komoditas, yang di-upload ke jaringan internet sehingga menjangkau konsumen seluas-luasnya, dan memberikan kemungkinan lebih besar untuk menangguk laba bagi mereka yang telah menginvestasikan kapital ke dalam “bisnis fantasi erotis” itu. Menurut Paul Ham, penerbit majalah e-business http://www.businessgene.com dalam sebuah tulisan di Sydney Morning Herald, akses terhadap situs-situs porno sedemikian besar sehingga menghasilkan nilai omset setara dengan 1,3 miliar dolar Australia setahunnya.[11] Dengan demikian, motif yang ada di balik fenomena cyberporn sebetulnya cukup klasik, ialah logika kapitalisme yang tak lain adalah akumulasi modal, kendatipun pemanfaatan internet sebagai medium diseminasi komoditas mesum itu bisa menimbulkan kejutan yang samasekali tidak klasik dan mungkin belum pernah terjadi sebelumnya, terutama dikarenakan sifat internet yang sangat aksesibel dan tak mempan sensor. [12]
Sebagaimana dilaporkan majalah Fortune [13], perilaku kecanduan terhadap seks kini telah dengan parahnya menjangkiti para eksekutif perusahaan sehingga menimbulkan ancaman serius terhadap kelancaran dunia bisnis dan kinerja perusahaan-perusahaan terkemuka. Salah satu biang keladinya yang terpenting tentu saja adalah internet, yang menyediakan kemungkinan dan dorongan untuk memanjakan dan meliberalisasikan hasrat seksual manusia — sebuah kenyataan paradoksikal karena di lain sisi internet adalah teknologi garda-depan yang diharapkan sebagai jalan tol yang mampu mendongkrak lancarnya kegiatan bisnis mutakhir dan mempercepat akumulasi kapital: Then, of course, there is the Internet, which brings porn right into your study or office. It’s free. It’s convenient. You probably won’t get caught (which is important, since fear is a powerful impulse control for a lot of people). You definitely won’t get AIDS. Want to see? Just close your office door and, for starters, type in Persian Kitty… [14]

Berikut ini cuplikan kisah dan pengakuan dari seorang pecandu seks yang telah menghabiskan waktunya untuk menjelajah situs-situs porno, menyalurkan energinya ke dalam fantasi dan masturbasi, sehingga nyaris memporak-porandakan karirnya:
A 42-year-old television producer in the Dallas area says he nearly sabotaged his career three years ago when he began using the Internet. Until then he’d mostly buy girlie magazines, throw them away, and see how long he could go (usually two weeks) before buying more. But when he began to surf porn sites on the Web, it consumed him. Before long he found that instead of working on his documentaries, he was locking the door of his home office (so his wife wouldn’t catch him) and spending seven hours of his ten-hour workday downloading porn and compulsively masturbating. “My work was getting very, very stacked up. I lost prestigious jobs because of it,” he says. “It was to the point of paralyzing my business.” He is now in recovery with Sex Addicts Anonymous. [15]
Seksualitas dan pornografi agaknya adalah tema yang bakal semakin mengharu-biru kehidupan kontemporer kita yang ditengarai oleh hadirnya jalan tol informasi. Barangkali benar apa yang pernah diungkapkan Henry Bergson bahwa “Daya tarik seks adalah topik utama peradaban kita”; dan Malcolm Muggeridge: “Orgasme telah menggantikan Salib sebagai pusat kerinduan dan citra pemenuhan.” [16] Tak beda dengan gejala-gejala kultural lainnya, pornografi kontemporer adalah salah satu pengejawantahan dari pertarungan terus-menerus antara apa yang diistilahkan Sigmund Freud sebagai Eros dan Thanatos, Naluri Kehidupan dan Naluri Kematian, Prinsip Kesenangan dan Prinsip Kenyataan — dorongan-dorongan fundamental dalam psike manusia yang lantas dengan cerdasnya ditangkap, dikendalikan, dan dimanfaatkan oleh para penggembira ekonomi pasar, dengan didukung oleh teknologi digital dan diberi landasan nilai-nilai oleh para cyber-philosophers dan cyber-religionists. Masyarakat (kapitalisme) global, menurut Jean Baudrillard dalam Simulations, adalah sebuah masyarakat yang di dalamnya segala sesuatu berkembang menuju titik yang melampaui (beyond), menuju titik hyper, [17] sehingga seksualitas pun berkembang menuju hypersexuality, menuju penghancuran diri dan strategi fatal. Kapitalisme kontemporer, ekonomi rasional yang tengah melakukan eksodus menuju ekonomi mimpi, ketidakwarasan, dan histeria massa: Such worlds of fascination, bright lights, electric sound, and dazzling night-life were almost tailor-made to bring forth the newly diagnosed disorder of mass hysteria. [18]

Yang saya temukan … adalah sebuah subkultur terbesar yang pernah terekam dalam sejarah, sebuah negeri elektronik maya. Terdiri atas komunitas swadaya, dunia bayangan ini tak memiliki ruang, tak tercatat dalam sensus, namun dihuni oleh orang dari seluruh penjuru dunia. Setiap hari jutaan orang pulang dari sekolah atau tempat kerja, menyalakan komputer mereka, dan berduyun-duyun menghilang ke dalam realitas lain. [19]
Perhaps we’ll recognize each other, and perhaps not. But whatever body you choose, and whatever subject position you have managed to occupy, we will meet again in that space. So I’ll see you in cyberspace. Work there, play there, love there, but if you have sex there, be sure to use a modem.[20]
If when we are in cybersex we are leaving the classical earthly bodily sexual feeling for one another, it is not in order to dematerialize our desire but to inhabit a new corporeality that is almost totally artificial, bionic, and prosthetic. [21]
Internet bukanlah sekedar peranti biasa. Sebagai temuan teknologi mutakhir, jaringan komunikasi global itu telah menciptakan sebuah negeri surealis, tanah antah-berantah, republik imajiner dengan nilai-nilai dan hukum-hukumnya sendiri, sebuah ruang maya yang terlepas dari kenyataan fisik, yang tak tercerap oleh pancaindera namun bisa dialami. Internet telah meleburkan sekat antara fakta dan fantasi, membobol dinding pembatas antara realitas dan imajinasi.
Dalam kata-kata John Perry Barlow — sang rasul dunia maya — dalam hujatannya terhadap pemerintah AS yang berniat memberlakukan The Telecom “Reform” Act of 1996, cyberspace adalah “sebuah dunia yang ada di mana-mana sekaligus tak ada di mana-mana, dan bukan tempat di mana jasad-jasad berada” [22]. Dan dalam hujatan yang lantas ia sebut “Deklarasi Kemerdekaan Dunia Maya” itu, Barlow menegaskan :
“Pemerintah-pemerintah Dunia Industri, kalian raksasa-raksasa daging dan baja yang payah, aku datang dari Dunia Maya, rumah baru bagi Ruh. Atas nama masa depan, kuminta kalian dari masa silam meninggalkan kami sendirian. Kehadiran kalian tak kami kehendaki. Kalian tak punya kedaulatan di tempat kami berkumpul. Kami tak memiliki pemerintahan hasil pemilu, tak pula kami menginginkannya … Kunyatakan bahwa ruang sosial global yang tengah kami bangun sepenuhnya bebas dari tirani yang kalian coba timpakan pada kami. Kalian tak punya hak moral untuk memerintah kami dan tak pula kalian memiliki metode pemaksaan tertentu yang perlu kami cemaskan. … Konsep hukum kalian tentang hak milik, pengungkapan pendapat, identitas, gerakan, dan konteks tidak berlaku bagi kami. Konsep-konsep itu didasarkan pada materi. Dan tak ada materi di dunia kami. Identitas kami tiada berjasad, sehingga, berbeda dengan kalian, kami tak bisa diperintah berdasarkan paksaan fisik. … Kami hendak membangun peradaban Ruh di Dunia Maya. Semoga dunia ini lebih manusiawi dan adil daripada dunia sebelumnya yang telah dibangun oleh pemerintah kalian.” [23]
Sebagaimana yang terjadi dalam dunia sehari-hari, dan sebagaimana makhluk hidup dalam dunia nyata di mana seks merupakan salah satu topik dan aktivitas sentral kehidupan, manusia-manusia yang bermigrasi dan menghuni republik maya — para avatar atau cyborg — pun berupaya menerjemahkan syahwat mereka ke dalam ruang-lingkup baru, negeri imajiner itu: seks tanpa melalui kontak tubuh, hubungan kelamin di mana gejolak birahi, ereksi, dan penetrasi disalurkan melalui kata-kata di layar kaca, percintaan tanpa kepastian identitas antara “aku” dan “dia”, mode kanalisasi libido kontemporer, senggama dunia ilusi, technosex, cybersex!
Menurut Robin Hamman [24] dalam risetnya mengenai cybersex yang berlangsung di ruang-ruang ngobrol (chat-rooms) America Online, terdapat dua jenis cybersex: (1) computer mediated interactive masturbation in real time, (2) computer mediated telling of interactive sexual stories (in real time) with the intent of arousal. Ringkasnya, chatting yang bertujuan membangkitkan rangsangan seksual sehingga mencapai kepuasan dengan cara masturbasi. Pada jenis pertama, para pelaku saling mengetikkan instruksi dan deskripsi dengan satu tangan dan bermasturbasi dengan tangan lainnya. Pada jenis kedua, para pelaku saling berbagi kisah erotis sehingga membangkitkan syahwat mereka sendiri maupun para users lainnya. Banyak kegiatan demikian itu yang kemudian berlanjut ke “hubungan seks” melalui telepon (phone-sex) atau bahkan, bila saling cocok, ke hubungan seks 3-dimensi alias persetubuhan di dunia nyata.
Tetapi, berdasarkan sejumlah pertimbangan, seks 3-D tidak selalu menjadi pilihan yang tepat. Seks 2-D lebih disukai justru karena kegiatan itu lebih aman dan mengasyikkan, dalam arti para pelakunya bisa menyembunyikan identitas-diri di balik anonimitas komputer sehingga privacy lebih terjaga dan terbebas dari rasa malu, bisa bereksperimen dengan berbagai macam jati-diri dan pencitraan-diri, bebas berganti-ganti pasangan, bisa merakit idealisasi dan fantasinya sendiri mengenai raut tubuh pasangannya, terhindar dari ancaman penyakit kelamin, dan sebagainya. “Cybersex is better than porn because it’s free, it’s there 24 hours a day, 7 days a week, and it’s interactive, with a real person on the other hand. Plus it’s a lot safer than a one-night stand in today’s world of AIDS.” [25] Daya tarik cybersex yang aman inilah yang kemudian ditangkap sebagai peluang oleh industri-industri pornografi terkemuka untuk memproduksi berbagai aksesoris — yang disebut oleh Howard Rheingold sebagai teledildonics — yang konon mampu meningkatkan kenikmatan dalam cybersex seakan-akan semuanya terjadi dalam kenyataan. [26]

BeriKuT ini ringkasan pengalaman dari tiga responden dalam penelitian Robin Hamman: [27]
*** Bagi Rebecca real sex memang jauh lebih indah dan memuaskan ketimbang cybersex, namun toh cybersex tetap lebih menyenangkan ketimbang bermasturbasi sendirian, karena cybersex bersifat interaktif, resiprokal, sehingga dengan cybersex ia bisa mencapai orgasme lebih cepat. Dikarenakan keyakinan-keyakinan moralnya, dan karena ia KhAwAtir terjangkit virus HIV, real sex bukanlah pilihan yang tepat baginya. Cybersex-lah alternatif yang aman dan nyaman. Cybersex memungkinkan dia bereksperimen dengan aktivitas-aktivitas seksual yang baru, yang tak bisa dia lakukan dalam kehidupan nyata; memungkinkan dia untuk mengeksplorasi dan merasa nyaman dengan tubuh dan seksualitasnya sendiri, yang tak pernah ia rasakan sebelum ia melakukan cybersex. Bagi Rebecca, medium komputer telah memBuKaKan ruang bagi penemuan-diri dan transformasi-diri.
*** Alison adalah seorang janda setengah baya yang telah bercerai sepuluh tahun silam. Selama menjanda, Alison seakan telah kehilangan diri-seksualnya. Ia tak pernah berkencan dan tak pernah melakukan hubungan intim dengan siapapun. Kendati ia sangat menyayangi anak-anaknya, ia tak percaya bahwa ia akan pernah jatuh cinta lagi pada seorang pria. Namun kemudian ia bertemu dengan REx yang sama kuatnya sekiranya itu terjadi di dunia nyata. Ia rasakan hubungannya dengan Rex sebagai sesuatu yang “spiritual”; ia merasa sangat dekat, aman dan terlindung. Mereka berdua pun melakukan cybersex, dan apa yang dirasakan Alison sesudahnya adalah rasa letih penuh kepuasan — kepuasan yang serupa dengan yang ia peroleh dalam hubungan intim di dunia nyata. Medium komputer telah kembali diri-seksualnya. Akan tetapi, selama ia jatuh cinta kepada Rex, batas antara diri-online dan diri-offline menjadi kabur baginya. Ia mengharapkan hubungan itu berlanjut ke dunia nyata. Namun Rex menolak untuk memindah romantika mereka dari layar komputer ke layar kehidupan nyata, menolak bertemu Alison dalam perjumpaan tatap-muka. Yang kemudian terjadi adalah patah-hati di dUnIa dunia nyata. Alison pun menjadi sadar bahwa hubungan online seringkali tak mampu menembus batas antara yang maya dan yang nyata.
*** Rob melakukan cybersex dengan niat main-main. Di ruang maya, ia kerap mengaku sebagai wanita dan berhubungan intim dengan para pria, dan hanya sesaat sebelum pasangan prianya itu mencapai orgasme, tiba-tiba Rob mengaku bahwa dirinya pria juga, sehingga pasangAnNyA akan merasa sangat terguncang, malu, dan tertipu. Tindakan Rob ini bisa menimbulkan efek yang berjangka panjang kepada para korbannya. Mereka bisa kehilangan kepercayaan kepada orang lain yang tak betul-betul mereka kenal dan merasa tak nyaman dengan aktivitas seksualnya sendiri. Rob juga kerap melakukan cybersex dengan para wanita, menyimpan transkrip “percakapan” mereka dalam bentuk file, dan mengirimkannya ke banyak orang yang nama keluarganya (surname) sama dengan si wanita atau yang kota asalnya sama dengan si wanita. Rob kadang dihadiahi foto telanjang dari para wanita pasangan mainnya, dan ia segera mengirimkannya kepada keluarga si wanita atau banyak orang lain. Para korban tindakan Rob bisa kehilangan privacy seksual mereka. Apa yang dilakukan Rob serupa dengan perkosaan atau pelecehan seksual. Rob merasa senang dengan tindakannya, seperti ketika ia mempermainkan tokoh-tokoh dalam video game, padahal orang-orang yang ia permainkan itu adalah manusia nyata. Dalam hal ini Robin Hamman menyimpulkan, jika perkosaan adalah kejahatan terhadap “diri”, maka perkosaan di dunia maya pun merupakan perkosaan yang sesungguhnya, yang tidak kurang seriusnya dengan kejahatan yang terjadi di dunia nyata.
Jatuh cinta, patah hati, cyber-romace, cybersex, cyberorgy, pelecehan seksual, perkosaan dan pengkhianatan adalah Pengalaman-pengalaman yang agaknya akan semakin memeriahkan komunitas republik imajiner itu, menghangatkan ruang-ruang chatting yang setiap harinya riuh-rendah oleh jutaan orang dari berbagai penjuru bumi. Dan tak beda dengan pelbagai aspek lain dalam komunikasi yang dijembatani komputer, relasi di ruang-ruang chatting itu sepenuhnya bertumpu pada kepercayaan bersama terhadap fantasi.
Sebagaimana dipaparkan Allucquere Rosanne Stone, para netters beranggapan bahwa komputer bukanlah sekedar alat, melainkan semacam “medan pengalaman sosial.” Komputer memungkinkan para penggunanya berkomunikasi dengan orang-orang lain serupa dengan telepon, yang oleh Stone disebut sebagai narrow-bandwidth medium. Berbeda dengan interaksi tatap-muka di dunia nyata yang bersifat wide-bandwidth, di mana postur tubuh, gerak-gerik anggota badan, ekspresi wajah, sorot mata, tinggi-rendah suara, dan sebagainya menjadi bagian integral dari komunikasi dan bisa tersampaikan secara jelas, dalam narrow-bandwidth medium informasi-informasi visual itu tak dapat tersampaikan. Efek dari penyempitan bandwidth itu dengan demikian adalah dilibatkannya “fasilitas-fasilitas interpretasi” atau “kemampuan imajinatif” dari para partisipan komunikasi, dalam takaran lebih besar dibandingkan dengan yang terjadi pada interaksi tatap-muka. [28] Untuk Mengatasi kesenjangan yang diakibatkan oleh keterbatasan medium komunikasi dan untuk menggantikan pelbagai ekspresi non-verbal yang hilang dalam interaksi di dunia maya, maka diciptakanlah simbol-simbol tertentu — yakni emoticons — yang mampu mewakili ekspresi tubuh dan ungkapan emosi, seperti tersenyum, tertawa, cemberut, menjulurkan lidah, mengedipkan mata, dan sebagainya, sehingga komunikasi menjadi lebih hidup. [29]
Peran fantasi yang begitu menentukan inilah yang kemudian memudahkan idealisasi. Merupakan hal yang lazim bagi para cybersexers untuk menampilkan dirinya secara berbeda, potret diri yang lebih ideal di tengah komunitas maya, atau membayangkan partnernya dalam sosok yang sesuai dengan idealisasinya sendiri. Komunikasi yang tak terganggu oleh penampilan fisik ini jugalah yang mempercepat keakraban emosional di antara para chatters. “You don’t have all the distractions of how someone looks. It’s mind to mind and spirit to spirit talking. You focus on who he is, on the inside. Then if his outside is a little heavier or a little shorter than you expected, it doesn’t matter because you already love his soul.” [30] Di samping itu, menurut Sherry Turkle, relasi online mampu mencapai keakraban sedemikian cepat karena para partisipan merasa sendirian di tengah hamparan dunia maya yang tampak ganjil dan terpencil itu. [31]
Anonimitas di dunia maya pun mendorong para pengguna internet untuk merasa aman menyalurkan hasrat seksualnya, mewujudkan impian dan fantasinya, yang sebaliknya tak dapat mereka lakukan di dunia nyata. Gender, umpamanya, dalam kehidupan nyata merupakan salah satu institusi yang “disakralkan”, yang diatur dalam ritual agama dan undang-undang negara, memicu debat feminisme yang tiada habis-habisnya. Penampilan fisik pun, kendati terbuka bagi dilakukannya manipulasi kosmetika, pada dasarnya sulit diubah dan merupakan faktor penting yang turut menentukan identitas kita dalam kehidupan nyata. Namun di dunia maya, sebaliknya, setiap orang bisa memilih identitasnya sendiri, gambaran fisiknya sendiri, bergonta-ganti jenis kelamin (gender-switching atau gender-surfing) semudah mengganti nama; mengganti usia, kebangsaan, daerah asal, warna kulit dan sebagainya semudah mengetikkan kata-kata. Teknologi internet dengan demikian mampu merongrong pelbagai kepastian yang dikuduskan di dunia nyata, dan menyediakan ruang kemungkinan bagi setiap orang untuk mengkompensasikan nasibnya yang absurd, yang tak mungkin diubah sejak ia terlempar ke dunia ini tanpa berdasarkan kesepakatannya sendiri.
Di dunia maya, setiap kepastian bisa bermetamorfosis menjadi berjuta-juta pilihan dan kemungkinan. Dalam kata-kata Sherry Turkle, “manusia menjadi tuan dalam presentasi-diri dan penciptaan diri” sehingga “anggapan tentang ‘diri sejati’ yang hakiki perlu dipersoalkan.” [32] Teknologi internet telah mengubah pandangan kita tentang makna komunitas dan pola relasi, pengertian kita tentang diri sendiri dan orang lain. Dan berhadapan dengan terbukanya beraneka kemungkinan itu, seperti diungkapkan oleh Joseph Nechvatal, [33] cybersex bisa berarti bangkitnya daya psikis kita yang terpendam, kemampuan kita untuk terbebas dari penjara tubuh, dan mewujudkan simbiosis ruh dengan ruh, aurat dengan aurat, bersama semua orang lain dari segala penjuru dunia. “Interaktivitas seksual adalah kualitas yang kian dicari oleh banyak orang dalam semua aspek komunikasi, yang lazim diistilahkan sebagai ‘intercourse’. Interaktivitas fantasi seksual mendorong setiap orang untuk berpartisipasi di dalam bekerjanya sistem imajiner, baik sistem itu beroperasi dalam tataran konseptual, perilaku, maupun lingkungan, dan baik ia bersifat utilitarian, artistik, atau seksual. Publik menjadi kian sadar akan nilai ruang elektronik sebagai ruang transformasi seks pribadi, komunikasi, permainan, kegiatan belajar, dan informasi. Anggapan-anggapan kultural lama mengenai realitas tak bisa lagi menyesuaikan dirinya dengan kebutuhan akan fantasi yang dituntut oleh seks baru yang bersifat pasca-biologis, elektronik, dan online ini.”

Published in: on 22 January 2010 at 3:10 pm  Leave a Comment  
Tags:

ALTERNATIF PENYIAPAN SDM UNTUK INDUSTRI?

(CAra menghadapi Dunia)
Onno W. Purbo

“Lulusan perguruan tinggi tidak siap pakai!” begitu komentar klasik terhadap sarjana lulusan perguruan tinggi di Indonesia. Tentunya ada argumen lain dari pihak perguruan tinggi, misalnya “Perguruan tinggi bertugas untuk menelurkan pemikir / perencana bukan sekedar tukang; polyteknik yang menelurkan tukang”. Akibatnya apa? industri / perusahaan mau tidak mau harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendidik para sarjana agar “siap pakai”. Syukur-syukur kalau pekerjaan yang dilakukan para sarjana ini sesuai dengan bidang yang ditekuni di perguruan tinggi. Yang disayangkan (dan sudah menjadi rahasia umum), banyak sarjana yang terpaksa “melacur” dan mengambil pekerjaan yang berbeda dengan apa yang dipelajari diperguruan tinggi (contohnya: customer service). Tentunya sudah banyak usaha untuk mengatasi hal ini misalnya dengan mendirikan Pusat Antar Universitas (PAU) dan lembaga-lembaga penelitian yang diharapkan dapat bekerjasama dengan industri dan secara tidak langsung menelurkan sarjana-sarjana yang siap pakai selain meningkatkan mutu pendidikan tinggi. Kerjasama ini tampaknya sudah mulai berjalan walaupun disana sini kebanyakan tersendat-sendat.
Pada kesempatan ini, saya mencoba mengupas kemungkinan pendayagunaan lebih lanjut pra-sarana dan lembaga-lembaga di perguruan tinggi terutama untuk meningkatkan bargaining position perguruan tinggi terhadap industri. Mudah-mudahan hal ini bisa memperlancar kerjasama yang tersendat-sendat tadi. Hal ini penting, terutama untuk menarik dana dari industri untuk penelitian di perguruan tinggi yang secara langsung akan meningkatkan mutu perguruan tinggi dan lulusannya. Jadi semacam simbiosa mutualisma – industri senang memperoleh sarjana yang baik dan lebih siap pakai beserta hasil penelitiannya; perguruan tinggi juga senang memperoleh dana untuk memperbaiki mutu pendidikan maupun kesempatan untuk meneliti.
Mengapa peningkatan bargaining position ini penting? Bayangkan jika seorang dosen / peneliti diperguruan tinggi yang ingin berdedikasi (tidak ingin ngobyek) bermaksud mengadakan penelitian untuk mengembangkan ilmunya. Mengharapkan uang penelitian dari DIP? barangkali harus menunggu sampai 2-3 tahun sebelum dana turun; belum lagi terkadang harus melalui proses tender yang bertele-tele. Itupun dana yang diperoleh tidak seberapa. Akhirnya sang dosen menengok kepada Industri dengan harapan bisa memperoleh dana yang lebih baik. Apakah industri akan dengan senang hati memberikan dana? bagaimana industri bisa menjustifikasi bahwa proposal yang diajukan memang bisa dilaksanakan? apakah memungkinkan untuk memproduksi dan memasarkan ide sang dosen ini? apakah sang dosen cukup berkualifikasi dan berpengalaman? dan yang terpenting apakah industri diuntungkan dengan ide sang dosen / penelitian ini? begitu sebagian pertanyaan yang mungkin terlintas dibenak para manager di perusahaan-perusahaan. Jelas bahwa saat ini bargaining position dosen perguruan tinggi sangat lemah, apalagi sebagai pihak yang membutuhkan dana.
Apakah inti permasalahan diatas? sebetulnya sederhana, semua berkisar pada masalah pertukaran informasi antara perguruan tinggi dan industri. Sebagai contoh, berapa banyak industri elektronika dan pabrik perakitan komputer mikro yang tahu bahwa beberapa dosen di perguruan tinggi di Indonesia mampu membuat sendiri transistor, chip (IC), perangkat lunak untuk komputer dan bahkan sempat berkomunikasi lewat komputer dengan Indonesia selama belajar di luar negeri? tanpa ada usaha untuk menerangkan dari para dosen ini, saya yakin tidak banyak industri yang tahu tentang kemampuan yang terkandung dalam perguruan tinggi. Dilain pihak, berapa banyak dosen yang tahu persis kemampuan dan kebutuhan industri di Indonesia? Hal yang sama berlaku untuk industri. Jelas disini, proses pertukaran informasi antara industri dan perguruan merupakan inti untuk mengetahui kekuatan yang ada dikedua belah pihak dan akhirnya akan menaikan bargaining position dari perguruan tinggi.
Dengan semakin berkembangnya komputer, teknologi informasi elektronik komputer akan sangat memperlancar proses pertukaran informasi. Proses ini jauh lebih cepat dan sangat effisien dibandingkan media konvensional lainnya, seperti surat kabar, majalah, seminar, konferensi, fax, telepon dll. Apakah jaringan komputer telah berkembang di Indonesia? YA! beberapa perusahaan yang cukup besar seperti USI/IBM, Schlumberger dan Astra Graphia telah menyambungkan komputernya dengan jaringan komputer internasional. Saya di Canada sering berhubungan dengan teman-teman di perusahaan tersebut melalui komputer.
Bagaimana dengan dunia perguruan tinggi dan lembaga penelitian? PUSILKOM-UI telah beberapa lama berusaha mengembangkan jaringan komputer. Sayangnya tarif telepon interlokal dan SKDP relatif cukup mahal untuk perguruan tinggi negeri, akhirnya jaringan komputer ini tersendat-sendat. Mungkinkah ini salah satu contoh lemahnya bargaining position perguruan tinggi terhadap industri? Dengan adanya banyak SBK di perguruan tinggi, seperti ITB, ITS, IPB dan Universitas Indonesia Timur, alangkah bermanfa’atnya jika bisa dialokasikan 1-2% dari kapasitas sebuah transponder PALAPA untuk keperluan jaringan komputer untuk penelitian dan pendidikan di Indonesia. Bukankah salah satu misi PALAPA adalah untuk membantu dunia pendidikan? Alternatif lain (menggunakan radio), tengah digalakkan oleh ITB dengan dimotori oleh Prof. Dr. Iskandar Alisyahbana, Dr. Nasserie dan Dr. Kusmayanto Kadiman. Bahkan Prof. Alisyahbana telah berhasil memasang sebuah stasiun bumi sederhana untuk masuk ke satelit internasional komunikasi komputer radio yang memungkinkan hubungan internasional tanpa melalui SKDP. Hal ini memungkinkan pembentukan jaringan komputer biaya murah tanpa perlu bergantung sepenuhnya pada telepon.
Jelas dari penjelasan di atas bahwa infra-struktur jaringan komputer dikedua belah pihak baik industri maupun perguruan tinggi telah mulai berkembang. Tinggal bagaimana menghubungkan jaringan-jaringan komputer yang ada menjadi satu kesatuan agar diperoleh manfa’at bagi kedua belah pihak. Secara teknis sebetulnya sangat mudah. Masalah terberat adalah birokrasi dan masalah administratif dari kedua belah pihak.
Mari kita renungkan bersama, apa yang akan kita peroleh dengan menyatukan infra- struktur informasi di perguruan tinggi dan industri. Bayangkan, waktu untuk menyiapkan seorang sarjana “siap pakai” di industri menjadi lebih singkat. Di samping itu, industri memperoleh masukan alternatif solusi / rancang bangun dari hasil penelitian di perguruan tinggi untuk produksinya. Bahkan, dapat diharapkan akan terjadi perbaikan mutu barang / jasa yang dipasarkan. Dilain pihak, mutu pendidikan tinggi menjadi naik dengan adanya masukan dana tambahan dari industri. Di samping itu, ilmu pengetahuan dan pengalaman dosen dalam meneliti akan meningkat. Hal ini sangat bermanfa’at untuk memperkaya pengetahuan para mahasiswa di perguruan tinggi. Hal lain yang akan sangat positif, perguruan tinggi akan dipaksa untuk memacu diri dalam membentuk dan membenahi jenjang pendidikan S2 dan S3 untuk menyediakan tenaga peneliti di perguruan tinggi yang secara langsung akan meningkatkan ilmu pengetahuan dan mutu pendidikan tinggi di Indonesia. Akhirnya, perguruan tinggi dan industri menjadi saling mengetahui akan kebutuhan, kemampuan maupun kekuatan yang ada di samping kemungkinan untuk bertukar informasi dan pengalaman.
Hal lain yang terpenting, dengan adanya jaringan komputer, seluruh jaringan birokrasi dan administratif yang sangat menghambat pekerjaan dapat dengan mudah dihilangkan / dilewati. Tidak perlu lagi kita membuang waktu menunggu di ruang tunggu hanya untuk meminta tanda tangan / bertemu dengan seorang kepala biro. Jejang administratif secara tidak sadar dapat dipersempit, contohnya, seorang dosen muda di perguruan tinggi dapat langsung berhubungan dengan direktur perusahaan tanpa menanti di ruang tunggu serta berhadapan dengan berbagai prosedur administratif melalui berlapis sekertaris. Tidak perlu lagi bersusah payah mengumpulkan seluruh staf ahli / peneliti hanya untuk rapat bulanan. Rapat dapat dilakukan tanpa perlu bertatap muka setiap hari bahkan setiap menit melalui surat elektronis. Jelas bahwa waktu untuk pemroses suatu pekerjaan dapat sangat dipersingkat.
Bukan mustahil dengan terbentuknya jaringan komputer ini, kita akan melihat sebuah revolusi informasi, industri dan ilmu pengetahuan di Indonesia. Memang untuk merealisasi semua ini dibutuhkan kerja keras (terutama membenahi masalah birokrasi dan administratisi) dari pihak industri maupun perguruan tinggi. Tapi saya pribadi yakin bahwa semua ini bukan hal yang mustahil melihat potensi yang terkandung di perguruan tinggi maupun industri, apalagi jika didasari dengan keinginan dan niat baik dari berbagai pihak yang terkait. Bukan hanya perguruan tinggi dan industri yang akan memperoleh keuntungan oleh sistem ini, tapi juga seluruh rakyat Indonesia. Semoga!
Onno W. Purbo. Staf jurusan teknik elektro dan PAU Mikroelektronika ITB. Sedang menempuh program Ph.D di University of Waterloo, Canada.

Published in: on 22 January 2010 at 3:08 pm  Leave a Comment  
Tags: