Kisah sukses Jeff Bezos: sebuah inspirasi membesarkan Amazon.com

January 22th, 2019 • Related • Filed Under
Pada suatu musim panas tahun 1981 di Miami Amerika Serikat. Seorang remaja cerdas berusia 17 tahun nyambi kerja sebagai juru masak di Mc Donald’s Miami. Kelak di kemudian hari, nama remaja itu termasuk yang sering disebut-sebut dalam jagad industri internet.
Dialah Jeff Bezos, pendiri Amazon.com, website yang semula hanya menjual buku secara online namun kemudian menjual beberapa barang lainnya. Berkat kesuksesan Amazon.com, namanya tercatat dalam jajaran orang-orang terkaya sedunia. Beberapa kali wajahnya sempat menjadi cover majalah seperti Time dan Fortune.
Sebelum mendirikan Amazon.com, Jeff Bezos juga mengalami siklus seperti kebanyakan orang. Habis lulus dari Universitas Princeton, dia bekerja sebagai orang kantoran. Dimulai bekerja di FITEL, sebuah perusahan jaringan telekomunikasi. Walaupun di FITEL karirnya bagus dengan mencapai kursi wakil direktur dalam 2 tahun, namun itu tidak menghentikan proses penempaan dirinya.
Dia pindah kerja ke bank ternama Bankers Trust. Ketika jabatan wakil presiden direktur diraihnya, dia memutuskan mengundurkan diri. Namun kembali datang tawaran bekerja. Jeff Bezos lalu menerima tawaran dari DE Shaw & co, perusahaan software pemantau perkembangan harga saham. Di sana, karirnya terus menanjak naik sampai akhirnya menjadi wakil presiden direktur Shaw & Co pada usia 28 tahun. Namun, lagi-lagi Jeff Bezos tidak betah.
Pada 1992, di masa awal pertumbuhan internet, dia sebetulnya mulai mengendus potensi luar biasa dari kedahsyatan pemasaran internet. Semakin dia menekuni seluk beluk internet dan melakukan riset untuk barang terlaris yang dijual lewat surat. Hasilnya, buku berada di peringkat teratas. Sejak itu dia menyadari bisnis buku sebagai bisnis raksasa. Setelah bertemu dengan para penerbit terkemuka di Amerika Serikat, Jeff Bezos semakin yakin dengan idenya itu.
Kemudian Jeff Bezos mencoba mengusulkannya kepada bosnya, David Shaw. Namun sang bos tidak tertarik. Lalu Jeff mengajak koleganya, MacKenzie. Dan Jeff kembali mundur dari perusahaan tempatnya bekerja.
Bersama MacKenzie, sang partner bisnis, dia membangun bisnis tersebut. Orang tua Jeff Bezos pun ikut mendukung. Bahkan menyiapkan dana pendukung sebesar sekitar 300 ribu US dollar, yang sebetulnya dana simpanan masa tuanya.
Bisnis pun dimulai. Sebuah rumah mungil di Seattle dibeli. Garasi rumah itu disulap menjadi tempat kerja. Jeff dan MacKenzie merekrut beberapa programer Mereka awalnya berkonsentrasi untuk membuat bank data yang dapat menyimpan semua pesanan buku dan informasi pelanggan. Juga mengembangkan software yg dapat memproses pesanan pelanggan.
Tidak ketinggalan Jeff mengupgrade kemampuan marketingnya dengan mengikuti kursus penjualan buku secara intensif. Dia sadar betul pentingnya belajar sebagai investasi dalam bisnis.
Selama proses persiapan tersebut, Jeff Bezos sempat dipusingkan dengan dana untuk menggaji para karyawannya. Meski dia masih punya tabungan dari hasil bekerjanya selama ini, dia sadar kalau tidak bisa terus menerus seperti itu. Maka Jeff Bezos pun mencari investor. Kenalan dan teman-temannya dihubunginya. Dari 62 orang yang ditawari, 22 orang yang bersedia. Mereka masing-masing menanamkan modal 50 ribu dollar.
Singkat kata, pada 6 Juli 1995, Amazon.com diluncurkan. Minggu pertama Amazon.com langsung sukses menghasilkan 12 ribu dollar. Minggu kedua meningkat mencapai hampir 15 ribu dollar. Dalam bulan pertama itu saja, pelanggannya selain berasal dari seantero Amerika Serikat juga 45 negara lainnya.
Tren bisnis Amazon.com terus menanjak. Pada Oktober 1995, setiap harinya sudah terdapat 100 order perhari. Setahun kemudian penjualannya meningkat berkali-kali lipat menjadi 100 pesanan per jam!
Pada 1997 Amazon.com memiliki 340 ribu pelanggan tersebar di lebih 100 negara. Namun saat itu Amazon.com justru merugi 2,97 dollar pada 3 bulan awal di tahun 1997. Namun kerugian itu membawa hikmah bagi Amazon.com untuk menjadi perusahaan terbuka. IPO atau penawaran saham perdana pun digelar pada 15 Mei 1997. Tiga juta lembar saham diterbitkan dengan harga per lembar 18 dolar.
Di akhir 1997, Amazon.com mencatat omset 147 juta dollar. Setahun kemudian, Amazon.com melakukan diversifikasi produk dan ekspansi bisnis. Selain buku, CD, video, dan barang lainnya juga dijual di Amazon.com. Ekspansi ke berbagai negara erus dilakukan. Seperti ke Jerman lewat Amazon.de, ke Inggris melalui Amazon.co.uk, di Prancis dengan Amazon.fr, dan di Jepang lewat Amazon.co.jp. Ekspansi pasar dan diversifikasi produk tersebut membuat Amazon.com kian tak tertandingi.
Ya, Jeff Bezos akhirnya bisa membuktikan ide yang ditolak oleh bosnya. Keberanian dan sikap optimis telah mengantarkannya menjadi online entrepreneur luar biasa. Mengenai internet sendiri, Jeff Bezos kurang lebih pernah mengatakan begini:
Saya akan sangat menyesal seandainya tidak mengenal internet. Sekalipun setelah saya mencoba berbisnis lewat internet dan mungkin saja gagal, tetapi saya tidak akan pernah menyesalinya.
Salam HebaD!!!

Advertisements
Published in: on 22 January 2010 at 2:27 pm  Leave a Comment  
Tags:

Hebatnya industri INTERNET, kisah sebuah industri yang melesat cepat

January 9th, 2009 • Related • Filed Under
Setelah membaca posting pertama dan kedua, saya rasa Anda sudah mulai menemukan gambaran besar tentang kehebatan industri internet. Kehebatan industri internet tidak dapat disangkal telah menjadi kekuatan tersendiri yang tidak kalah dengan industri offline lainnya. Dan mau diakui atau tidak, industri internet bakal menjadi motor dan penggerak industri di masa depan.
Sebab bagaimanapun nantinya semua industri konvensional harus berkompromi memakai internet. Bahkan meski sesederhana apapun usaha yang Anda bangun, nantinya Anda tidak dapat melepaskan diri dari internet. Oleh karena itu, kesadaran awal Anda untuk mulai mengenali dan memanfaatkan internet akan menjadi penentu sukses bisnis Anda di masa depan.
Di posting sebelumnya pernah saya ceritakan kalau pendapatan iklan di internet terus menanjak. Sedangkan kondisi yang sebaliknya justru dialami media offline yang bahkan ada yang mengalami kebangkrutan.
Mudah dipahami mengapa iklan menjadi salah satu sumber utama kokohnya industri internet. Karena bisnis (apapun) jika ingin maju harus mau berpromosi. Salah satu cara berpromosi adalah lewat iklan. Untuk itu layak jika penerbit iklan seperti Adsense misalnya bisa berkembang sangat pesat. Atau tidak perlu jauh-jauh, untuk sejumlah PPC lokal seperti AdsenseCamp, KumpulBlogger, KlikSaya, buktinya juga bisa terus tegak berkembang.
Dan sekadar tahu, potensi iklan online di Indonesia masih sangat terbuka. Dari sekitar budget belanja iklan belanja setiap tahun perusahaan di Indonesia yang mencapai Rp 70 triliun,untuk iklan onlne baru menyerap hanya sekitar Rp 80 miliar. Dengan kecenderungan akan beralihnya para pengiklan ke dunia online nantinya, ini menjadi lahan empuk yang sayang untuk dilewatkan.
Selain iklan, potensi lain di internet ada pada jual beli online. Perlahan namun pasti masyarakat Indonesia akan semakin melek internet dan tidak luput menjadikannya sebagai saluran jual beli. Merujuk kepada nilai transaksi jual beli lewat internet di Amerika Serikat yang tahun lalu mencapai total transaksi sekitarRp 3.600 triliun dan yang di Eropa mencapai sekitar Rp 3.000 triliun, nantinya saya yakin negeri kita akan menuju ke sana.
Sekarang pun, meski belum ada data pasti jumlah besarnya nilai transaksi online di Indonesia, namun kalau melihat keberhasilan sejumlah pebisnis yang menekuni penjualan lewat online, hasilnya saya rasa cukup menggembirakan. Di http://www.gepukfood.com saja bisa beromset sekitar Rp 150 juta per bulan hanya dengan berjualan bumbu.
Era industri internet mendatang saya kira juga akan didominasi dengan web berbasis layanan (service). Web yang menyediakan berbagai layanan yang dibutuhkan pengguna internet akan menjadi pemenangnya. Sekedar contoh seperti Google yang memiliki berbagai layanan, dari search engine, email, google trend, blogger, dan lainnya pada kuartal kedua tahun 2008 lalu membukukan pendapatan sekitar USD5,37 miliar. Atau meningkat 39 persen dibanding periode yang sama tahun 2007. Begitulah kehebatan industri internet, kisah industri yang berkembang begitu pesat. Jauh melebihi yang pernah dicapai industri-industri lain sebelumnya.
Yang jelas, wajah dunia mendatang tidak akan dapat dilepaskan dari perkembangan industri internet. Dan Anda yang mengenali dan mempersiapkannya sejak dini untuk terjun ke sana, kemungkinan besar akan menjadi yang terdepan.
Salam hebad!

Published in: on 22 January 2010 at 2:25 pm  Leave a Comment  
Tags:

Cari partner atau lakukan kerjasama agar bisnis Anda SUKSES! (Kisah sukses Google, Yahoo, dan Microsoft)

January 22th, 2010 • Related • Filed Under

Jangan percaya kalau ada orang yang bilang meraih sukses dan itu dilakukannya seorang diri. Sukses tidak terjadi di ruang hampa. Sukses memerlukan kerja sama dan bantuan orang lain. Sukses terjadi akibat persinggungan dan persentuhan kita dengan pihak lain.
Banyak contoh menunjukkan beberapa raksasa di industry internet atau dunia komputer lahir dari sebuah kerjasama. Sebagai contoh Larry Page dan Sergey Brin, co-founder Google termasuk di antaranya. Mereka bekerjasama membangun Google sejak 1995. Larry yang waktu itu berusia 22 tahun dan Sergey setahun lebih muda, bertemu di Universitas Stanford.
Diawali dengan pembuatan search engine bernama BackRub, kolaborasi Larry dan Sergey, sukses menarik dukungan dari Andy Bechtolsheim, pendiri Sun Microsystem, yang menyuntikkan dana senilai 100 ribu dolar AS. Kemudian disusul Michael Moritz (Sequa Capital) dan Jhon Doer (Kleiner Perkins), investor dari Silicon Valley, yang memberikan modal senilai 12,5 juta dolar AS. Kemudian Eric E. Schdimt masuk pada 2001 menambah kekuatan Google. Pada 2004, mereka sukses membawa Google ke lantai bursa saham.
Contoh lain, datang dari Yahoo!. Duet kompak Jerry Yang dan David Filo membawa Yahoo! ke puncak sukses yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Sama seperti pendiri Google, mereka memulai saat masih kuliah di Universitas Stanford.
Mereka memulai dengan menciptakan website “Jerry’s Guide to the World Wide Web” pada 1994, yang berisi direktori situs-situs lain yang mereka gemari. Saat itu, kerjasama dan pembagian tugas mereka lakukan dengan apik. Jerry Yang berperan di konten, sedangkan David Filo yang mengurus piranti lunaknya.
Pada Maret 1995, mereka pun menggandeng para pemilik lembaga modal Ventura Silicon Valley. Kemudian, mereka bekerja sama dengan Sequa Capital, sebuah perusahaan investasi, yang menyuntikkan dana hampir 2 juta US dollar. Tidak lama kemudian pada April 1996, Yahoo! sukses go public.
Hal yang sama terjadi pada Microsoft. Co-foundernya yaitu Bill Gates dan Paul Allen saling mengenal saat masih SMP. Saat itu pun mereka sudah mahir membuat software. Lalu saat kuliah di Universitas Harvard, Bill Gates bertemu dengan Steve Ballmer. Ketiga orang itu yang kemudian saling bekerjasama dan membesarkan Microsoft sampai sukses seperti sekarang.
Apa pelajaran dari kisah sukses Google, Yahoo, dan Microsoft ini?
Menurut saya hikmahnya jelas kalau mau sukses jangan sampai melakukan bisnis seorang diri. Tidak ada sejarahnya sebuah bisnis yang berhasil hanya dikelola sendirian. Di belakang sebuah usaha yang sukses, pastilah berdiri banyak orang yang mendukung bisnis itu.
Oleh karena itu, kita perlu partner atau bekerjasama dengan orang lain. Dalam memilih mitra, sebaiknya memilih partner yang memiliki visi yang sama dan bisa saling melengkapi. Misalkan Anda ahli dalam strategi bisnis, namun tidak terlalu suka marketing, Anda bisa cari partner yang memang mumpuni dalam marketing. Misalnya Anda punya rencana bisnis yang bagus tapi tidak punya modal, carilah investor yang mau memodalinya.
Yang penting jangan pernah hanya mengandalkan diri Anda sendiri. Ada banyak orang hebat di luar bisnis Anda yang bisa Anda jadikan partner dan mendukung usaha Anda.
Tidak ada superman dalam bisnis. Yang ada hanyalah superteam. Untuk meraih sukses, pebisnis harus mau bekerjasama. Kerjasama akan menguatkan dan memperkokoh bisnis Anda. Kerjasama akan menambal kekurangan yang Anda miliki.
Salam HebaD!!!

Published in: on 22 January 2010 at 2:07 pm  Leave a Comment  
Tags: