STRUKTUR GEOLOGI PULAU BATUKALASI KABUPATEN BARRU PROPINSI SULAWESI SELATAN


DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

STRUKTUR GEOLOGI PULAU BATUKALASI
KABUPATEN BARRU
PROPINSI SULAWESI SELATAN

Oleh :
Andika S.B. D 611 03 036
Yanuar Z. D 611 03 012
Ramla D 611 03 001
Agus Salim D 611 02 011
Hastuti D 611 01 003
Andi Adhar D 611 02 002
Muh.Rikmal D 611 02 000
Ilmiah Harun D 611 02 022

MAKASSAR
2005

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

STRUKTUR GEOLOGI PULAU BATUKALASI
KABUPATEN BARRU
PROPINSI SULAWESI SELATAN

LAPORAN
Diajukan sebagai salah satu syarat kelulusan pada mata kuliah
Geologi Struktur jurusan teknik geologi
Fakultas teknik Universitas Hasanuddin

Oleh :
Andika S.B. D 611 03 036
Yanuar Z. D 611 03 012
Ramla D 611 03 001
Agus Salim D 611 02 011
Hastuti D 611 01 003
Andi Adhar D 611 02 002
Muh.Rikmal D 611 02 000
Ilmiah Harun D 611 02 022

MAKASSAR
2005
PETROLOGI DAERAH MENGILU
KECAMATAN BANTIMALA KABUPATEN PANGKEP
PROPINSI SULAWESI SELATAN

LEMBAR PENGESAHAN

Disetujui Oleh :
Dosen pembimbing I Praktikan
Ir.Jamal R. Husain Andika S.B.
Nip : 131 802 876 Stb : D611 03 036

Yanuar Z.
Stb : D611 03 012

Ramla
Stb : D611 03 001

Agus Salim
Stb : D611 02 011

Hastuti
Stb : D611 01 003

Andi Adhar
Stb : D611 03 002

Muh. Rikmal
Stb : D611 03 000

Ilmiah Harun
Stb : D611 03 022

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nyalah sehingga laporan Lapangan Geologi Struktur ini dapat terselesaikan dengan baik.
Maksud dari penyusunan laporan lapangan ini adalah sebagai salah satu syarat kelulusan pada mata kuliah Geologi Struktur yang merupakan mata kuliah yang diajarkan pada Universitas Hasanuddin.
Penulis merasa bahwa laporan lengkap ini takkan bisa terselesaikan tanpa adanya bantuan dari pihak lain, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada :
1. Kedua orang tua yang tekah banyak memberi bantuan moril dan spirituil
2. Bapak Ir. Jamal R. Husain,MT selaku dosen pembimbing.
3. Seluruh team asisten Geologi Struktur
4. Rekan-rekan mahasiswa peserta mata kuliah Geologi Struktur
Tentu saja dalam laporan ini masih banyak kekurangan oleh karena itu penyusun sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua dalam membangun wawasan kita khususnya dalam bidang Geologi Struktur.
Makassar, Juli 2005

Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ……………………………………………………..…….……..i
HALAMAN TUJUAN………………………………………………………..………ii
HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………………..…iii
KATA PENGANTAR……………………………………………………………..…iv
DAFTAR ISI………….. …………………………………………………………..…v
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………
I.1 Letak Geografis
I.2 Geologi Regional…….….…..……………………………………..
I.5 Peneliti Terdahulu…………………………………………………..

BAB II TINJAUAN PUSTAKA………………………………..………………..
I.5 Struktur Geologi……………………………………………………..
I.5 Peneliti Terdahulu…………………………………………………..

BAB III STRUKTUR GEOLOGI PULAU BATUKALASI….……………….……
III.1. Lipatan………….….………………………………………………..
III.2. Sesar……………………..……………………………………………
III.2. Kekar……………………..……………………………………………
III.2. Mekanisme Struktur Geologi Pulau Batukalasi………………………
BAB IV KESIMPULAN……….………………………………………………….
LAMPIRAN
Peta Geologi + Penamapang Geologi
Peta Pola Kekar
Data Pengukuran

BAB I
GEOLOGI REGIONAL

I. Letak Geografis Daerah Penelitian
Daerah Penelitian ( Pulau Batukalasi ) memiliki letak geografis yaitu 119036’14” BT – 19036’20” BT dan 406’34” LS – 406’38” LS.

II. Geologi Regional
II.1. Geomorfologi

Lokasi Praktikum lapangan termasuk dalam lembar Pangkajene dan Watampone bagian Barat, Sulawesi, dimana daerah praktikum lapangan ini berada pada pulau yang terletak pada kabupaten Barru dengan morfologi yang relative datar dan berada pada morfologi pantai yang memanjang pada daerah sebelah barat Sulawesi Selatan.

II.2. Stratigrafi

Qac : Endapan Aluvium, Danau dan Pantai; lempung, lanau, lumpur, pasir dan kerikil di sepanjang sungai sungai besar dan pantai. Endapan pantai setempat mengandung sisa kerang dan batugamping koral.
Tmcv : Anggota Batuan gunungapi ; batuan gunungapi bersisipan batuan sedimen laut; breksi gunungapi, lava, konglomerat gunungapi, dan tufa berbutir halus hingga lapilli; bersisipan batupasir tufaan, batupasir gampingan, batulempung mengandung sisa tumbuhan, batugamping dan napal. Batuannya bersusunan andesit dan basal, umumnya sedikit terpropilitkan, sebagian terkersikkan, amigdaloidal dan berlubang-lubang, ditrobos oleh retas, sill dan stock bersusunan basal dan diorit; berwarna kelabu muda, kelabu tua dan coklat. Penarikan Kalium/Argon pada batuan basal oleh Indonesian Gulf Oil berumur 17,7 juta tahun, dasit dan andesit berumur 8,93 juta tahun dan 9,92 juta tahun (J.D.Obradovich, 1972), dan basal dari Barru menghasilkan 6,2 juta tahun (T.M. van Leeuwen, 1978).
Beberapa lapisan batupasir dan batugamping pasiran mengandung moluska dan serpian koral. Sisipan tufa gampingan, batupasir tufa gampingan, batupasir gampingan, batupasir lempungan, napal dan batugamping mengandung fosil foraminifera. Berdasarkan atas fosil tersebut dan penarikan radiometri menunjukkan umur satuan ini adalah miosen tengah-Miosen Akhir.
Batuannya sebagian besar diendapkan dalam lingkungan neritik sebagai fasies gunungapi Formasi camba, menindih tidak selaras batugamping Formasi camba dan batuan Formasi Mallawa; sebagian terbentuk dalam lingkungan darat, setempat breksi gunugapi mengandung sepaian batugamping, tebal diperkirakan tidak kurang dari 4.000 meter.
Tmsv : batuan gunungapi Soppeng; breksi gunungapi dan lava, dengan sisipan tufa berbutir pasir sampai lapili dan batulempung; dibagian utara lebih banyak tufa dan breksi, sedangkan dibagian selatan lebih banyak lavanya; sebagian bersusunan basal piroksin dan sebagian basal leusit, kandungan leusitnya semakin banyak ke arah Selatan; sebagian lavanya berstruktur bantal dan sebagian terbreksikan; breksinya berkomponen antara 5 cm – 50 cm, warnanya kebanyakan kelabu tua sampai kelabu kehijauan.
Batuan gunung api ini pada umumnya terubah kuat , amigdaloidal dengan mineral sekunder berupa urat karbonat dan silikat, diterobos oleh retas ( 0,5 m – 1,0 m ) menindih tak selaras batugamping Formasi Tonasa dan ditindih selaras batuan Formasi camba; diperkirakan berumur Miosen Bawah.

II.3. Struktur Geologi

Struktur geologi pada daerah penelitian ditentukan berdasarkan gejala- gejala yang dijumpai di lapangan, berdasarkan gejala – gejala tersebut , maka pada daerah penelitian struktur geologi yang berkembang adalah :
1. Struktur Perlipatan
Struktur perlipatan ini diketahui dari adanya variasi kemiringan pada batuan vulkanik ( Tufa ) dan umumnya berasosiasi dengan sesar geser yang bekerja pada daerah penelitian.
2. Struktur Sesar
Struktur sesar yang dijumpai pada daerah penelitian yaitu struktur sesar geser, yang terbentuk pada batuan vulkanik.

3. Struktur Kekar
Struktur kekar yang terbentuk pada daerah penelitian merupakan kekar sistematik

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Lipatan
Lipatan merupakan hasil perubahan bnetuk suatu bahan , ditunjukan sebagai lengkungan pada unsure garis atau bidang dalam bahan tersebut ( Ragan , 1973 ) .
Klasifikasi Lipatan
Klasifikasi lipatan yang digunakan adalah klasifikasi Rickards dan klasifikasi lain yang mendukung .
Rekontruksi lipatan
Umumnya rekontruksi lipatan dilakukan berdasarkan hasil pengukuran ( cross section di lapangan ataupun merupakan hasil proyeksi blok diagram dengan merekontraksi cross section dan blok diagram akan memebrrikan gambaran pengertian mengenai geometri dan deformasi batuan .Adapun teknik-teknik geometri yang dapat membantu dalam merekontruksi suatu lipatan adalah dengan menggunakan metode Busk , Metode Kink, metode Higgins ,dan metode proyeksi orthografis proyeksi stereografis .

1. Metode Busk
Pada umumnya digunakan untuk merekonstruksi penampang dari suatu lipatan dari suatu sayatan yang parallel dengan rounded ginges yang kecil . Dengan asumsi bahwa lapisan yang mengalami lipatan pada seluruh bagian yang menyentuh / menyinggung daerah bundaran lipatan atau diasumsikan dengan :
1. Bagian dari masing – masing lapisan pada lipatan dalam suatu bidang profil dapat dibagi ke dalam suatu segmen masing-masing lipatan yang harmonic dan permukaan dari lapisan yang berdekatan dalam suatu profil merupakan daerah yang konsentrik pada radius yang berbeda , dengan kata lain bahwa metode Busk hanya dapat digunakan pada suatu lipatan yang hampir dengan ketebalan yang konstan dan sumbu lipatan membagi sudut di antara dua sayap lipatan
Kekar
Kekar merupakan suatu rekahan yang relative tanpa mengalami pergeseran pada bidang rekahannya . Penyebab terjadinya kekar dapat disebabkan oleh gejala tektonik maupun non tektonik . Jadi di lapangan harus dapat dibedakan antara kedua jenis kekar tersebut . Klasifikasi kekar ada beberapa macam , tergantung dasar klasifikasi yang digunakan , diantaranya :

1) Berdasarkan bentuknya
2) Berdasarkan kerapatannya
3) Berdasarkan kecepatannya
4) Berdasarkan cara terjadinya ( genesanya )

Klasifikasi Kekar berdasarkan genesanya :
a. Shear Joint ( kekar gerus ) yaitu kekar yang terjadi akibat adanya tegasan tekanan ( compressive stress ) .
b. Tension Joint ( Tension stress ) dibedakan atas :
¤ Extension Joint yaitu kekar yang terjadi akibat pemekaran / tarikan
¤ Release Joint yaitu kekar yang terjadi akibat berhentinya gaya yang bekerja .

Klasifikasi kekar berdasarkan kedudukan relatifnya yaitu :
1. Kekar menjurus ( strike joint ) kekar yang arah jurusnya sejajar atau hampir sajajar dengan jurus perlapisan batuan
2. Kekar kemiringan ( dip joint ) kekar yang arahnya sejajar dengan arah
kemiringan lapisan .
3. Diagonal joint yaitu kekar yang jurusnya terletak di antara arah jurus
dan kemiringan batuan yang berasosiasi dengannya .
4. Kekar perlapisan ( bedding joint ) kekar yang sejajar dengan bidang
perlapisan batuan .
Klasifikasi Kekar berdasarkan bentuknya yaitu :
1. Kekar sistematik yaitu keakar dalam bentuk berpasangan arahnya
sejajar satu dengan yang lainnya .
2. Kekar non sistematik yaitu kekar yang tidak teratur biasanya melengkung dapat saling bertemu ( bersilangan ) di antara kekar lainnya
atau tidak memotong kekar lainnya dan berakhir pada bidang perlapisan
Klasifikasi kekar berdasarkan genesa dan keaktifan gaya yang membentuknya yaitu :
1. Kekar orde pertama yaitu sebagai hasil langsung dari gaya pembentuk
Kekar .Umumnya mempunayui bentuk dan pola yang teratur dan ukurannya relative besar .
2. Kekar orde kedua yaitu kekar sebagai hasil pengaturan kembali atau
pengaruh gaya balik / lanjutan untuk mencapai kesetimbangan massa
batuan .
Analisa Kekar
Secara skematis sebelum kita menganalisa kekar di lapangan kita harus menjalankan beberapa prosedur kerja antara lain sebagai berikut :
☻Pengumupulan / pencatatan data kekar semakin banyak semakin akurat
☻Pengelompokan data
☻Penyajian data
☻Analisa data dengan menggunakan metode statistic yang dilakukan
Dengan :
a. Diagram Kipas
b. Histogram
c. Diagram Kontur , dengan menggunakan proyeksi streografis dan proyeksi kutub
Tujuan Analisa Kekar di lapangan :
@ Menentukan kedudukan / arah umum dari kekar .
@ Menentukan arah umum dari gaya
Prosedur analisa menggunakan diagram kipas
Hal ini digunakan untuk kekar –kekar yang mempunyai kemiringan dan diukur nilai strike dan dipnya tetapi dalam diagram kipas hanya menggunakan nilai strike
Gambar diagram kipasnya yaitu berupa setengah lingkaran dengan jari-jari sepanjang harga porsentase maksimum .

Sesar
Sesar merupakan suatu bidang rekahan atau zona rekahan yang telah mengalami pergeseran.
Berdasarkan tipe geraknya (E.W. Spencer,1977), secara umum dibedakan atas :
– sesar translasi, yaitu jenis sesar yang pergeserannya sepanjang garis lurus ( Gb. 8.1)
– sesar rotasi , yaitu jenis sesar yang pergeserannya mengalami perputaran/terputar (Gb. 8.2)
sifat suatu pergeseran dapat sepaparation (pergeseran semu) dan slip (pergeseran
Separation merupakan jarak tegak lurus antara dua bidang yang tergeser dan diukur pada bidang sesar yaitu A (Gb. 8.3). komponen separation dapat diukur sejajar strike sesar dan disebut strike separation yaitu, B (Gb. 10.3), atau diukur sejajar dengan arah dip sesar dan disebut dip separation, yaitu C (Gb. 8.3).

Gambar 8.3 Gambar 8.4

Slip merupakan pergeseran relative pada sesar, diukur dari satu blok ke blok lainnya, merupakan pergeseran titik-titik yang sebelumnya berimpit. Total pergeseran relatifnya disebut dengan net-slip (Gb. 8.4)
Dasar Analisis
Macam keterakan berdasarkan gaya pembentukannya ada dua macam yaitu Irrotational Strain ‘ (pure shear) dan ‘ rotational Starin ‘ (simple shear). Pure shear disebabkan oleh tegasan tekanan atau tegasan tarikan, seperti model yang dikembangkan oleh moody dan hill ( Gb. 8.30)
Model ini akhir-akhir ini dipertanyakan oleh banyak ahli karena memuat anggapan yang terlalu sederhana tentang adanya tegasan utama berarah utara – selatan.
Pencantungan tingkatan –tingkatan orde pembentukan struktur tidak mengandung pengertian secara kronologis dalam artian pembentukan orde I kemudian diikuti orde –orde selanjutnya ( orde 2, 3 dan selanjutnya ), melainkan suatu proses yang simultan.
Pengertian orde disini hanya mengandung pengertian orde-orde berikutnya ( 2, 3 dst ) memiliki orientasi dan dimensi yang lebih kecil serta dibatasi oleh sesar –sesar orde yang lebih tinggi, sedangkan tegasan gerus (shear stress) akan menyebabkan rotational strain/ simple shear seperti model dari harding, 1974; Sounder, Thomas et al,1973.
Unsur – unsure istilah dalam sesar (Gb.8.5)
– Bidang sesar
Merupakan suatu bidang sepanjang rekahan dalam batuan yang tergeserkan.
– Dip sesar
Merupakan sudut antara bidang sesar dengan bidang horizontal dan diukur tegak lurus jurus sesar, strike dan dip sesar menunjukkan kedudukan dari bidang sesar.
– Hade
Merupakan sudut antara garis vertical dengan bidang sesar, dan merupakan penyiku dari dip sesar.
– Throw
Merupakan komponen vertical dari slip/separation, diukur pada bidang vertical yang tegak lurus dengan jurus sesar
– Heave
Merupakan komponen horizontal dari/separation, diukur pada bidang vertical yang tegak lurus dengan jurus sesar
– Hanging wall dan foot wall
Merupakan blok yang terletak diatas bidang sesar dan dibawah bidang sesar.

Gambar 8.5

Klasifikasi Sesar :
Penamaan dari suatu sesar adalah tergantung dari dasar klasifikasi yang digunakan, diantaranya sebagai berikut ;
1. Berdasarkan orientasi pola tegasan utama yang menyebabkannya (Anderson, 1951).
– Thrust fault
Jika tegasan utama maksimum dan intermediate adalah horizontal (Gb. 8.6)
– Normal fault
Jika pola tegasan utama maksimum adalah vertical (Gb. 8.7)
– Wrench fault (strike slip fault),
Jika pola tegasan utama maksimum dan minimum adalah horizontal (Gb. 8.8).

Gambar 8.6 Gambar 8.7

Gambar 8.8
Menurut Billing, 1977 istilah Thrust fault digunakan untuk sesar naik dengan slip sesar 450 reverse fault, dan apabila dip sesar relative landai disebut overthrust fault.
Sedangkan sesar normal yang kemiringan bidangnya kecil (low angle) disebut detachment fault.

2. Berdasarkan separation dan slip (1955)
a. Separation :
• Dip separation :
– Normal separation fault (Gb. 8.3)
– Reverse separation fault
– Thrust separation fault
• Strike separation :
– Left lateral separation fault (Gb. 8.3)
– Right lateral separation fault
• Combined dip and strike separation : misalnya Normal left laterar separation fault.

b. Slip
• Dip Slip :
– Normal slip fault (gerakan angka 4 pada (Gb. 8.4))
– Reverse slip fault
– Thrust slip fault

• Strike slip :
– Right lateral slip fault
– Left lateral slip fault ( gerakan angka 2 pada (Gb. 8.4)
• Oblique slip :
– Normal right leteral slip fault (gerakan angka 5 pada (Gb. 8.4)
– Reverse left lateral slip fault ( gerakan angka 1 pada (Gb. 8.4)
• Dan variasi lainnya
3. Berdasarkan besar rake dari net slip (Billings, 1977)
– strike slip fault
jika net slip sejajar dengan strike sesar tidak ada komponen dip slip, besarnya rake net slip 00.
– Dip slip fault,
Jika rake net slip adalah 900 sehingga tidak ada komponen strike slip.
– Diagonal slip fault
jika rake net slip lebih besar 00 dan lebih kecil 900, sehingga disini mempunyai komponen strike slip dan komponen dip slip.

Peneliti Terdahulu
Secara umum daerah penelitian dan sekitarnya telah diteliti oleh beberapa peneliti terdahulu, antara lain :
 Yan Sopaheluwakan, ( 1979 )
 Sartono dan Astadireja ( 1981 )
 Rab Sukamto ( 1982 )
 Rab Sukamto dan Simandjuntak ( 1983 )
 Nurmaan ( 1991 )
 M.Saleh Sahabuddin ( 1994 )
 Wakita K.,dkk ( 1994 )
 Zulfan Rahimi ( 1998)

BAB III
STRUKTUR GEOLOGI PULAU BATUKALASI

III. 1 Lipatan
Pada daerah penelitian dijumpai adanya lipatan dimana

BAB IV
KESIMPULAN

Dari praktikum lapangan pada Pulau Batukalasi dapat ditarik kesimpulan yaitu antara lain :
 Daerah penelitian mengalami perlipatan , kemudian tersesarkan yakni mengalami sesar geser dan setelah itu terkekarkan.
 Daerah penelitian tersusun oleh endapan alluvial dan batuan vulkanik.
 Pada daerah penelitian tegasan utama yang bekerja memiliki arah N 3200 E.

Published in: on 22 January 2010 at 4:42 pm  Leave a Comment  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://one2land.wordpress.com/2010/01/22/struktur-geologi-pulau-batukalasi-kabupaten-barru-propinsi-sulawesi-selatan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: