PEMBENTUKAN MINERAL FELSFAR JENIS PALGIOKLAS DAERAHGUNUNG MERAPI JAWA TENGAH


BAB III
PEMBENTUKAN MINERAL FELSFAR JENIS PALGIOKLAS
DAERAHGUNUNG MERAPI JAWA TENGAH

Telah lama Gunung Merapi menjadi pusat perhatian para ahli. Sejak zaman penjajahan Belanda, Gunung Merapi telah menjadi prioritas bagi pemerintah kolonial dalam usaha pemantauan gunungapi. Pada saat itu perhatian diarahkan ke Gunung Merapi hanya karena gunung ini mempunyai aktivitas yang hampir berlangsung secara menerus. Apa yang sedng disebut sebagai “waktu istirahat”, untuk Gunung Merapi hanya berlangsung kurang dari (delapan) tahun. Bahkan, pada umumnya waktu istirahat yang benar-benar istirahat tanpa aktivitas yang berarti, hanya berlangsung tidak lebih dari 3 (tiga) tahun. Alasan tersebut masih berlaku sampai saat ini yaitu bahwa Gunung Merapi tetap mempunyai tingkat aktivitas yang tinggi.
Dari sudut ilmu pengetahuan timbul pertanyaan apa yang membedakan Gunung Merapi dari gunungapi lainnya di dunia yang jumlahnya ratusan. Memang terdapat gunungapi lainnya yang juga mempunyai tingkat aktivitas tinggi dan menerus, namun demikian, Gunung Merapi tetap menjadi kasus yang menarik bagi para ahli gunungapi. Karakteristik Gunung Merapi muncul dari berbagai sudut disiplin ilmu seperti geologi, geofisika dan geokimia. Pemahaman tentang apa dan bagaimana Gunung Merapi itu tidak hanya menjadi perhatian para vulkanolog namun juga bagi masyarakat luas. Perhatian masyarakat tertuju pada pemahaman tentang apa yang dapat dimanfaatkan dan apa yang perlu diwaspadai dari gunung ini.
Keseimbangan antara aspek manfaat dan aspek bahaya diperkirakan akan menjadi kund keharmonisan lingkungan dan masyarakat di sekitar Gunung Merapi.
Di Indonesia, sebagai daerah perbatasan antar beberapa lempeng tektonik, terdapat sekitar 129 gunungapi. Jenis dan karakter gunungapi dalam beberapa hal mirip satu dengan yang lain namun dalam hal lain sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Disamping tinjauan dari bidang geologi, fisika dan kimia, dari sudut sosial, Gunung Merapi menempati hal yang istimewa di antara gunungapi Indonesia. Alasan pertama terutama besarnya pertumbuhan penduduk di sekitar Gunung Merapi. Padatnya populasi di lereng Merapi menjadikan gunungapi tersebut pedu untuk diperhatikan. Tata ruang dalam kependudukan dan dunia usaha juga secara tidak langsung terkait dengan aktivitas Gunung Merapi.
Eksploitasi produk vulkanik seperti pasir, kerikil dan batu menjadi sumber mata pencaharian penduduk lereng Merapi. Populasi yang padat menuntut, secara alamiah, terdapatnya sumbersumber kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk baik secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan yang subur bagi pertanian tanaman pangan dan sayuran dan tanaman lain seperti tembakau memberikan tempat yang menghidupi bagi penduduk lereng Merapi.
Cuaca yang sejuk, pemandangan yang indah dan udara yang segar menjadi daya tarik bagi masyarakat di luar lingkungan Merapi untuk semakin dekat dengan Gunung Merapi. Kedekatan dapat terwujud dalam bentuk kunjungan wisata maupun perpindahan ke lereng Merapi sebagai tempat tinggal tetap. Eksploitasi bahan galian, usaha pangan dan sayuran serta wisata akhirnya memutar roda ekonomi di lingkungan sekitar Merapi. Perputaran ekonomi semakin cepat dan meningkat hingga suatu saat berhadapan dengan aspek resiko bencana dari aktivitas Merapi. Akhirnya pemahaman terhadap karakter Merapi menjadi kebutuhan bagi setiap orang, baik yang berada di lereng Merapi maupun yang ingin berdekatan dengan Merapi.
Monitoring aktivitas Gunung Merapi telah berkembang dari tingkat yang paling sederhana dengan cara pemantauan secara visual menuju pada pemantauan secara instrumental. Data-data kegempaan telah terekam secara menerus sejak tahun 1982. Walaupun dalam modus yang tidak menerus, studi tentang seismisitas Merapi telah dilakukan sejak tahun 1930. Data tiltmeter telah memberikan seberapa besar penggembungan tubuh gunung Merapi menjelang letusan. Pemantauan emisi gas S02 telah dilakukan sejak tahun delapanpuluhan. Data hasil pemantauan tersebut telah memberikan kontribusi yang besar bagi pemahaman karakter gunung Merapi. Muncul kecenderungan bahwa ciri spesifik dari Gunung Merapi juga semakin jelas. Penelitian-penelitian dasar yang ditujukan pada analisis kondisi internal Gunung Merapi melalui penerapan ilmu geologi, geokimia dan geofisika telah membuka tabir dinamika vulkanisnya yang semakin meningkatkan pemahaman tentang proses-proses yang menuju pada erupsi.
GEOLOGI GUNUNG MERAPI
FISIOGRAFI DAN MORFOLOGI
Gunung Merapi tumbuh di atas titik potong antara kelurusan vulkanik Ungaran-Telomoyo-Merbabu-Merapi dan kelurusan vulkanik Lawu-Merapi-Sumbing-Sindoro-Slamet. Kelurusan vulkanik Ungaran-Merapi tersebut merupakan sesar mendatar yang berbentuk konkaf hingga sampai ke barat, dan berangsur-angsur berkembang kegiatan vulkanisnya sepanjang sesar mendatar dari arah utara ke selatan. Dapat diurut dari utara yaitu Ungaran Tua berumur Pleistosen dan berakhir di selatan yaitu di Gunung Merapi yang sangat aktif hingga saat ini. Kadang disebutkan bahwa Gunung Merapi terletak pada perpotongan dua sesar kwarter yaitu Sesar Semarang yang berorientasi utara-selatan dan Sesar Solo yang berorientasi barat-timur.
Secara morfologi tubuh gunung Merapi dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu Kerucut Puncak, Lereng Tengah dan Lereng Kaki dan Dataran Kaki (Sari,1992). Kerucut puncak dibangun oleh endapan paling muda berupa lava dan piroklastik. Satuan lereng tengah dibangun oleh endapan lava, piroklastik dan lahar. Lereng kaki dan Dataran Kaki tersusun dari endapan piroklastik, lahar dan aluvial. Dari bentuknya, dibandingkan dengan gunungapi disebelahnya yaitu Gunung Merbabu, Gunung Merapi nampak jauh lebih runcing. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan bagian puncaknya relatif lebih cepat. Hal ini didukung pula oleh kenyataan bahwa pada saat ini produk aktivitas Merapi hanya tersebar pada jarak yang dekat dari puncak Merapi.
Kerucut puncak Merapi yang sering disebut sebagai Gunung Anyar merupakan bagian Merapi yang paling muda. Semua aktivitas Merapi terpusat pada puncak kerucut ini. Kawah utama Merapi saat ini berupa bukaan berbentuk tapal kuda yang mengarah ke barat-baratdaya. Morfologi kawah ini terbentuk sesudah letusan tahun 1961. Secara umum, dataran puncak Merapi tersusun dari kubah-kubah lava yang tidak terlongsorkan. Beberapa area di dataran puncak Merapi di luar kawah utama mengeluarkan banyak uap vulkanik yaitu di area Gendol dan Woro, bagian tenggara dataran puncak.

Bagian lereng barat Merapi merupakan daerah aliran guguran dan piroklastik. Daerah ini merupakan daerah terbuka karena sering terlanda awanpanas. Daerah lereng timur sebagai bagian dari struktur Merapi Tua jarang terkena dampak aktivitas Merapi. Lereng ini lebih banyak tedutup dengan vegetasi. Morfologinya nampak dipisahkan dari kerucut-Merapi dengan sesar yang berbentuk tapal kuda yang melalui bawah Gunung ljo, lereng timur Merapi.
Lereng kaki Merapi tersusun dari punggungan-punggungan radial yang diselingi dengan hulu-hulu sungai. Beberapa sungai penting yang berada di lereng barat yaitu Batang, Bebeng, Putih, Blongkeng, Sat, Lamat dan Senowo. Alur-alur pada hulu sungai tersebut yang sering mendapat tambahan material produk letusan.
STRATIGRAFI
Penelitian terdahulu dari G. Merapi menunjukkan bahwa sejarah G. Merapi cukup komplek dan pembagian detail dari sejarah Merapi sendiri masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Berbagai penelitian geologi yang dilakukan di Merapi antara lain Wirakusumah (1989), Berthommier (1990), Newhall & Bronto (1995) dan Newhall et al (in press). Wirakusumah (1989) membagi Geologi Merapi menjadi 2 kelompok besar yaitu Merapi Muda dan Merapi Tua. Penelitian yang dilakukan sesudahnya semakin merinci unit-unit stratigraf! di Merapi.
Secara garis besar sejarah G. Merapi dapat dibagi menjadi 4 bagian (Bedhommier, 1990).
PRA MERAPI (lebih dari 400.000 tahun yang lalu)
Sebelum terbentuk Gunung Merapi, pada masa ini sudah terdapat apa yang sekarang nampak sebagai Gunung Bibi, gunung basaltik andesit, yang terletak di lereng timur Merapi, termasuk di daerah Boyolali. Walaupun sama sepeni lava Merapi berjenis basalt-andesitik, batuan gunung Bibi berbeda dari batuan Merapi, karena tidak mengandung orthopyroxen. Puncak Bibi mempunyai ketinggian sekitar 2050 meter di atas muka laut. Lokasi ini dapat dicapai melalui desa Cepogo naik ke arah Merapi. Jarak datar antara puncak Bibi dan puncak Merapi sekitar 2.5 kilometer. Karena umurnya yang jauh lebih tua darl gunung Merapi bukit ini telah mengalami alterasi yang kuat, contoh batuan segar sudah sulit sekali ditemukan. Umurnya diperkirakan sekitar 700.000 tahun.
MERAPI TUA (60.000 sampai 8000 tahun yang lalu)
Pada masa ini mulal lahir Gunung Merapi dan merupakan fase awal dari pembentukannya. Kerucut G. Merapi belum terbentuk sempurna. Produk erupsinya bervariasi. Ekstrusi awalnya berupa lava basaltik yang membentuk Gunung Turgo dan Plawangan berumur sekitar 40.000 tahun. Produk aktivitasnya terdiri dari batuan dengan komposisi andesit basaltik; dari awanpanas, breksiasi lava dan lahar.
MERAPI PERTENGAHAN (8000 sampai 2000 tahun yang lalu)
Terjadi beberapa lelehan lava andesitik yang menyusun bukit Batulawang dan Gajahmungkur, yang saat ini nampak di lereng utara Merapi. Batuannya terdiri dari aliran lava, breksiasi lava dan awan panas. Aktivitas Merapi dicirikan dengan letusan efusif (lelehan) dan eksplosif. Diperkirakan juga terjadi letusan eksplosif dengan “debris-avalanche” (sebagaimana terjadi di Mount St. Helens, dalam skala kecil), ke arah barat yang meninggalkan morfologi tapal-kuda dengan panjang 7 kilometer, lebar 1-2 kilometer dengan beberapa bukit di lereng barat. Pada periode ini terbentuk Kawah Pasarbubar.
MERAPI BARU (2000 sampai sekarang)
Dalam kawah Pasarbubar terbentuk kerucut puncak Merapi yang saat ini disebut sebagai Gunung Anyar. Aktivitas Merapi terdiri dari aliran basalt dan andesit lava, awanpanas serta letusan magmatik dan phreatomagmatik. Kubah lava menjadi pusat aktivitas Gunung Merapi sampai saat ini.
Batuan dasar dari G. Merapi diperkirakan berumur Merapi Tua. Sedangkan Merapi yang sekarang ini berumur sekitar 2000 tahun. Letusan besar dari G. Merapi terjadi di masa lalu yang dalam sebaran materialnya telah menutupi Candi Sambisari yang terletak + 23 km dari G. Merapi. Newhall et al (in press) juga menyatakan bahwa akibat letusan besar di masa lalu dari G. Merapi, material hasil letusannya diperkirakan telah membendung K. Progo yang kemudian membentuk danau. Namun demikian, waktu dari letusannya masih diperdebatkan.
Studi stratigrafi yang dilakukan oleh Andreastuti (1999) telah menunjukkan bahwa beberapa letusan besar, dengan indek letusan (VEI) sekitar 4, tipe Plinian, telah terjadi di masa lalu. Letusan besar terakhir dengan sebaran yang cukup luas menghasilkan Selokopo tephra yang terjadi sekitar sekitar 500 tahun yang lalu (490 + 100 yrs. B.P) (MN15 NB-1). Namun demikian, erupsi eksplosif dari G. Merapi yang teramati diperkirakan masih terjadi lagi pada sekitar 250 tahun yang menghasilkan Pasarbubar tephra. Meskipun demikian, letusannya relatif kecil dibandingkan letusan yang menghasilkan Selokopo tephra.
Berdasarkan pengamatan terhadap jenis endapan dan besar letusannya, letusan G. Merapi di masa lalu (3000 BP – 1800 AD) dapat dibedakan menjadi 3 (Andreastuti, 1999) kelompok:
Kelompok 1: letusan kecil menghasilkan satu jenis endapan yang relatif tipis atau aliran lava.
Kelompok 2: letusan medium menghasilkan endapan tephra yang menunjukkan asosiasi sederhana dari endapan yang ketebalannya relatif tipis.
Kelompok 3: letusan besar yang menghasilkan endapan tebal dengan asosiasi jenis endapan yang komplek.
Pembagian tersebutdiatas berlaku untuk kejadian letusan pra-1 800 AD. Bila diterapkan pada letusan sekarang (sesudah-1 800 AD), maka endapan yang terbentuk dapat digolongkan dalam kelompok 1, contohnya lava, awanpanas atau endapan surge dan kelompok 2, yaitu asosiasi endapan awanpanas dan surge.
Endapan hasil letusan yang sekarang berupa awanpanas yang meskipun cukup tebal (mencapai 8m), namun hanya tersebar di lembah-lembah tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa letusannya relatif kecil. Pada letusan pra-1 800, hasil letusan berupa endapan jatuhan yang ketebalannya lebih tipis namun merata di sekitar gunung. Tekanan internal magma pada letusan yang menghasilkan awanpanas lebih kecil daripada yang menghasilkan letusan dengan endapan jatuhan.
Berdasarkan pengamatan geokimia, proses magmatilk dari G. Merapi mencakup proses diferensiasi dan suplai magma (Bahar, 1984, Berthommier, 1990; Andreastuti, 1999) dari dapur magma yang lebih dalam selain itu proses kontaminasi juga berperan dalam perkembangan magma dari G. Merapi (Bahar, 1984, Berthommier, 1990). Lebih jauh, Del Marmol (1989) menyatakan bahwa letusan dari G. Merapi terutama dipicu oleh perubahan kandungan air dan perubahan kecepatan kristalisasi magma.
Dalam perkembangannya, sifat letusan G. Merapi menunjukkan sifat perubahan komposisi magma yang berulang dari basa ke asam. Komposisi SiO2 pada sekitar 1000 tahun terakhir mengalami variasi dengan nilai terendah sekitar 50.5 % sampal 56.5 %. Tentu saja perubahan komposisi in! akan berpengaruh pada tingkah laku Merapi. Walaupun perubahan SiO2 berfluktuasi, dalam jangka panjang terjadi kecenderungan kenaikan komposisi yang jelas. Hal ini tedilhat baik dari letusan yang sekarang maupun letusan masa lalu (Andreastuti, 1999). Namun demikian, perubahan sifat letusan dari eksplosif menjadi efusif pada periode saat ini merupakan perubahan yang penting, karena berpengaruh pada jenis dan resiko dari letusan. Dibandingkan dengan letusan masa lampau, letusan masa kini relatif kecil (VEI 1-3).
PETROGRAFI
Gunung Merapi merupakan gunungapi tipe basalt-andesitik dengan komposisi SiO2 berkisar antara 50-58 %. Beberapa lava yang bersifat lebih basa mempunyai SiO2 yang lebih rendah sampal sekitar 48%. Batuan Merapi tersusun dari plagiolklas, olivin, piroksen, magnetit dan amphibol. Plagioklas merupakan mineral utama pada batuan Merapi dengan komposisi sekitar 34%. Menurut del Marmol (1989), lava Merapi mempunyai tingkat kristalinitas 32 58% (fenokris > 0.2 mm). Sedangkan penelitian dari endapan tephra pra-1800 AD (Andreastuti, 1999), mengandung fenokris 15-50%. Asosiasi mineral dari endapan tephra Merapi , yaitu:
a.Plagioklas-klinopiroksen-ortopiroksen-hornblende
b. Plagioklas-hornblende-klinopiroksen
Asosiasi mineral (a) merupakan kelompok yang dominan untuk endapan pra-1800 AD. Sedangkan endapan lava dan tephra sesudah-1800 AD terutama mempunyai asosiasi mineral:
a.Plagioklas-klinopiroksen-ortopiroksen-hornblende-olivin
b. Plagioklas-klinopiroksen-ortopiroksen
Asosiasi mineral (b) adalah umum ditemukan dalam endapan tephra dan lava sesudah1800 AD.
Batuan Merapi yang bersifat basalt-andesitik dan andesitik merupakan hasil evolusi dari high-Al basalt sebagai magma asalnya. Disamping differensiasi kristalisasi, magma Merapi dipengaruhi juga oleh adanya kontaminasi dari batuan mantel dan kerak bumL Adanya kontaminasi dari mantel bumi ditunjukkan dengan. adanya asimilasi antara olivin forsteritik dan high-Al basalt. Xenolith karbonat merupakan indikasi adanya kontaminasi dari batuan sedimen di kerak bumL Xenolith gabbro, walaupun tingkat kontaminasinya kecil, menjadi petunjuk adanya kontaminasi dari batuan tertua yang ditemudipulauJawa(delMarmol,1989).
Magma Merapi berasal dari high-Al basalt yang terkumpul di dapur magma. Magma basalt ini mempunyai kandungan air sekitar 2% berat. Dari analisis kristalisasi disimpulkan bahwa dapur magma berada pada suatu kedalaman antara 7-17 kilometer (estimasi petrografik) atau setara dengan tekanan lithostatik 2 sampai 5 kilobar (del Marmol, 1989). Dapur magma diperkirakan mempunyai volume sekitar 10 kmI. Nilai volume ini diperoleh dari perhitungan berdasarkan data laju erupsi, pertumbuhan kristal, ukuran kubah lava.

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Maksud dan Tujuan

Maksud dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui pembagian atau penggolongan ,proses terbentuknya serta keterdapatan dari mineral industri tersebut
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui untuk mengetahui jenis –jenis mineral industri yang ada di indenesia serta cadanghan dari 1mineral tersebut.
1.2.Latar Belakang
Mineral merupakan sumber daya alam yang pembentukannya memerlukan waktu yang jutaan tahun dan sifat utamanya tidak terbarukan .Mineral dapat dimanfaatkan sebgaai bahan baku dalam industri dan produksi .dalam hal yang demikian mineral sebagai bahan galian .Pemerintah Indonesia membagi bahan galian menjadi 3 golongan yaitu :
 Bahan galian yang strategis disebut pula bahan gal;ian golongan A terdiri dari minyak bumi ,bitumen cair ,lilin beku ,gas alam ,nikel kobalt dan timah
 Bahan galian vital yang disebut juga bahan galian golongan B terdiri atas besi ,mangan ,klorm ,tima seng ,emas ,platina .
 Bahan galian non strategis dan non vital disebut pula sebagai bahan galian golongan C terdiri atas nitrat ,nitrit dan fosfat garasm batu dan asbes
Bahan galian industri termasuk dalam bahan galian golongan C walaupun beberapa termasuk dalam bahan galian yang lain,Secara geologi bahan galian tersebut terdapat dalam batuan beku ,sedimentr dan metamorf

Bab II
PENGERTIAN DAN PENGGOLONGAN
II. Pengertian
Menurut undang –undang no 11 tahun 1964 tentang ketentuan –ketentuan pokok pertambangan maka mineral industri meriupakan unsur –unsur kimia ,mineral –mineral bijih dan segala macam batuan mulia yang merupakan endapan-endapan alam .
II.2.Penggolongan
Peraturan Pemerintah (PP) tentang penggolongan bahan-bahan galian No. 25 tahun 1964 berada pada pasal 1 adalah :
• Golongan bahan galian yang strategis adalah :
 Antrasit, semua jenis batubara muda.
 Besi, titanium, Vandanium Wolframit, Chromium, Nikel, Cobalt, Mangan, Timah putih, Molybden.
 Thorium, Radium, Zirkon, Serium, Bauxit, dan Kriolit.
 Minyak bumi, lilin bumi, semua jenis bitumen cair, semua gas yang mudah terbakar.
 Semua jenis bitumen padat dan aspal.
• Golongan bahan galian yang vital adalah :
 Emas, Platina, Raksa, dan perak.
 Belerang, Silinium, Telurium, Arsen, Antimon, Bismuth.
 Osmium, Peladium, Iridium, Niobium, Tunyalium, Lithium, Ruthenium, Indium, dan logam-logam tanah yang lain.
 Magnesium, Kadmium, Barium, Strontium, dan Kalsium.
 Nitrat-nitrat, Fosfat-fosfat, Yarosit, Tawas, Trusi, Kyanit, Andalusit, Garambatu, dan Flurit.
 Piropillit, Mika, Asbes, Piezo, Kuarsa – listrik, Grafit, dan tanah diatomae.
 Kaolin, Pasir kuarsa, Gips, dan Feldspar.
 Batu permata, setengah permata dan intan
 Yodium, Bromium, Klor, dan Persenyawaannya.
• Golongan bahan galian yang tidak termasuk dalam golongan A dan B adalah :

Published in: on 22 January 2010 at 4:40 pm  Leave a Comment  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://one2land.wordpress.com/2010/01/22/pembentukan-mineral-felsfar-jenis-palgioklas-daerahgunung-merapi-jawa-tengah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: