Cybersmut dan Cybersex: Digitalisasi Syahwat, Robotisasi Tubuh


Sigit Djatmiko
Peminat Kebudayaan
Anggota Redaksi sudut.or.id
Email : sigitdj@indonet.com
Anda dapat menemuinya di Portal Kebudayaan dan Tafsir

Ana titir jroning rasa
tengara retu kang wis nyasmitani
mring ragaku mring ragamu:
bakal teka wisana
ing resmining saresmi karobah eluh
lan bakal sirna samsara
luluh ing asih lan pati [1]
Dalam lirik di atas, yang digubah dengan indahnya oleh Goenawan Mohamad, narasi mengenai seks telah melepaskan diri dari sekedar representasi aktivitas jasmani. Seks telah mengalami sublimasi dan lantas menjadi simbolisasi yang menggetarkan tentang maut: pesona senggama yang berjalin-berkelindan dengan bayang-bayang kematian. Aktivitas seksual, dalam konteks itu, dengan demikian hanya dimaksudkan sebagai penanda, metafora, atau pasemon atas pokok persoalan lain lagi, yang barangkali bisa terkesan tak saling bersangkut-paut,[2] ialah sesuatu yang immaterial, mistis, spiritual dan filosofis; perlambang yang menggaungkan kembali misteri penciptaan dan tujuan akhir eksistensi manusia. Pembacaan atas teks simbolis demikian itu, kendatipun berbicara tentang seks, sudah barang tentu mustahil memprovokasi dorongan syahwat pembacanya, melainkan justru akan merangsang kuriositas, perenungan, pengetahuan, kepuasan estetis, dan sikap-sikap asketis, yang oleh sejumlah filsuf seperti Plato, Epikurus, atau Agustinus — untuk menyebut beberapa nama — bahkan dianggap bertolak-belakang dengan hasrat-hasrat jasmani.[3] Pada tataran ini, pemaknaan atas seks lantas menjadi persoalan yang samasekali tidak sederhana.
Dalam khasanah kepustakaan klasik, memang ada beberapa kitab yang menampilkan hubungan seks, kemanunggalan antara lingga dan yoni, sebagai simbolisasi mistik seperti lirik tembang di atas, semisal kitab Gatoloco, Centhini, Prem Sagar dan Gita Govinda. Bisa dicatat pula sejumlah kitab yang memang bertujuan mengetengahkan seks pada dirinya sendiri, namun tidak dalam konteks memprovokasi fantasi erotis, melainkan dalam kerangka penyusunan suatu doktrin atau filsafat mengenai seks, seperti kitab Kamasutra, Asmaragama, dan Ars Amatoria. Sementara itu, dalam khasanah sastra beberapa novel pernah dituding melanggar kesusilaan pada zamannya, seperti Madame Bovary karya Gustave Flaubert, Ulysses dari James Joyce, atau Lady Chatterley’s Lover karangan DH Lawrence. Roman Belenggu karya Armijn Pane yang terbit pada tahun 1940-an pun pernah dianggap kurang senonoh pada masa itu, hanya karena mengisahkan bahwa pasien perempuan dokter Sukartono tersingkap kainnya sehingga terlihatlah pahanya.[4] Tetapi bagaimanapun juga, sejumlah kitab dan karya sastra itu sudah amat jauh dari kesan cabul di mata pembaca zaman sekarang yang mengonsumsi teks, gambar, film, serta kenyataan-kenyataan lain yang jauh lebih ekstrem dan edan.
Dibandingkan dengan pelbagai karya di atas, seksualitas akan tampil dalam wajahnya yang amat jauh berbeda jika kita membaca, umpamanya, novel-novel underground karangan Enny Arrow [5] yang memang begitu vulgar dan mengekspos segala kebanalan seks secara terang-terangan. Penulisan novel stensilan ini tentunya memang dimaksudkan untuk menggugah syahwat pembacanya, dan sudah barang tentu tidak bertujuan menyimbolisasikan apa-apa selain menyuguhkan fantasi aktivitas seksual yang badaniah itu sendiri, kendatipun fakta bahwa teks-teks demikian itu ada dan beredar secara sembunyi-sembunyi di tengah masyarakat mungkin bisa menyiratkan kenyataan tertentu di luar teks, semacam berlangsungnya represi moral yang terlampau berlebihan atas kehidupan seksual masyarakat, adanya kemunafikan sosial yang terpendam, serta pelecehan diam-diam atas nilai-nilai yang berlaku.
Dan zaman memang terus berubah. Representasi seksualitas serta pornografi dalam lanskap sosial pun mengalami transformasi yang signifikan. Pada awal era 1980-an banyak remaja yang barangkali sudah dibikin cukup terperangah oleh novel-novel subversif karangan Enny Arrow atau serial Nick Carter.[6] Namun, sejalan dengan perkembangan teknologi audio-visual, dominasi teks mesum itu dalam kancah pornografi lantas tersisihkan oleh membanjirnya kaset-kaset video porno, yang kemudian diikuti oleh VCD porno yang popularitasnya masih bertahan hingga sekarang dan begitu mudah diperoleh di tempat-tempat penyewaan VCD, baik di kota besar maupun dusun-dusun pinggiran,[7] dengan sejumlah kategori dari yang biasa-biasa saja hingga yang terasa menjijikkan, dari yang hardcore hingga softcore, dari perilaku seksual yang dianggap “normal” hingga yang “menyimpang”. Bahkan VCD porno versi Indonesia dengan para pemain pribumi rupanya juga telah diproduksi secara massal dan beredar luas. Yang cukup popular di antaranya berlabel “Anak Ingusan” dan “Kok Loyo?”. Tertangkapnya para aktor dan aktris porno lokal itu oleh pihak kepolisian menjadi berita hangat di media massa akhir-akhir ini, dan justru kian menghasut rasa penasaran orang untuk menonton rekaman adegan syur yang mereka lakukan.
Kendati demikian, kehadiran media audio-visual mesum ternyata tak menghapus samasekali keberadaan pornografi dalam bentuk teks, meskipun media penyebaran teks yang tak senonoh itu telah mengalami perubahan yang sungguh revolusioner. Pornografi tekstual yang semula beredar melalui media cetakan secara terbatas dan bergerilya kini membanjiri kita tanpa hambatan melalui jaringan internet, dalam bentuk kisah-kisah cabul yang diedarkan melalui mailing-list maupun yang tersedia di situs-situs porno sehingga siap dibaca atau di-download oleh siapapun, dan yang tentu saja berjalan seiring dengan peredaran rekaman video, foto-foto dan kartun porno yang tak terbilang jumlahnya di dunia cyber yang begitu mudahnya diakses oleh para netters dari seluruh pelosok bumi. Teknologi internet telah menyediakan kemudahan luar biasa untuk menyebarluaskan apapun, termasuk pornografi, yang dikarenakan medium penyebarannya lantas popular dengan sebutan cyberporn, digital porn, atau cybersmut.[8] “Electronic, computer-mediated, and post-biological systems are now a fundamental part of our daily sex life and are playing a significant role in the transformation and globalization of cyberculture.” [9] “And with every new digital innovation, porn is being reshaped, transformed into something that … in many ways represents a far more significant break with the past.” [10]
Terminal pornografi di dunia maya tentu saja adalah situs-situs porno. Para netters Indonesia tentunya sudah tak asing lagi dengan situs-situs lokal favorit yang menyuguhkan segala jurus pornografi semacam “Pondokputri”, “17tahun.com”, “Ceweqmatre”, “Kramat Tunggak” dan sebagainya, ataupun pelbagai mailing-list porno semacam “Genjotan Asia”, “Bursasex”, atau “Cerita-cerita Seru” yang uniknya memakai slogan yang dengan cerdasnya memelesetkan motto majalah Tempo: “Enak di-Klik tur Saru.”.
Bagaimanapun juga, cybersmut pada hakikatnya adalah pornografi sebagai komoditas, yang di-upload ke jaringan internet sehingga menjangkau konsumen seluas-luasnya, dan memberikan kemungkinan lebih besar untuk menangguk laba bagi mereka yang telah menginvestasikan kapital ke dalam “bisnis fantasi erotis” itu. Menurut Paul Ham, penerbit majalah e-business http://www.businessgene.com dalam sebuah tulisan di Sydney Morning Herald, akses terhadap situs-situs porno sedemikian besar sehingga menghasilkan nilai omset setara dengan 1,3 miliar dolar Australia setahunnya.[11] Dengan demikian, motif yang ada di balik fenomena cyberporn sebetulnya cukup klasik, ialah logika kapitalisme yang tak lain adalah akumulasi modal, kendatipun pemanfaatan internet sebagai medium diseminasi komoditas mesum itu bisa menimbulkan kejutan yang samasekali tidak klasik dan mungkin belum pernah terjadi sebelumnya, terutama dikarenakan sifat internet yang sangat aksesibel dan tak mempan sensor. [12]
Sebagaimana dilaporkan majalah Fortune [13], perilaku kecanduan terhadap seks kini telah dengan parahnya menjangkiti para eksekutif perusahaan sehingga menimbulkan ancaman serius terhadap kelancaran dunia bisnis dan kinerja perusahaan-perusahaan terkemuka. Salah satu biang keladinya yang terpenting tentu saja adalah internet, yang menyediakan kemungkinan dan dorongan untuk memanjakan dan meliberalisasikan hasrat seksual manusia — sebuah kenyataan paradoksikal karena di lain sisi internet adalah teknologi garda-depan yang diharapkan sebagai jalan tol yang mampu mendongkrak lancarnya kegiatan bisnis mutakhir dan mempercepat akumulasi kapital: Then, of course, there is the Internet, which brings porn right into your study or office. It’s free. It’s convenient. You probably won’t get caught (which is important, since fear is a powerful impulse control for a lot of people). You definitely won’t get AIDS. Want to see? Just close your office door and, for starters, type in Persian Kitty… [14]

Berikut ini cuplikan kisah dan pengakuan dari seorang pecandu seks yang telah menghabiskan waktunya untuk menjelajah situs-situs porno, menyalurkan energinya ke dalam fantasi dan masturbasi, sehingga nyaris memporak-porandakan karirnya:
A 42-year-old television producer in the Dallas area says he nearly sabotaged his career three years ago when he began using the Internet. Until then he’d mostly buy girlie magazines, throw them away, and see how long he could go (usually two weeks) before buying more. But when he began to surf porn sites on the Web, it consumed him. Before long he found that instead of working on his documentaries, he was locking the door of his home office (so his wife wouldn’t catch him) and spending seven hours of his ten-hour workday downloading porn and compulsively masturbating. “My work was getting very, very stacked up. I lost prestigious jobs because of it,” he says. “It was to the point of paralyzing my business.” He is now in recovery with Sex Addicts Anonymous. [15]
Seksualitas dan pornografi agaknya adalah tema yang bakal semakin mengharu-biru kehidupan kontemporer kita yang ditengarai oleh hadirnya jalan tol informasi. Barangkali benar apa yang pernah diungkapkan Henry Bergson bahwa “Daya tarik seks adalah topik utama peradaban kita”; dan Malcolm Muggeridge: “Orgasme telah menggantikan Salib sebagai pusat kerinduan dan citra pemenuhan.” [16] Tak beda dengan gejala-gejala kultural lainnya, pornografi kontemporer adalah salah satu pengejawantahan dari pertarungan terus-menerus antara apa yang diistilahkan Sigmund Freud sebagai Eros dan Thanatos, Naluri Kehidupan dan Naluri Kematian, Prinsip Kesenangan dan Prinsip Kenyataan — dorongan-dorongan fundamental dalam psike manusia yang lantas dengan cerdasnya ditangkap, dikendalikan, dan dimanfaatkan oleh para penggembira ekonomi pasar, dengan didukung oleh teknologi digital dan diberi landasan nilai-nilai oleh para cyber-philosophers dan cyber-religionists. Masyarakat (kapitalisme) global, menurut Jean Baudrillard dalam Simulations, adalah sebuah masyarakat yang di dalamnya segala sesuatu berkembang menuju titik yang melampaui (beyond), menuju titik hyper, [17] sehingga seksualitas pun berkembang menuju hypersexuality, menuju penghancuran diri dan strategi fatal. Kapitalisme kontemporer, ekonomi rasional yang tengah melakukan eksodus menuju ekonomi mimpi, ketidakwarasan, dan histeria massa: Such worlds of fascination, bright lights, electric sound, and dazzling night-life were almost tailor-made to bring forth the newly diagnosed disorder of mass hysteria. [18]

Yang saya temukan … adalah sebuah subkultur terbesar yang pernah terekam dalam sejarah, sebuah negeri elektronik maya. Terdiri atas komunitas swadaya, dunia bayangan ini tak memiliki ruang, tak tercatat dalam sensus, namun dihuni oleh orang dari seluruh penjuru dunia. Setiap hari jutaan orang pulang dari sekolah atau tempat kerja, menyalakan komputer mereka, dan berduyun-duyun menghilang ke dalam realitas lain. [19]
Perhaps we’ll recognize each other, and perhaps not. But whatever body you choose, and whatever subject position you have managed to occupy, we will meet again in that space. So I’ll see you in cyberspace. Work there, play there, love there, but if you have sex there, be sure to use a modem.[20]
If when we are in cybersex we are leaving the classical earthly bodily sexual feeling for one another, it is not in order to dematerialize our desire but to inhabit a new corporeality that is almost totally artificial, bionic, and prosthetic. [21]
Internet bukanlah sekedar peranti biasa. Sebagai temuan teknologi mutakhir, jaringan komunikasi global itu telah menciptakan sebuah negeri surealis, tanah antah-berantah, republik imajiner dengan nilai-nilai dan hukum-hukumnya sendiri, sebuah ruang maya yang terlepas dari kenyataan fisik, yang tak tercerap oleh pancaindera namun bisa dialami. Internet telah meleburkan sekat antara fakta dan fantasi, membobol dinding pembatas antara realitas dan imajinasi.
Dalam kata-kata John Perry Barlow — sang rasul dunia maya — dalam hujatannya terhadap pemerintah AS yang berniat memberlakukan The Telecom “Reform” Act of 1996, cyberspace adalah “sebuah dunia yang ada di mana-mana sekaligus tak ada di mana-mana, dan bukan tempat di mana jasad-jasad berada” [22]. Dan dalam hujatan yang lantas ia sebut “Deklarasi Kemerdekaan Dunia Maya” itu, Barlow menegaskan :
“Pemerintah-pemerintah Dunia Industri, kalian raksasa-raksasa daging dan baja yang payah, aku datang dari Dunia Maya, rumah baru bagi Ruh. Atas nama masa depan, kuminta kalian dari masa silam meninggalkan kami sendirian. Kehadiran kalian tak kami kehendaki. Kalian tak punya kedaulatan di tempat kami berkumpul. Kami tak memiliki pemerintahan hasil pemilu, tak pula kami menginginkannya … Kunyatakan bahwa ruang sosial global yang tengah kami bangun sepenuhnya bebas dari tirani yang kalian coba timpakan pada kami. Kalian tak punya hak moral untuk memerintah kami dan tak pula kalian memiliki metode pemaksaan tertentu yang perlu kami cemaskan. … Konsep hukum kalian tentang hak milik, pengungkapan pendapat, identitas, gerakan, dan konteks tidak berlaku bagi kami. Konsep-konsep itu didasarkan pada materi. Dan tak ada materi di dunia kami. Identitas kami tiada berjasad, sehingga, berbeda dengan kalian, kami tak bisa diperintah berdasarkan paksaan fisik. … Kami hendak membangun peradaban Ruh di Dunia Maya. Semoga dunia ini lebih manusiawi dan adil daripada dunia sebelumnya yang telah dibangun oleh pemerintah kalian.” [23]
Sebagaimana yang terjadi dalam dunia sehari-hari, dan sebagaimana makhluk hidup dalam dunia nyata di mana seks merupakan salah satu topik dan aktivitas sentral kehidupan, manusia-manusia yang bermigrasi dan menghuni republik maya — para avatar atau cyborg — pun berupaya menerjemahkan syahwat mereka ke dalam ruang-lingkup baru, negeri imajiner itu: seks tanpa melalui kontak tubuh, hubungan kelamin di mana gejolak birahi, ereksi, dan penetrasi disalurkan melalui kata-kata di layar kaca, percintaan tanpa kepastian identitas antara “aku” dan “dia”, mode kanalisasi libido kontemporer, senggama dunia ilusi, technosex, cybersex!
Menurut Robin Hamman [24] dalam risetnya mengenai cybersex yang berlangsung di ruang-ruang ngobrol (chat-rooms) America Online, terdapat dua jenis cybersex: (1) computer mediated interactive masturbation in real time, (2) computer mediated telling of interactive sexual stories (in real time) with the intent of arousal. Ringkasnya, chatting yang bertujuan membangkitkan rangsangan seksual sehingga mencapai kepuasan dengan cara masturbasi. Pada jenis pertama, para pelaku saling mengetikkan instruksi dan deskripsi dengan satu tangan dan bermasturbasi dengan tangan lainnya. Pada jenis kedua, para pelaku saling berbagi kisah erotis sehingga membangkitkan syahwat mereka sendiri maupun para users lainnya. Banyak kegiatan demikian itu yang kemudian berlanjut ke “hubungan seks” melalui telepon (phone-sex) atau bahkan, bila saling cocok, ke hubungan seks 3-dimensi alias persetubuhan di dunia nyata.
Tetapi, berdasarkan sejumlah pertimbangan, seks 3-D tidak selalu menjadi pilihan yang tepat. Seks 2-D lebih disukai justru karena kegiatan itu lebih aman dan mengasyikkan, dalam arti para pelakunya bisa menyembunyikan identitas-diri di balik anonimitas komputer sehingga privacy lebih terjaga dan terbebas dari rasa malu, bisa bereksperimen dengan berbagai macam jati-diri dan pencitraan-diri, bebas berganti-ganti pasangan, bisa merakit idealisasi dan fantasinya sendiri mengenai raut tubuh pasangannya, terhindar dari ancaman penyakit kelamin, dan sebagainya. “Cybersex is better than porn because it’s free, it’s there 24 hours a day, 7 days a week, and it’s interactive, with a real person on the other hand. Plus it’s a lot safer than a one-night stand in today’s world of AIDS.” [25] Daya tarik cybersex yang aman inilah yang kemudian ditangkap sebagai peluang oleh industri-industri pornografi terkemuka untuk memproduksi berbagai aksesoris — yang disebut oleh Howard Rheingold sebagai teledildonics — yang konon mampu meningkatkan kenikmatan dalam cybersex seakan-akan semuanya terjadi dalam kenyataan. [26]

BeriKuT ini ringkasan pengalaman dari tiga responden dalam penelitian Robin Hamman: [27]
*** Bagi Rebecca real sex memang jauh lebih indah dan memuaskan ketimbang cybersex, namun toh cybersex tetap lebih menyenangkan ketimbang bermasturbasi sendirian, karena cybersex bersifat interaktif, resiprokal, sehingga dengan cybersex ia bisa mencapai orgasme lebih cepat. Dikarenakan keyakinan-keyakinan moralnya, dan karena ia KhAwAtir terjangkit virus HIV, real sex bukanlah pilihan yang tepat baginya. Cybersex-lah alternatif yang aman dan nyaman. Cybersex memungkinkan dia bereksperimen dengan aktivitas-aktivitas seksual yang baru, yang tak bisa dia lakukan dalam kehidupan nyata; memungkinkan dia untuk mengeksplorasi dan merasa nyaman dengan tubuh dan seksualitasnya sendiri, yang tak pernah ia rasakan sebelum ia melakukan cybersex. Bagi Rebecca, medium komputer telah memBuKaKan ruang bagi penemuan-diri dan transformasi-diri.
*** Alison adalah seorang janda setengah baya yang telah bercerai sepuluh tahun silam. Selama menjanda, Alison seakan telah kehilangan diri-seksualnya. Ia tak pernah berkencan dan tak pernah melakukan hubungan intim dengan siapapun. Kendati ia sangat menyayangi anak-anaknya, ia tak percaya bahwa ia akan pernah jatuh cinta lagi pada seorang pria. Namun kemudian ia bertemu dengan REx yang sama kuatnya sekiranya itu terjadi di dunia nyata. Ia rasakan hubungannya dengan Rex sebagai sesuatu yang “spiritual”; ia merasa sangat dekat, aman dan terlindung. Mereka berdua pun melakukan cybersex, dan apa yang dirasakan Alison sesudahnya adalah rasa letih penuh kepuasan — kepuasan yang serupa dengan yang ia peroleh dalam hubungan intim di dunia nyata. Medium komputer telah kembali diri-seksualnya. Akan tetapi, selama ia jatuh cinta kepada Rex, batas antara diri-online dan diri-offline menjadi kabur baginya. Ia mengharapkan hubungan itu berlanjut ke dunia nyata. Namun Rex menolak untuk memindah romantika mereka dari layar komputer ke layar kehidupan nyata, menolak bertemu Alison dalam perjumpaan tatap-muka. Yang kemudian terjadi adalah patah-hati di dUnIa dunia nyata. Alison pun menjadi sadar bahwa hubungan online seringkali tak mampu menembus batas antara yang maya dan yang nyata.
*** Rob melakukan cybersex dengan niat main-main. Di ruang maya, ia kerap mengaku sebagai wanita dan berhubungan intim dengan para pria, dan hanya sesaat sebelum pasangan prianya itu mencapai orgasme, tiba-tiba Rob mengaku bahwa dirinya pria juga, sehingga pasangAnNyA akan merasa sangat terguncang, malu, dan tertipu. Tindakan Rob ini bisa menimbulkan efek yang berjangka panjang kepada para korbannya. Mereka bisa kehilangan kepercayaan kepada orang lain yang tak betul-betul mereka kenal dan merasa tak nyaman dengan aktivitas seksualnya sendiri. Rob juga kerap melakukan cybersex dengan para wanita, menyimpan transkrip “percakapan” mereka dalam bentuk file, dan mengirimkannya ke banyak orang yang nama keluarganya (surname) sama dengan si wanita atau yang kota asalnya sama dengan si wanita. Rob kadang dihadiahi foto telanjang dari para wanita pasangan mainnya, dan ia segera mengirimkannya kepada keluarga si wanita atau banyak orang lain. Para korban tindakan Rob bisa kehilangan privacy seksual mereka. Apa yang dilakukan Rob serupa dengan perkosaan atau pelecehan seksual. Rob merasa senang dengan tindakannya, seperti ketika ia mempermainkan tokoh-tokoh dalam video game, padahal orang-orang yang ia permainkan itu adalah manusia nyata. Dalam hal ini Robin Hamman menyimpulkan, jika perkosaan adalah kejahatan terhadap “diri”, maka perkosaan di dunia maya pun merupakan perkosaan yang sesungguhnya, yang tidak kurang seriusnya dengan kejahatan yang terjadi di dunia nyata.
Jatuh cinta, patah hati, cyber-romace, cybersex, cyberorgy, pelecehan seksual, perkosaan dan pengkhianatan adalah Pengalaman-pengalaman yang agaknya akan semakin memeriahkan komunitas republik imajiner itu, menghangatkan ruang-ruang chatting yang setiap harinya riuh-rendah oleh jutaan orang dari berbagai penjuru bumi. Dan tak beda dengan pelbagai aspek lain dalam komunikasi yang dijembatani komputer, relasi di ruang-ruang chatting itu sepenuhnya bertumpu pada kepercayaan bersama terhadap fantasi.
Sebagaimana dipaparkan Allucquere Rosanne Stone, para netters beranggapan bahwa komputer bukanlah sekedar alat, melainkan semacam “medan pengalaman sosial.” Komputer memungkinkan para penggunanya berkomunikasi dengan orang-orang lain serupa dengan telepon, yang oleh Stone disebut sebagai narrow-bandwidth medium. Berbeda dengan interaksi tatap-muka di dunia nyata yang bersifat wide-bandwidth, di mana postur tubuh, gerak-gerik anggota badan, ekspresi wajah, sorot mata, tinggi-rendah suara, dan sebagainya menjadi bagian integral dari komunikasi dan bisa tersampaikan secara jelas, dalam narrow-bandwidth medium informasi-informasi visual itu tak dapat tersampaikan. Efek dari penyempitan bandwidth itu dengan demikian adalah dilibatkannya “fasilitas-fasilitas interpretasi” atau “kemampuan imajinatif” dari para partisipan komunikasi, dalam takaran lebih besar dibandingkan dengan yang terjadi pada interaksi tatap-muka. [28] Untuk Mengatasi kesenjangan yang diakibatkan oleh keterbatasan medium komunikasi dan untuk menggantikan pelbagai ekspresi non-verbal yang hilang dalam interaksi di dunia maya, maka diciptakanlah simbol-simbol tertentu — yakni emoticons — yang mampu mewakili ekspresi tubuh dan ungkapan emosi, seperti tersenyum, tertawa, cemberut, menjulurkan lidah, mengedipkan mata, dan sebagainya, sehingga komunikasi menjadi lebih hidup. [29]
Peran fantasi yang begitu menentukan inilah yang kemudian memudahkan idealisasi. Merupakan hal yang lazim bagi para cybersexers untuk menampilkan dirinya secara berbeda, potret diri yang lebih ideal di tengah komunitas maya, atau membayangkan partnernya dalam sosok yang sesuai dengan idealisasinya sendiri. Komunikasi yang tak terganggu oleh penampilan fisik ini jugalah yang mempercepat keakraban emosional di antara para chatters. “You don’t have all the distractions of how someone looks. It’s mind to mind and spirit to spirit talking. You focus on who he is, on the inside. Then if his outside is a little heavier or a little shorter than you expected, it doesn’t matter because you already love his soul.” [30] Di samping itu, menurut Sherry Turkle, relasi online mampu mencapai keakraban sedemikian cepat karena para partisipan merasa sendirian di tengah hamparan dunia maya yang tampak ganjil dan terpencil itu. [31]
Anonimitas di dunia maya pun mendorong para pengguna internet untuk merasa aman menyalurkan hasrat seksualnya, mewujudkan impian dan fantasinya, yang sebaliknya tak dapat mereka lakukan di dunia nyata. Gender, umpamanya, dalam kehidupan nyata merupakan salah satu institusi yang “disakralkan”, yang diatur dalam ritual agama dan undang-undang negara, memicu debat feminisme yang tiada habis-habisnya. Penampilan fisik pun, kendati terbuka bagi dilakukannya manipulasi kosmetika, pada dasarnya sulit diubah dan merupakan faktor penting yang turut menentukan identitas kita dalam kehidupan nyata. Namun di dunia maya, sebaliknya, setiap orang bisa memilih identitasnya sendiri, gambaran fisiknya sendiri, bergonta-ganti jenis kelamin (gender-switching atau gender-surfing) semudah mengganti nama; mengganti usia, kebangsaan, daerah asal, warna kulit dan sebagainya semudah mengetikkan kata-kata. Teknologi internet dengan demikian mampu merongrong pelbagai kepastian yang dikuduskan di dunia nyata, dan menyediakan ruang kemungkinan bagi setiap orang untuk mengkompensasikan nasibnya yang absurd, yang tak mungkin diubah sejak ia terlempar ke dunia ini tanpa berdasarkan kesepakatannya sendiri.
Di dunia maya, setiap kepastian bisa bermetamorfosis menjadi berjuta-juta pilihan dan kemungkinan. Dalam kata-kata Sherry Turkle, “manusia menjadi tuan dalam presentasi-diri dan penciptaan diri” sehingga “anggapan tentang ‘diri sejati’ yang hakiki perlu dipersoalkan.” [32] Teknologi internet telah mengubah pandangan kita tentang makna komunitas dan pola relasi, pengertian kita tentang diri sendiri dan orang lain. Dan berhadapan dengan terbukanya beraneka kemungkinan itu, seperti diungkapkan oleh Joseph Nechvatal, [33] cybersex bisa berarti bangkitnya daya psikis kita yang terpendam, kemampuan kita untuk terbebas dari penjara tubuh, dan mewujudkan simbiosis ruh dengan ruh, aurat dengan aurat, bersama semua orang lain dari segala penjuru dunia. “Interaktivitas seksual adalah kualitas yang kian dicari oleh banyak orang dalam semua aspek komunikasi, yang lazim diistilahkan sebagai ‘intercourse’. Interaktivitas fantasi seksual mendorong setiap orang untuk berpartisipasi di dalam bekerjanya sistem imajiner, baik sistem itu beroperasi dalam tataran konseptual, perilaku, maupun lingkungan, dan baik ia bersifat utilitarian, artistik, atau seksual. Publik menjadi kian sadar akan nilai ruang elektronik sebagai ruang transformasi seks pribadi, komunikasi, permainan, kegiatan belajar, dan informasi. Anggapan-anggapan kultural lama mengenai realitas tak bisa lagi menyesuaikan dirinya dengan kebutuhan akan fantasi yang dituntut oleh seks baru yang bersifat pasca-biologis, elektronik, dan online ini.”

Published in: on 22 January 2010 at 3:10 pm  Leave a Comment  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://one2land.wordpress.com/2010/01/22/cybersmut-dan-cybersex-digitalisasi-syahwat-robotisasi-tubuh/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: