Chatting Adalah Candu ? Facebook dan Twitter


Chatting ? “No Way, men !”, “Chatting adalah candu ! “. Ya, banyak memang kawan-kawan kita yang menolak untuk chatting apabila ia sedang surfing internet di warnet atau via PC di rumah. Sebagian malah ada yang lebih senang men-download lagu via Napster atau sekedar menenangkan gejolak biologis dengan mematok IP di situs-situs porno mutakhir. Memang, menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kimberly S. Young, P.hd, seorang ilmuwan AS yang pertama kali meneliti kasus Kecanduan Internet (Internet Addiction), dengan melakukan koneksi ke jaringan internet yang sifat mediumnya global dan interaktif ini si pengguna memang potensial sekali untuk menjadi Junkie atau Pecandu.
Di dalam penelitiannya tersebut, Kimberly membagi ke dalam dua kategori para Internet Junkies, yaitu pertama, mereka yang mengalami kecanduan “chatting” (ngobrol via internet) dan kedua, mereka yang kecanduan informasi (information junkie). Mungkin agak sulit bagi kita untuk membayangkan ada orang yang terobsesi pada informasi, tetapi setelah disajikan secara on-line, melalui beberapa kombinasi multi media dan hypertext, jelas akan menyebabkan ada sebagian diantara kita yang sulit memisahkan dirinya dari ketergantungan suplai berita yang tak pernah berakhir di Internet.
Chatting atau ngobrol via internet ini memiliki potensi besar bagi “kecanduan” atau paling tidak menjadi obsesif tak terkendali. Di luar perasaan-perasaan aneh yang menghinggapi kita ketika ngobrol ngalor ngidul dengan orang asing dari belahan dunia lain di internet dengan mudahnya, maka hal ini berpotensi untuk membuat satu dan setiap orang pengguna internet menjadi seorang selebriti instan di media tersebut untuk jangka pendeknya. Dengan bebas resiko sosialisasi tentunya. Banyak diantara pecandu chatting mengakui bahwa kemisteriusan dalam chatting adalah daya tarik paling utama dari media tersebut. Disamping memperbolehkan seseorang untuk mengatakan apa saja yang ia mau tanpa harus takut terkena konsekuensi-konsekuensinya—ditampar contohnya—membuat para chatter dapat menjadikan dirinya seperti apa saja yang ia inginkan, paling tidak untuk beberapa jam ia berada komunitas alam maya pilihannya sendiri tersebut.
Efeknya sama dengan penggunaan kostum di pertunjukkan, dimana orang dapat mengenakan pakaian yang mampu menutupi segala kekurangan yang ada pada dirinya. Koboi cyber, vampir, atau sejenisnya dapat mengungkapkan beberapa karakter inti dari kepribadian mereka dalam cara yang “lebih benar” dari yang selama ini teman kerja atau keluarganya saksikan. Pada saat yang bersamaan, “karakter” mereka tersebut dapat dikawinkan dengan berbagai karakter fantasi yang mana bisa jadi sama sekali tak pernah mereka alami di dalam kehidupan nyata sehari-harinya. (wendi)
Nah, sekarang mari kita coba membahas tentang kecenderungan meningkatnya penggunaan medium internet (baik lewat warnet atau PC di rumah) di kalangan underground kids di Indonesia. Sekarang ini tentunya kita tidak heran lagi jika secara kebetulan menemukan website-website milik band-band underground, indie label, distro, fanzine lokal dan yang sejenisnya di alam maya. Fenomena “Go Cyber” ini di kalangan scene underground kita memang baru “booming” mulai tahun 1998 yang lalu.
Beberapa grup local seperti BLOODY GORE, PUPPEN, GRINDBUTO, VILE, DEATH VOMIT membuat situs resmi bagi band mereka dengan harapan para penggila musik mereka dapat leluasa mendapatkan berbagai informasi seputar band dan sekaligus pula men-download lagu-lagu milik band kesukaan mereka tersebut. Sedangkan para scenester yang ingin mempublikasikan kiprah scene underground local di masing-masing kota mereka, beberapa diantaranya juga ada yang telah membuat situs resmi mereka di internet, misalnya BANDUNG HARDCORE, BOGORIOT, LOMBOK UNDERGROUND PURESICK COMMUNITY, BLEEDING SCENE, MEDAN UNDERGROUND, ANOREXIA ORGASM atau yang lebih kental spirit radikalisme perlawanannya semacam, LAWAN.ORG
Sederet indie label local dan distro yang ingin mengembangkan lebih jauh lagi jangkauan “pemasaran” dan “konsumen” mereka tak ketinggalan juga ikut terjun membuat situs-situs resmi, misalnya, EXTREME SOULS PRODUCTION (Bandung), THT UNDERGROUND (Jakarta), HARDER RECORDS (Bandung), DISTORSI LABEL (Bandung), CENTRA PRODUCTION (Malang), CORPORATE CHAOS (Jakarta). Untuk dapat mengunjungi alamat website-website tersebut ada baiknya kamu langsung saja mengklik ikon “LINK” di BisikCom. Paling tidak disana sekarang telah terdapat alamat sekitar 75 website musik underground local yang berhasil kita kumpulkan. Go check it out for yourself !
Membincangkan fenomena merebaknya grup-grup band underground lokal membuat situs resmi bagi band-band mereka rasanya masih kurang lengkap jika kita tidak menilik juga lebih dalam fenomena chatting musik underground di internet. Chatting tentang musik underground dengan sesama underground kids di seluruh Indonesia biasanya menggunakan fasilitas Mirc via DALnet (Kuala Lumpur) sebagai server yang menyediakan jasa koneksi internet relay chat-nya.
Jaringan Mirc adalah sebuah fasilitas diskusi interaktif yang virtual dimana seluruh orang dari berbagai belahan dunia dapat ngobrol atau berdiskusi tentang apa saja dalam waktu yang bersamaan (meniadakan batas, ruang dan waktu). Sebelum join di Mirc kita di minta untuk mengisi nama, alamat e-mail dan nickname sebelum mengkoneksikan komputer kita kepada server-server chatting.
Mirc-DALnetmemiliki ratusan bahkan mungkin ribuan channel yang memiliki topik atau karakter diskusi yang berbeda-beda temanya. Mulai dari chatting tentang cybersex, cari jodoh, download MP3, diskusi politik sampai musik underground ada semua disana. Untuk berdiskusi tentang musik underground dengan sesama anak underground lokal kamu dapat memilih untuk join di beberapa channel di bawah ini :
#DISTORSI (channel yang khusus membicarakan rock underground / mainstream)
#UTOPIS (channel yang membicarakan musik dan subkultur/kultur tandingan)
#INDOGRINDER (channel yang membicarakan seputar musik ekstrem/death metal)
#HIPMETALAREA (channel yang membicarakan seputar genre musik hip metal)
#YOUTH-ATTACK (channel yang membicarakan musik sebagai medium resistansi budaya)
#HACE (channel yang membicarakan musik-musik underground)
#INDOROCK (channel yang membicarakan berbagai genre musik rock mainstream)
#TERPULAS (channel musik underground scene Medan)
#INFERNO178 (channel musik underground scene Surabaya)
#MELODICMORNING (channel bagi penggemar musik melodic punk/HC)
#PUNKERS (channel para punk rocker local)
#PUPPEN (channel band hardcore metal Bandung)
#KOIL (channel band eksperimental rock dengan terkadang berdiskusi pornografi sedikit)
#REPUBLIK-UNDERGROUND (channel negara virtual di bawah tanah)
Percaya atau tidak, mereka yang terkenal sering mematok dirinya di depan layar kaca monitor berkawan dengan sinar radiasi dapat menghabiskan waktu minimal 2 jam sampai 5 jam hanya untuk ngobrol di alam maya Mirc-DALnet ini saja. Berbagai motif dan modus operandi individu-individu termanifestasikan dengan seksama melalui medium hasil perkembangan teknologi komunikasi yang cenderung membuat rasa “ketagihan” ini.
Banyak pula yang menuding bahwa mereka yang getol chatting (dikenal juga sebagai CHATAHOLIC) sebenarnya adalah pribadi-pribadi introvert yang memiliki masalah besar dalam menjalin hubungan komunikasi face to face. Entah karena pemalu, minder atau gagap verbal sehingga ia merasa lebih leluasa untuk berkomunikasi via Mirc. Tentu saja tudingan ini sekedar mitos yang belum pernah menjalani fase empirik sebuah riset yang bermetodologi ilmiah. Yah, sekedar hasil ngobrol di warung kopi begitulah kira-kira !

Seorang kawan perempuan saya bahkan merasakan dalam hidupnya di dunia ini jika sehari saja ia tidak bertegur-sapa dengan kawan-kawannya di alam virtual (Mirc) maka sebuah perasaan aneh yang tidak mengenakkan (dia memabahasakan sebagai “sakawnet”) akan terus menghinggapi dirinya. Obatnya cuma satu, serta tidak tersedia di Apotik, melainkan di warnet ! Bagi sebagian diantara kita kelihatannya ini memang mengada-ada, tapi terus terang yang mengalami kondisi lebih parah lagi dari kawan saya pun ada. Orang ini kerjanya cuma chatting, desain website, tidur, makan dan sekolah. Begitu terus kehidupan rutin 24 jam sehari-harinya ! cukup gila bukan ?
Belum terhitung mereka yang kecewa atau dikecewakan. Kenapa ? Ya, karena beberapa diantara mereka ada yang memang selain berdiskusi musik underground berjam-jam lamanya dalam sehari, setelah merasakan ikatan emosional yang cukup mendalam dan hangat via teks-teks chatting yang bergelora, pertemuan lebih lanjut naik grade-nya menuju ke pertemuan di alam nyata alias kopi darat (kopdar). Nah, disini biasanya banyak yang kecewa atau dikecewakan. Untuk menghindari semakin romantik dan sentimentalnya tulisan ini, maka saya meninggalkan semua itu dalam benak kawan-kawan masing-masing yang menurut saya sudah jauh lebih paham permasalahan “kecewa/dikecewakan saat kopdar” ini dibandingkan saya. (Hello to kawan-kawan yang sering kopdar antar kota, antar propinsi !).
Ah, apakah selamanya chatting menimbulkan dampak samping yang negatif ? Tentu tidak, kawan ! Banyak pula hal-hal yang sifatnya positif dan edukatif dapat kita ambil dari hasil getolnya kita ber-chatting-ria.
Dulu diantara kita yang aktif di masing-masing scene underground lokal pasti menjalin hubungan komunikasi lebih akrab dengan cara-cara yang konvensional, misalnya dengan telepon atau (ini yang lebih akrab) korespondensi/surat-menyurat. Namun sejak menggilanya harga perangko dan ongkos kirim surat (belum lagi resiko surat hilang atau rusak di tengah jalan) dan semakin populernya medium internet kini, makin banyak pula faedah yang para scenester rasakan.
Kawan saya yang sering menderita sakawnet tadi mengakui bahwa ia kini mendapatkan satu keterampilan yang awalnya tidak ia duga sebelum ia mengenal chatting. Ia mampu mengetik dengan 10 jari bahkan dengan mata terpejam sekalipun ! Hehehehehe. Benar-benar sambil menyelam minum air nampaknya.
Selain mengirim e-mail yang kecepatannya lebih ngebut beberapa kali lipat dari armada PT. Pos tercepat manapun, kita juga dapat berbincang-bincang langsung via chatting dengan kawan-kawan dari underground scene di luar pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Malaysia bahkan Afrika ! Tak heran selanjutnya kini telah banyak terbentuk kemudian berbagai komunitas cyber underground scene yang diwujudkan dalam bentuk channel-channel chatting di atas tadi. Semua urusan lebih efektif, efisien dan lancar via chatting. Ini bukan promosi dan yang pasti lebih “cool” dari iklan kecap nomor satu mana pun.
“Segala-galanya yang berlebihan pasti berdampak tidak baik”, begitu seorang bijak suatu waktu pernah berkata. Memang begitu banyak hal menarik dan tak terduga yang bisa kita dapatkan di alam maya Internet, namun mengalienasi diri kita selama berjam-jam lamanya sambil melotot dan mematung di depan layar monitor yang buas radiasinya hingga menjadi rutinitas harian, melupakan alam nyata yang lebih menarik dan realistis, menghindar dari tongkrongan yang natural di depan gang sambil bermain gitar bersama beberapa kawan atau terjun di sebuah demonstrasi jalanan guna membela hak-hak kaum tertindas tentu lebih Menarik dan Hidup !
Menembak jodoh pun tentu lebih menantang jika saling berhadap-hadapan langsung bukan ? Lebih gombal mana, merayu sedu-sedan sosotan di internet via teks atau menyorongkan setangkai mawar merah tepat di depan mukanya sambil menjejakkan satu dengkul ke bumi ? Agh………Jadi chatting itu Candu atau Hobbi nih ? Pilih sendiri lah ! Mau hidup atau mati ? Pro-choice ! Just wake yourself up and get real, the world outthere whether its awful or terrible, but I bet must be more exciting and more challenging than your new God, Internet ! Boycott Dehumanization by Technology !! (wendi)

Published in: on 22 January 2010 at 3:15 pm  Leave a Comment  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://one2land.wordpress.com/2010/01/22/chatting-adalah-candu-facebook-dan-twitter/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: