PENENTUAN JENIS SESAR BERDASARKAN ANALISIS INDIKASI SESAR DENGAN METODE STEREOGRAFIS DAERAH SAWA KECAMATAN SAWA KABUPATEN KENDARI PROPINSI SULAWESI TENGGARA

PENENTUAN JENIS SESAR BERDASARKAN ANALISIS INDIKASI SESAR DENGAN METODE STEREOGRAFIS DAERAH SAWA KECAMATAN SAWA KABUPATEN KENDARI
PROPINSI SULAWESI TENGGARA

PROPOSAL SPESIFIKASI

Diajukan Oleh :
NAHMAR HAMID
D 611 99 061

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN

M A K A S S A R
2 0 0 3
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Aplikasi ilmu geologi dalam pengolahan sumber daya alam, didasarkan pada hukum-hukum alam, sebagai calon ahli geologi dituntut untuk penguasaan pengetahuan dasar geologi, kemampuan menganalisis dan menginterpretasikan data yang selanjutnya akan diterapkan dalam penelitian geologi.
Penelitian geologi pada Daerah Sulawesi Tenggara masih sangat kurang dan umumnya masih bersifat regional, sehingga masih dibutuhkan suatu penelitian geologi yang lebih detail mencakup kondisi geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi serta aspek geologi teraplikasi lainnya.
Hal tersebutlah yang melatarbelakangi penulis melakukan penelitian geologi , dalam penyelesaian tugas akhir di Daerah Sawa Kecamatan Sawa, Kabupaten Kendari Propinsi Sulawesi Tenggara.
Studi mengenai analisis sesar berdasarkan struktur geologi minor secara dinamis sedang berkembang dengan pesat, selain itu keberadaan indikasi sesar dalam zona sesar memperlihatkan kenampakan yang ideal untuk dikaji sebagai studi khusus dengan melihat beberapa faktor yang dapat mendukung analisis sesar, antara lain :
 Data-data indikasi sesar lainnya mudah dijumpai berdasarkan pemetaan geologi pendahuluan baik berupa bidang sesar, kekar, zona hancuran dan breksiasi.
 Dengan analisis struktur geologi secara dinamis yang dilakukan pada suatu areal yang kecil saja, namun dapat mengungkapkan jenis struktur geologi secara tepat tergantung ketelitian pendataan lapangan.
 Mencoba menghubungkan hasil analisis struktur secara dinamis dengan pendataan geologi lainnya, dikaitkan dengan geologi regional
Hal tersebut yang melatarbelakangi dikajinya penentuan jenis sesar berdasarkan analisis indikasi sesar dengan metode stereografis.
Geologi Struktur adalah ilmu yang mempelajari arsitektur penyusun kerak bumi serta gejala-gejala geologi yang menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan bentuk (deformasi) dari batuan tersebut. Pemetaan geologi struktur tidaklah terlepas dari deskripsi litologi, sedimentologi, petrologi dan paleontologi. Hal tersebut yang menjadi faktor pelengkap dalam membuat interpretasi struktur geologi.
Analisis struktur geologi dapat dikategorikan dalam tiga langkah (McClay, 1987) adalah sebagai berikut :
 Analisis deskriptif : meliputi identifikasi dan melakukan pencatatan data struktur secara sistematis dalam buku catatan lapangan.
 Analisis kuantitatif : untuk mengetahui arah pergerakan struktur yang mana dapat dilihat langsung dilapangan atau dari peta topografi.
 Analisis dinamis : untuk mengetahui arah gaya dan tegasan menyebabkan pensesaran. Biasanya dilakukan secara matematis dengan proyeksi stereografis.
Dalam menginterpretasi struktur geologi suatu daerah sebaiknya digunakan dua analisis yaitu analisis deskriptif dan analisis kuantitatif atau analisis deskriptif dan analisis dinamis atau analisis kuantitatif dan analisis dinamis atau menggunakan ketiga analisis tersebut jika memungkinkan, untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.
I.2 Maksud dan Tujuan

Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan pemetaan geologi permukaan di Daerah Sawa dan sekitarnya dengan sekala peta 1 : 25.000 serta mengadakan suatu pengukuran struktur geologi antara lain lipatan minor, bidang sesar dan kekar dengan menggunakan metode proyeksi stereografis berdasarkan analisa klasifikasi sesar yang telah digunakan.
Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui kondisi geologi dengan menganalisis data meliputi aspek geomorfologi, stratigrafi, struktur dan sejarah geologi serta potensi bahan galian, juga secara spesifik melakukan analisis indikasi sesar menggunakan metode stereografis dalam penentuan jenis sesar berdasarkan klasifikasi Rickard, (1972).
I.3 Batasan Masalah

Penelitian geologi yang dilakukan ini didasarkan pada unsur-unsur geologi yang terpetakan pada sekala 1 : 25.000 dengan membahas permasalahan sebagai berikut :
1. Geomorfologi, Stratigrafi, Struktur geologi, Sejarah geologi, Bahan galian daerah penelitian,
2. Analisis sesar yang dilakukan dibatasi pada penentuan jenis sesar secara spesifik berdasarkan arah pergerakan relatif net slip struktur sesar dengan menggunakan klasifikasi Rickard, (1972).

I.4 Batasan Penelitian

Menentukan data struktur pada daerah penelitian untuk mendapatkan pergerakan dari arah sesar baik pada orde I , II dan seterusnya. Yang kemudian dari data tersebut akan didasarkan klasifikasi Rickard, (1972).

I.5 Hipotesis
Dimana untuk mengetahui jalur sesar agar nantinya dapat dijadikan suatu daerah yang layak pakai seperti daerah perumahan, lahan pertanian dan lain-lainnya.
I.6 Letak dan Kesampaian Daerah

Lokasi penelitian terletak di Daerah Sawa dan sekitarnya, yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Sawa Kabupaten Kendari Propinsi Sulawesi Tenggara (Gambar 1).
Secara geografis daerah penelitian terletak pada koordinat 122o22’00” sampai 122o27’00” Bujur Timur (BT) dan 03o45’00” sampai 03o50’00” Lintang Selatan (LS). Luas daerah penelitian yang diukur berdasarkan peta dasar bersekala 1 : 50.000 adalah 9,25 km x 9,25 km atau sekitar 85,563 km2.
Daerah ini tergambar dalam peta Lembar Pohara, nomor 2112-22 Edisi I tahun 1992 yang diterbitkan oleh Bakosurtanal Cibinong Bogor dengan sekala 1 : 50.000 yang diperbesar sebagai peta dasar dengan sekala 1 : 25.000.
Daerah penelitian yang terletak, sebelah utara Kotamadya Kendari ibukota dari Propinsi Sulawesi Tenggara. Jarak tempuh sekitar 65 km dari Kotamadya Kendari, dapat dicapai dengan kendaraan bermotor melalui jalan poros sekitar ,5 jam, yang sebelumnya telah menempuh perjalanan Makassar – Kendari sekitar 24 jam dengan kendaraan bermotor dan transportasi laut.

I.7 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2000 hingga selesai yang dimulai dari tahap persiapan hingga seminar hasil.

Gambar 1 Peta tunjuk lokasi daerah penelitian

I.8 Alat dan Bahan

Kelengkapan alat dan bahan selama penelitian dilakukan baik, dilapangan maupun di laboratorium sangat penting. Alat dan bahan yang digunakan selama penelitian berlangsung adalah sebagai berikut :
1. Alat dan bahan yang digunakan dilapangan terdiri dari :
• Peta topografi sekala 1 : 25.000 yang merupakan hasil pembesaran dari peta rupa bumi sekala 1 : 50.000 terbitan Bakosurtanal
• Palu dan kompas geologi
• Komparator klasifikasi batuan beku, sedimen dan metamorf
• Loupe dengan pembesaran 10 x, pita ukur atau roll meter
• Larutan asam klorida (HCl)
• Kantong untuk conto batuan
• Tas untuk conto batuan
• Alat tulis menulis
• Kamera foto dan roll film
• Perlengkapan pribadi lainnya.
2. Alat dan bahan yang digunakan dalam analisis laboratorium terdiri dari :
• Mikroskop polarisasi untuk analisis petrografi
• Kamera foto mikroskop palarisasi
• Roll film
• Sayatan tipis batuan
• Mikroskop binokuler
• Ayakan
• Alat tulis menulis
I.9 Peneliti Terdahulu

Beberapa ahli geologi telah mengadakan penelitian geologi yang sifatnya regional, pada daerah penelitian dan sekitarnya, yaitu :
 Rab Sukamto (1975), penelitian pulau Sulawesi dan pulau-pulau yang ada disekitarnya dan membagi kedalam tiga mandala geologi, dalam hal ini daerah penelitian termasuk dalam Mandala Sulawesi Timur.
 Rab Sukamto (1975), penelitian perkembangan tektonik sulawesi dan sekitarnya yang merupakan sintesis yang berdasarkan tektonik lempeng.
 Sartono Astadireja (1981), mengadakan penelitian geologi Kuarter Sulawesi Selatan dan Tenggara.
 Rab Sukamto dan Simanjuntak (1983), penelitian terhadap hubungan tektonik ketiga Mandala Geologi Sulawesi yang ditinjau dari aspek sedimentologinya.
 E. Rusmana, Sukido, D. Sukarna, E Haryanto dan T.O. Simanjuntak (1993), Memetakan daerah penelitian dalam Geologi Lembar Lasusua-Kendari, Sulawesi dengan sekala 1 : 250.000.

BAB II

GEOMORFOLOGI

II.1 Geomorfologi Regional

Secara regional daerah penelitian termasuk dalam lembar peta Lasusua – Kendari yang terletak pada lengan tenggara Pulau Sulawesi. Morfologi lembar Lasusua – Kendari dapat dibedakan menjadi empat satuan yaitu pegunungan, perbukitan, kras dan dataran rendah (Rusmana, dkk, 1993).
Pegunungan menempati bagian tengah dan barat lembar, perbukitan terdapat pada bagian barat dan timur, morfologi kras terdapat di PegununganMatarombeo dan di bagian hulu Sungai Waimenda serta Pulau Labengke.
Daerah penelitian terdapat pada morfologi perbukitan dan dataran rendah. Satuan perbukitan ini umumnya tersusun oleh batuan sedimen dengan ketinggian berkisar 75 – 750 meter diatas permukaan laut. Puncak yang terdapat pada satuan perbukitan adalah Gunung Meluhu (517 meter) dan beberapa puncak lainnya yang tidak memiliki nama, sungai di daerah ini umumnya berpola aliran meranting (dendritik). Dataran rendah terdapat didaerah pantai dan sepanjang aliran sungai besar dan muaranya, seperti Aalaa Kokapi, Aalaa Konaweha dan Aalaa Lasolo.

II.1.1. Geomorfologi Daerah Penelitian

Geomorfologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari bentangalam dan proses-proses yang membentuk bentangalam. Pembentukan bentangalam dari suatu daerah merupakan hasil akhir dari proses geomorfologi yang disebabkan oleh gaya endogen dan eksogen. Bentangalam tersebut mempunyai bentuk yang bervariasi dan dapat diklasifikasikan berdasarkan faktor-faktor tertentu antara lain proses, stadia, jenis litologi penyusun serta pengaruh struktur geologi atau tektonik yang bekerja (Thornbury, 1969).
Pembagian satuan geomorfologi pada suatu daerah penelitian, perlu dilakukan metode pendekatan yang terdiri atas pendekatan parametris, bentuk dan genetik (Hindartan dan Handayana, 1994).
Pendekatan parametris didasarkan atas unsur-unsur geomorfologi yang besarnya dapat diukur secara kuantitatif meliputi luas, beda tinggi, dan besar persentase kemiringan lereng yang selanjutnya mengacu pada klasifikasi relief yang dikemukakan oleh (van Zuidam,1983 dalam Hindartan dan Handayana, 1994). Seperti yang terlihat pada tabel 2.1.

Tabel 1 Klasifikasi relief menurut (van Zuidam, 1983 dalam Hindartan dan Handayana, 1994).

SATUAN RELIEF SUDUT LERENG (%) BEDA TINGGI (M)
Datar atau hampir datar 0 -2 140 > 1000

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka daerah penelitian dapat dibagi ke dalam 3 (tiga) satuan geomorfologi, yaitu :
1. Satuan Perbukitan Denudasional
2. Satuan Pedataran Fluvial
3. Satuan Pedataran Pantai
1. Satuan Perbukitan Denudasional

Satuan ini menempati 83% atau sekitar 71,02 km2 dari luas keseluruhan daerah penelitian, terletak pada bagian barat dengan arah penyebaran relatif utara-selatan, meliputi Daerah Pasiambu, Lalembo, Sawa, Pekapoa, Matabubu dan Tondowatu. Bentuk morfologi permukaan dari satuan ini adalah perbukitan dengan besar persentase kemiringan lereng antara 14% – 20% dan berada pada ketinggian 50 m – 200 m di atas permukaan laut. Morfologi ini dicirikan oleh proses denudasi, berupa proses pelapukan, erosi dan gerakan tanah.
Proses pelapukan dan erosi yang bekerja sangat kuat, dimana pengaruh erosi vertikal masih lebih dominan dibandingkan dengan erosi lateral. Hal ini dicirikan dengan keadaan lembah ralatif curam dan disepanjang lereng banyaknya dijumpai erosi alur berupa rill dan gully, bentuk penampang hulu sungai pada umumnya menyerupai “V” dan pada hilir sungai membentuk “U” serta bentuk dari puncak bukit relatif membulat juga dijumpai adanya bukit-bukit sisa.
2. Satuan Pedataran Fluvial

Satuan geomorfologi ini menempati 5% atau sekitar 4,28 km2 dari keseluruhan luas daerah penelitian dan terletak pada bagian timur dengan penyebaran relatif timur-barat. Satuan ini dijumpai pada Aalaa Kokapi. Kenampakan morfologi permukaan dari satuan ini adalah pedataran dengan persentase kemiringan lereng 0% – 2% dan berada pada ketinggian rata-rata kurang dari 5 m.
Proses yang dominan bekerja didominasi oleh proses sedimentasi, hal ini dicirikan dengan pengendapan material-material yang berukuran lempung hingga kerakal di sepanjang sungai yang merupakan material hasil angkutan sungai. Pengendapan pada sungai utama mempunyai bentuk endapan berupa channel bar, point bar dan alluvial plain dengan bentuk penampang sungai menyerupai huruf “U”. Bentuk penampang horisontal lebih besar dibandingkan dengan penampang vertikal sungai induk dengan gradien sungai yang relatif kecil.
3. Satuan Pedataran Pantai

Satuan geomorfologi ini terletak pada bagian utara dan menempati 10% atau sekitar 8, 57 km2 dari keseluruhan luas daerah penelitian dengan arah penyebaran relatif memanjang timur – barat meliputi Daerah Matanggonawe. Satuan ini merupakan daerah yang relatif datar dengan persentase kelerengan kurang dari 2% dan berada pada ketinggian rata-rata kurang dari 5 meter. Proses dan aktifitas yang dominan berupa sedimentasi membentuk endapan pantai.

II.2 Stratigrafi Regional

Berdasarkan himpunan batuan dan pencirinya, Daerah Lasusua – Kendari dapat dibedakan dalam dua lajur geologi yaitu Lajur Tinondo dan Lajur Hialu. Lajur Tinondo dicirikan oleh batuan endapan paparan benua, dan Lajur Hialu oleh endapan kerak samudra/ofiolit (Rusmana, dkk, 1993). Secara garis besar kedua mandala ini dibatasi oleh Sesar .
Daerah penelitian termasuk dalam stratigrafi regional Daerah Lasusua – Kendari pada Lajur Tinondo. Batuan yang terdapat di Lajur Tinondo yang dijumpai pada daerah penelitian adalah Formasi Meluhu (TR JM ) yang berumur Trias Tengah sampai Jura, secara tak selaras menindih batuan malihan Paleozoikum ( batuan alas Lajur Tinondo ). Formasi ini terdiri dari batupasir kuarsa yang termalihkan lemah dan kuarsit, setempat bersisipan dengan serpih hitam dan batugamping, mengandung Halobia sp dan Daonella sp serta batusabak pada bagian bawah. Batupasir berwarna kelabu sampai kelabu muda dan kekuningan, sangat kompak, berbutir halus sampai sedang, menyudut tanggung, terpilah baik hingga sedang, tersemenkan oleh silika, sebagian termalihkan lemah, berlapis baik dengan tebal lapisan antara 10 – 60 cm, dan setempat mencapai 1 m atau lebih. Batugamping umumnya berwarna kelabu hingga kehitaman, berbutir halus, setempat terhablur, banyak dijumpai urat kalsit berukuran halus, pejal, tebal perlapisan berkisar dari beberapa sentimeter sampai 60 cm. Setempat batugamping ini mengandung fosil Halobia sp dan Daonella sp. Batulanau berwarna kelabu hingga kehitaman, terjadi perselingan dengan batupasir, dengan tebal lapisan beberapa sentimeter. Pada zaman yang sama terendapkan Formasi Tokala (TR Jt ) terdiri dari batugamping berlapis dan serpih bersisipan batupasir. Hubungannya dengan Formasi Meluhu adalah menjemari.

Tabel 2. Hubungan stratigrafi regional dengan stratigrafi daerah penelitian

UMUR Rusmana, dkk, 1993 Antriani, 2001
KENOZOIKUM NEOGEN KUARTER HOLOSEN ALUVIUM TERUMBU
KORAL ENDAPAN
ALUVIAL
PLISTOSEN ATAS FORMASI
ALANGGA
BAWAH

PLIOSEN ATAS
TENGAH
BAWAH FORMASI PANDUA
MIOSEN ATAS
TENGAH FORMASI SALODIK
BAWAH
PALEOGEN OLIGOSEN
EOSEN
PALEOSEN
MEZOSOIKUM KAPUR ATAS FORMASI MATANO
TENGAH BATUAN
OFIOLIT SATUAN
PIROKSENIT
BAWAH
JURA ATAS
TENGAH
BAWAH
TRIAS ATAS BATUAN TEROBOSAN FORMASI
MELUHU

BTPSR BTGMP

TENGAH
BAWAH
PALEOZOIKUM PEREM PUALAM
PALEOZOIKUM
KARBON BATUAN
MALIHAN
PALEOZOIKUM
Sekala tidak sebenarnya
Pada Lajur Tinondo juga ditemukan batuan ofiolit yang merupakan pecahan dari Lajur Hialu. Batuan ofiolit (Ku) terdiri dari peridotit, piroksenit, hasburgit, dunit dan serpentinit. Piroksenit berwarna hitam kehijauan, kecoklatan, berbutir sedang sampai kasar, fanerik, hablur penuh, tersusun oleh mineral piroksin dan olivin, dan sedikit feldspar. Batuan ofiolit ini tertindih tak selaras oleh formasi Matano yang berumur Kapur Akhir. Sehingga umur batuan ini diduga lebih tua dari Kapur Akhir (?).
Batuan sedimen tipe molasa berumur Miosen Akhir – Pliosen Awal membentuk formasi yang lebih tua, baik di Lajur Tinondo maupun di Lajur Hialu. Pada Kala Plistosen Akhir terbentuk batugamping terumbu (Q1) dan formasi Alangga (Qpa). Batuan termuda di daerah Kendari – Lasusua ialah Aluvium (Qa) yang terdiri dari endapan sungai, rawa, dan pantai.
II.2.1. Stratigrafi Daerah Penelitian

Stratigrafi daerah penelitian secara umum tersusun atas batuan sedimen, batuan beku, dan material-material berupa endapan sungai, rawa dan pantai.
Pengelompokan dan panamaan satuan batuan pada daerah penelitian didasarkan atas litostratigrafi tak resmi yang bersendikan pada ciri litologi yang teramati di lapangan dan dapat terpetakan pada sekala 1 : 25.000, maka pengelompokan dan penamaan satuan batuan dilakukan dengan melihat litologi, dominasi batuan, posisi stratigrafi, dan posisi sentuhan antara satuan batuan yang satu dengan lainnya (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996).
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka satuan batuan yang terdapat pada daerah penelitian dapat dibagi menjadi 4 ( empat ) satuan batuan yang secara berurutan tersebut di bawah ini, dari satuan yang termuda sebagai berikut :
1. Satuan aluvial
2. Satuan piroksenit
3. Satuan batupasir dan satuan batugamping
Uraian, hubungan dan pemerian singkat tiap satuan batuan dapat dilihat pada kolom stratigrafi daerah penelitian. Penguraian tiap-tiap satuan batuan akan dimulai dari satuan yang tertua hingga yang termuda.
1. Satuan Batupasir

Penamaan dari satuan batuan didasarkan pada ciri litologi dan dominasi penyusun utama satuan ini, yaitu batupasir. Pada bagian tengah dari satuan ini dijumpai perselingan antara batupasir dan batulanau serta sisipan batugamping pasiran
Hubungan stratigrafi antara satuan batupasir dengan satuan batuan yang berumur lebih tua tidak diketahui, karena tidak tersingkap pada daerah penelitian.

2. Satuan Batugamping
Penamaan dari satuan batuan didasarkan pada ciri litologi, dominasi batuan penyusun, analisis yang dilakukan secara megaskopis dan mikroskopis, maka batuan ini dinamakan satuan batugamping.
3. Satuan Piroksenit
Penamaan dari satuan batuan ini didasarkan pada ciri litologi, dan dominasi batuan penyusun yang dilakukan secara megaskopis dan mikroskopis, maka satuan ini dinamakan satuan piroksenit.
4. Satuan Aluvial
Penamaan satuan didasarkan pada ciri-ciri fisik material, meliputi jenis endapan dan ukuran butir yang langsung dilakukan di lapangan. Satuan ini menempati sekitar 15% dari seluruh luas daerah penelitian atau sekitar 12,83 km2. Penyebaran dari endapan aluvial relatif berarah utara-timurlaut – selatan-baratdaya pada Aalaa Kokapi . Ketebalan dari endapan ini berdasarkan hasil pengukuran langsung di lapangan pada Aalaa Kokapi yaitu (2 – 4)m.
Material penyusun dari endapan aluvial, berukuran lempung hingga pasir merupakan hasil rombakan dari batuan yang telah terbentuk lebih dahulu yang mengalami proses pelapukan dan tertransportasi membentuk endapan sungai, rawa dan pantai.
Bentuk endapan sungai berupa flood plain, point bar dan channel bar. Material penyusun dari endapan ini terdiri dari material lepas hasil rombakan dari batupasir dan batugamping yang berukuran lempung hingga pasir. Endapan rawa tersusun oleh material lempung hingga pasir. Endapan pantai terbentuk dari transportasi material pada muara sungai dan rombakan yang diakibatkan oleh arus dan gelombang, berukuran lempung hingga pasir terendapkan di daerah pesisir pantai.

II.3. STRUKTUR GEOLOGI

Struktur geologi yang dijumpai, pada Lembar Lasusua – Kendari adalah sesar, lipatan dan kekar. Sesar dan kelurusannya, relatif berarah baratlaut – tenggara searah dengan Sesar Lasolo. Sesar Lasolo berupa sesar geser mengiri yang diduga masih giat hingga sekarang. Sesar tersebut ada kaitannya, dengan Sesar Sorong yang giat kembali pada Kala Oligosen (Simanjuntak, dkk, 1983).
Sesar naik ditemukan di Daerah Wawo sebelah barat Tampakura dan di Tanjung Labuandala sebelah selatan Sesar Lasolo yaitu beranjaknya batuan ofiolit keatas batuan malihan Mekongga, Formasi Meluhu dan Formasi Matano. Jenis sesar lain yang dijumpai adalah sesar bongkah.
Sesar Lasolo berarah baratlaut – tenggara, membagi Lembar Lasusua – Kendari, menjadi dua bagian. Sebelah timurlaut sesar disebut Lajur Hialu, dicirikan dengan batuan asal kerak samudera dan sebelah baratdaya sesar disebut Lajur Tinondo, dicirikan dengan batuan asal paparan benua.
Pada Kala Miosen Tengah Lajur Hialu terdorong oleh benua kecil Banggai-Sula, yang bergerak ke arah barat, yang menyebabkan terseserkannya Lajur Hialu di atas Lajur Tinondo, yang kemudian diikuti oleh sesar bongkah.
Jenis lipatan berupa lipatan antiklin, setempat di jumpai lipatan rebah dan lipatan sinklin. Kekar terdapat pada semua jenis batuan, pada batugamping kekar ini tampak teratur, membentuk kelurusan. Kekar pada batuan beku umumnya, menunjukkan arah tak beraturan.
Pada Kala Miosen Akhir sampai Pliosen pengangkatan kembali berlangsung, dimana pada pantai timur dan tenggara lembar dicirikan dengan undak-undak pantai dan sungai serta pertumbuhan koral.

II.3.1 Struktur Geologi Daerah Penelitian

Struktur geologi daerah penelitian, ditentukan secara langsung, berdasarkan data-data struktur geologi yang dijumpai di lapangan. Data-data tersebut baik berupa data primer, maupun sekunder yang dipadukan dengan data hasil interpretasi peta topografi.
Data-data primer berupa bidang sesar, gores garis, lineasi, breksi sesar, lipatan seret, kekar, mineralisasi, zona hancuran, penggerusan pada batuan dan lipatan. Sedangkan data sekunder berupa mataair, pembelokan sungai dan interpretasi dari peta topografi.
Berdasarkan hal tersebut, maka jenis struktur yang berkembang pada daerah penelitian terdiri atas :
1. Struktur Perlipatan
Struktur ini berkembang pada batuan sedimen yang diperlihatkan oleh arah jurus relatif berarah timurlaut-timur dengan kemiringan 21o – 39o. Berdasarkan kedudukan batuan tersebut yang memperlihatkan perlapisan miring dalam satu arah dengan besar kemiringan relatif seragam, maka jenis lipatan yang berkembang secara umum pada daerah penelitian adalah lipatan homoklin.
2. Struktur Kekar

3. Struktur Sesar

Penentuan struktur sesar yang berkembang pada daerah penelitian dilakukan berdasarkan pada interpretasi peta topografi dan keterdapatan data di lapangan berupa bidang sesar, breksi sesar, milonit, drag fold, perubahan kedudukan batuan dan penjajaran mataair.
A. Sesar Normal Kokapi
Sesar Normal Kokapi terletak pada bagian tengah daerah penelitian, yang relatif memanjang timur – barat. Jalur sesar ini melewati Aalaa Kokapi.

B. Sesar Geser Bite-bite
Sesar geser Bite-bite terletak pada bagian barat daerah penelitian relatif memanjang utara-timurlaut – selatan-baratdaya, melewati Aalaa Bite-bite.

II.3.2. Umur dan Mekanisme Pola Struktur Geologi Daerah Penelitian

Penentuan umur pembentukan struktur geologi daerah penelitian didasarkan pada umur relatif batuan dan mengalami struktur regional yang berkembang pada daerah penelitian. Sedangkan penentuan mekanisme struktur geologi didasarkan pada hasil analisis lipatan, kekar dan analisis sesar.
II.3.3. Umur Pembentukan Struktur Geologi Pada Daerah Penelitian

Umur pembentukan struktur geologi daerah penelitian berkaitan dengan kegiatan tektonik yang terjadi secara regional, diawali dengan terbentuknya Sesar Geser Lasolo, yang berarah relatif baratlaut – tenggara. Sesar ini membagi dua lajur batuan yaitu Lajur Hialu, dicirikan batuan kerak samudera dan Lajur Tinondo, umumnya dicirikan batuan paparan benua. Sesar tersebut diduga ada kaitannya, dengan Sesar Sorong yang aktif kembali pada Kala Oligosen (Simanjuntak, dkk, 1983, dalam Rusmana, dkk., 1993).
Pada Kala Miosen Tengah, Lajur Hialu yang berada pada sebelah timurlaut daerah penelitian, terdorong oleh benua kecil Banggai-Sula yang bergerak ke arah barat. Hal ini menyebabkan tersesarkannya Lajur Hialu ke atas Lajur Tinondo, yang mengangkat batuan kerak samudera di atas kontinen (obduction), dengan arah gaya relatif berarah baratdaya – timurlaut secara regional, diikuti oleh sesar bongkah.
Berdasarkan hal tersebut, secara lokal pada daerah penelitian membentuk Sesar Normal Kokapi pada satuan batupasir, maka dapat disimpulkan umur dari struktur geologi periode pertama, pada daerah penelitian yaitu pada Kala Miosen Tengah.
Pada Kala Miosen Akhir sampai Pliosen pengangkatan kembali berlangsung yang berkaitan dengan Sesar Geser Lasolo dengan arah gaya relatif berarah baratlaut – tenggara. Hal ini menyebabkan perkembangan tegasan utama maksimum periode kedua yang berlanjut terus hingga terbentuknya Sesar Geser Bite-bite yang memotong Sesar Normal Kokapi, maka dapat disimpulkan umur pembentukan struktur geologi periode kedua yaitu pada Kala Miosen Akhir hingga Pliosen.
II.3.4. Mekanisme Pembentukan Struktur Geologi Daerah Penelitian

Penafsiran mekanisme pembentukan struktur geologi, dalam menentukan pola struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian, erat kaitannya dengan struktur geologi regional, sebagai pola pembentuk utama. Selanjutnya dibandingkan, dengan hasil analisis arah tegasan utama yang dipadukan dengan teori Harding, 1974 .
Berdasarkan pada pola struktur geologi regional, hasil analisis lipatan dan kekar, maka pada daerah penelitian struktur geologi terbentuk dalam dua periode dengan umur pembentukan yang berbeda.
Pada periode pertama pembentukan struktur geologi, daerah penelitian yang berumur Miosen Tengah didasarkan pada pola struktur geologi regional dan hasil analisis lipatan dan kekar, dengan arah umum gaya kompresi relatif berarah timurmanenggara – barat-baratlaut. Diawali dengan pembentukan lipatan dengan arah sumbu lipatan relatif berarah selatan-baratdaya atau relatif tegak lurus dengan arah gaya tegasan utama dan kekar. Imbasan dari gaya tersebut membentuk regangan yang relatif berarah utara-timurlaut – selatan-baratdaya, menyebabkan terbentuknya kekar tarik yang kemudian mengalami pergeseran membentuk Sesar Normal Kokapi.
Pembentukan struktur geologi periode kedua, pada daerah penelitian terbentuk akibat pengaruh struktur geologi periode sebelumnya. Penentuan arah gaya, berdasarkan pada pola struktur geologi regional, hasil analisis lipatan dan kekar, dimana terjadinya perubahan arah gaya kompresi yang berarah relative Utara- timurlaut dan selatan-baratdaya, diawali dengan pembentukan lipatan dan kekar. Akibat dari gaya yang bekerja menyebabkan terjadinya sesar, membentuk Sesar Geser Bite-Bite.

Gambar 2. Peta Pergerakan Struktur pada Pulau Sulawesi
II.4. Teori Ringkas

Sesar merupakan suatu bidang rekahan atau zona rekahan yang telah mengalami pergerakan relatif satu blok dengan blok yang lainnya (Billing,s, 1957).
Gejala utama dalam sesar adalah adanya pergerakan diferensial pada arah yang sejajar dengan bidang rekahan. Panjang sesar berkisar dari beberapa inci hingga ratusan mil, sedang pergerakan yang terjadi hanya beberapa millimeter hingga beberapa puluh kilometer.
Macam keterakan berdasarkan gaya pembentukannya ada dua macam, yaitu Irrotational Strain (Pure Shear) dan Rotational Strain (Simple Shear). Pure shear disebabkan oleh tegasan tekanan atau tegasan tarikan sedangkan tegasan gerus akan menyebabkan Simple shear (gambar 7.1) seperti model yang dikemukakan oleh (Harding, 1974). Pada prinsipnya Pure Shear akan membentuk Simple Shear dan Simple Shear akan membentuk Pure Shear yang lainnya, demikian seterusnya.

Unsur-unsur / istilah umum yang sering digunakan dalam sesar (Gambar 7.2), sebagai berikut :
 Bidang sesar (fault Plane), yaitu suatu bidang sepanjang rekahan dalam batuan yang tersesarkan.
 Dip sesar yaitu sudut antara bidang sesar dengan bidang horisontal dan diukur tegak lurus jurus sesar.
 Hade, yaitu sudut antara garis vertikal dengan bidang sesar, dan merupakan penyiku dari dip sesar.
 Throw, yaitu komponen vertikal dari slip/separation, diukur dari bidang sesar vertikal yang tegak lurus jurus sesar.
 Heave, yaitu komponen dari slip/separation, diukur pada bidang vertikal yang tegak lurus jurus sesar.
 Hanging wall dan foot wall, yaitu blok yang terletak diatas bidang sesar dan di bawah bidang sesar.
 Slip adalah pergeseran relatif pada sesar, diukur dari blok satu ke blok yang -lainnya, merupakan pergeseran titik-titik yang sebelumnya berimpit. Total pergerakan relatifnya disebut net-slip.
Pengelompokan atau klasifikasi sesar dapat dibagi berdasarkan tipe gerakannya (Spencer, 1977), berdasarkan orientasi pola tegasan utama (Anderson,1955) dan berdasarkan besarnya rake dari net slip (Billing’s, 1957) serta kombinasi dip fault dengan pitch dari net slip (Rickard, 1972).
Rickard (1972), mengkombinasikan dip fault dengan pitch dari net slip yang dibuat pada diagram segitiga yang kemudian penamaannya ditunjukkan pada skema grafik klasifikasi (gambar 7.3).
Proyeksi stereografi merupakan proyeksi yang didasarkan pada perpotongan suatu bidang/garis dalam suatu bidang proyeksi yang berupa bidang permukaan (horisontal) yang melalui pusat sebuah bola. Bidang proyeksi ini berbentuk suatu lingkaran yang kemudian disebut sebagai lingkaran primitif. Lingkaran pimitif merupakan proyeksi struktur bidang yang kedudukannya horisontal (dip = 0o), maka penentuan bidang-bidang yang berkedudukan miring, pada Wulff Net dan scmhid Net, 0o dimulai dari lingkaran primitif dan 90o terletak pada pusat lingkaran (gambar 7.4). Untuk struktur bidang miring yang dip-nya 0o – 90o proyeksinya akan berbentuk busur dari suatu lingkaran yang jari-jarinya selalu lebih besar dari jari-jari lingkaran primitifnya, oleh karena itu busur lingkaran ini disebut lingkaran besar atau stereogram dari bidang yang bersangkutan. Untuk struktur bidang yang kedudukannya vertikal maka proyeksinya akan berupa garis lurus yang melalui pusat lingkaran primitif. Selain lingkaran primitif dan lingkaran besar, pada stereonet juga terdapat lingkaran kecil. Lingkaran kecil ini merupakan perpotongan antara bidang permukaan bola (bidang proyeksi dengan bidang yang tidak melalui pusat bola).

Bila arah utara-selatan merupakan tempat kedudukan pusat lingkaran kecil dengan jari-jari yang berbeda dan lingkaran kecil bagian bawah bola diproyeksikan ke titik zenith, maka akan menghasilkan garis-garis lengkung (busur) lingkaran kecil. Lingkaran-lingkaran kecil ini pada titik-titik perpotongannya dengan lingkaran primitif berfungsi untuk memplot arah jurus suatu bidang atau “bearing” suatu garis, menentukan besar sudut pitch/rake suatu struktur garis pada bidang tertentu.

II.5. Dasar Analisis Struktur Sesar

Analisis sesar dilakukan dengan pendekatan sebagai berikut :
a. Pengamatan dan analisis struktur-struktur diluar jalus sesar
b. Pengamatan dan analisis struktur-struktur didalam atau pada jalur sesar.

II.5.1 Analisis di Luar Jalur Sesar

Analisis diluar jalur sesar berarti dilakukan berdasarkan kekar-kekar yang terdapat pada keseluruhan daerah penelitian. Kekar ini dapat terbentuk sebelum atau pada saat pembentukan sesar yang dapat membantu dalam menganalisis pola tegasan dan dapat dikenal sebagai kekar orde pertama.
Data yang dipakai tidak hanya kekar, juga sesar lainnya yang dapat diamati dari peta topografi.

II.5.2 Analisis di Dalam Jalur Sesar

Cara pendekatan lain untuk menganalisis sesar adalah dengan melakukan semua analisis indikasi sesar yang terdapat dalam jalus sesar. Analisis ini akan menghasilkan data-dada deskriptif tentang unsur-unsur sesar dan indikasi sesarnya antara lain kedudukan bidang sesar, orientasi gores garis dan arah pergerakannya (kekiri/kekanan, turun/naik).
Analisis didalam jalur sesar berdasarkan indikasi sesar yang dijumpai dapat dibedakan menjadi analisis langsung dan tak langsung :
 Analisis sesar secara langsung adalah bila indikasi sesar yang dijumpai meliputi bidang sesar, gores-garis dan drag fold, maka penamaan sesar dapat dilakukan langsung dilapangan.
 Analisis sesar secara tak langsung adalah bila data-data indikasi sesar, belum dapat memastikan kedudukan bidang sesar dan orientasi gores-garis net slip. Maka melalui pengamatan statistik dengan menggunakan metode stereografi, kita dapat menetukan kinematiknya.
Indikasi sesar tersebut antara lain, orientasi umum/lineasi sumbu panjang breksi sesar, shear dan gash fracture, dan lipatan minor.

BAB III

METODE DAN TAHAPAN PENELITIAN

III.1 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam menganalisis indikasi sesar sesar adalah metode stereografis yaitu dengan pengambilan data indikasi sesar yang terdapat dijalur sesar (lipatan minor, kekar dan bidang sesar).
Data tersebut diatas diproyeksikan dengan menggunakan metode proyeksi stereografi, untuk menentukan data-data deskriptif tentang unsur-unsur sesar seperti orientasi lineasi net slip dan arah pergerakannya apakah kekiri/kekanan, turun/naik.

III.2 Tahapan Penelitian

Adapun tahapan pelaksanaan pekerjaan yaitu :
1) Tahap persiapan
2) Tahap penelitian lapangan
3) Tahap pengolahan data.
4) Tahap pembuatan laporan
Adapun uraian masing-masing tahap pekerjaan yaitu :
1. Tahap persiapan.
Tahap persiapan ini dilakukan sebelum penelitian lapangan untuk menunjang kelancaran dalam melakukan penelitian. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Studi literatur tentang geologi regional daerah penelitian dan beberapa laporan peneliti terdahulu serta literatur yang berhubungan dengan batasan masalah penelitian. Dengan demikian diharapkan dapat memberikan gambaran umum tentang kondisi geologi sehingga permasalahan-permasalahan yang dijumpai di lapangan maupun dalam pengolahan data dapat terpecahkan berdasarkan teori-teori dan hasil penelitian terdahulu.
b. Pengadaan peta dasar dan interpretasi peta topografi daerah penelitian untuk mendapatkan gambaran tentang kondisi topografi daerah penelitian.
c. Pengadaan perlengkapan, perincian biaya dan jadwal rencana kegiatan agar penelitian yang dilakukan dapat berjalan lancar dan sistematis.
d. Administrasi yang meliputi pengajuan proposal penelitian, pengurusan surat izin penelitian dan kelengkapan administrasi lain.
2. Tahap penelitian lapangan
Pada tahap penelitian lapangan dibagi kedalam beberapa bagian, yaitu pemetaan pendahuluan, pemetaan detail dan pengecekan lapangan.
Pemetaan pendahuluan bertujuan untuk mengetahui gambaran geologi secara umum dan keadaan medan untuk memudahkan dalam penentuan lintasan yang cocok, sehingga data yang diperoleh lebih akurat serta pelaksanaan penelitian lebih efektif dan efisien.
Pemetaan detail dilakukan dengan pengambilan data selengkap-lengkapnya dengan melintasi daerah-daerah yang mungkin dapat dijumpai singkapan batuan, seperti di sungai, pinggir jalan, lereng bukit, punggungan bukit, tebing-tebing dan bekas-bekas galian.
Pengecekan lapangan dilakukan dengan melintasi kembali daerah-daerah yang dianggap perlu untuk melengkapi data yang masih kurang atau mengadakan lintasan tambahan jika dianggap perlu.
Secara teknis pada setiap lokasi pengamatan dilakukan pencatatan, pengumpulan data dan pengukuran pada gejala-gejala geologi, berupa :
a. Kondisi singkapan, baik fisik bidang kontaknya maupun hubungannya dengan singkapan batuan lainnya.
b. Keadaan unsur-unsur struktur geologi serta gejala-gejala tektonik dan sedimentasi pada batuan.
c. Pengamatan kondisi fisik batuan yang dapat diamati langsung dilapangan, seperti warna, tekstur, komposisi, dan strukturnya.
d. Pengambilan conto batuan untuk analisis laboratorium.
e. Pengamatan kondisi geomorfologi.
f. Pengamatan terhadap potensi bahan galian.
g. Pengamatan terhadap jenis-jenis soil serta vegetasi disekitar singkapan.
h. Pengambilan dokumentasi, baik berupa sketsa maupun foto.
3. Tahap pengolahan data
Tahap analisis laboratorium bertujuan menganalisis data-data yang diperoleh dari tahapan penelitian lapangan, meliputi beberapa analisis yaitu :
a. Analisis geomorfologi, dilakukan untuk mengelompokkan satuan-satuan bentangalam, menentukan jenis dan pola pengaliran sungai, serta stadia daerah penelitian berdasarkan data-data geomorfologi.
b. Analisis petrografi, dimaksudkan untuk mengamati kenampakan mikroskopis batuan pada sayatan tipis dalam menentukan jenis, ukuran, tekstur, struktur batuan, komposisi dan persentase mineral penyusun batuan. Sehingga dapat ditentukan nama batuan secara petrografis.
c. Analisis mikropaleontologi, dimaksudkan untuk mengidentifikasi fosil yang ada pada batuan dalam penentuan umur dan lingkungan pengendapan dari batuan tersebut.
d. Analisis struktur geologi dilakukan untuk mengetahui jenis struktur yang bekerja, sehingga dapat menentukan umur dan mekanisme struktur pada daerah penelitian.

4. Tahap analisa dan pembuatan laporan
Dalam tahapan ini dilakukan analisa terhadap semua data yang diperoleh selama penelitian berlangsung baik data primer maupun data sekunder yang kemudian dirangkum dalam satu bentuk laporan akhir.
Sedangkan tahapan yang dilakukan dalam menganalisis data tersebut, adalah sebagai berikut :
a. Memplot data kekar dan lipatan pada schmid net.
1. Menggambarkan jurusnya pada lingkaran besar (lingkaran primitf), dengan menggunakan schmid net sesuai harga jurusnya yang dilakukan secara terpisah.
2. Memutar kalkir hingga jurus tersebut berhimpit dengan garis N – S dan gambarkan besar dip yang diukur pada lingkaran kecil, dimana 0o pada lingkaran primitif (E) dan 90o dipusat lingkaran.
3. Memutar kembali kalkir hingga N kalkir berhimpit dengan N stereonet, maka akan nampak stereogram dengan bidang N …o E /…o.
b. Untuk mendapatkan persentase dari data tersebut, digunakan kalsbeek counting net dengan cara :
1. Menghimpitkan kalsbeek counting net dan N kalkir dari hasil penggambaran pada schmid net serta N kalkir kalsbeek counting net.
2. Menghitung besar persentase dari garis jurus yang tergambar pada tiap-tiap jaring penghitung kalsbeek.
3. Tentukan orientasi umum dari hasil perhitungan persentase tersebut.
c. Setelah mendapatkan orientasi umum penggambaran dilanjutkan dengan menggunakan wulff net dengan cara sebagai berikut :
1. Memplot titik-titik tersebut dan himpitkan pada arah E – W stereonet, setelah titik tersebut berhimpit hitung 90o ke arah pusat lingkaran, gambarkan struktur bidang tersebut pada lingkaran besar.
2. Setelah melakukan langkah-langkat tersebut di atas dan mendapatkan orientasi umum dari kekar dan bidang sumbu lipatan, maka diplot dalam dalam satu proyeksi. Bidang perpotongannya adalah (s2), yang dijadikan kutub untuk membuat bidang bantu dengan menghitung 90o ke pusat lingkaran.
3. Perpotongan bidang bantu dengan bidang kekar adalah (s1), dan untuk mendapatkan (s3) hitung 90o pada bidang bantu.
4. Memplot bidang sesar, perpotongan bidang sesar dan bidang bantu adalah net slip sesar.
5. Pitch di hitung pada bidang sesar ke net slip. Berdasarkan besar pitch dan dip sesar maka dapat ditentukan jenis sesar menurut klasifikasi Rickard, 1972.

III. 3 Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan dalam menganalisis data tersebut, adalah sebagai berikut :
a. Memplot data kekar dan lipatan pada schmid net.
1. Menggambarkan jurusnya pada lingkaran besar (lingkaran primitf), dengan menggunakan schmid net sesuai harga jurusnya.
2. Memutar kalkir hingga jurus tersebut berhimpit dengan garis N – S dan gambarkan besar dip yang diukur pada lingkaran kecil, dimana 0o pada lingkaran primitif (E) dan 90o dipusat lingkaran.
3. Memutar kembali kalkir hingga N kalkir berhimpit dengan N strereonet, maka akan nampak stereogram dengan bidang N …o E /…o.
d. Untuk mendapatkan persentase dari data tersebut, digunakan kalsbeek counting net dengan cara :
1. Menghimpitkan kalsbeek counting net dan N kalkir dari hasil penggambaran pada schmid net serta N kalkir kalsbeek counting net.
2. Menghitung besar persentase dari garis jurus yang tergambar pada tiap-tiap jaring penghitung kalsbeek.
3. Tentukan orientasi umum dari hasil perhitungan persentase tersebut.
e. Setelah mendapatkan orientasi umum penggambaran dilanjutkan dengan menggunakan wulff net dengan cara sebagai berikut :
1. Memplot titik-titik tersebut dan himpitkan pada arah E – W stereonet, setelah titik tersebut berhimpit hitung 90o ke arah pusat lingkaran, gambarkan struktur bidang tersebut pada lingkaran besar.
2. Setelah melakukan langkah-langkat tersebut di atas dan mendapatkan orientasi umum dari kekar dan bidang sumbu lipatan, maka diplot dalam dalam satu proyeksi. Bidang perpotongannya adalah (s2), yang dijadikan kutub untuk membuat bidang bantu dengan menghitung 90o ke pusat lingkaran.
3. Perpotongan bidang bantu dengan bidang kekar adalah (s1), dan untuk mendapatkan (s3) hitung 90o pada bidang bantu.
4. Memplot bidang sesar, perpotongan bidang sesar dan bidang bantu adalah “net slip” sesar.
5. Pitch di hitung pada bidang sesar ke “net slip”. Berdasarkan besar pitch dan dip sesar maka dapat ditentukan jenis sesar menerut klasifikasi Rickard, 1972.

BAB IV

TIME SCHEDULE

Terlampir

BAB V

RENCANA ANGGARAN
Terlampir

BAB VI
PENUTUP

Proposal ini dibuat sebagai acuan dalam pelaksanaan untuk mengetahui dan memetakan daerah penelitian. Semoga dengan adanya data-data yang akurat dalam kegiatan ini dapat membantu Pemerintah Daerah untuk memberikan informasi dan gambaran bagi investor yang berminat untuk mengerjakannya, sehingga dapat membuka peluang dan menyerap tenaga kerja dan menambah Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) demi terciptanya daerah penelitian sebagai daerah yang strategis dan aman serta mampu bersaing dengan daerah lain dalam menggalakkan pembangunan di daerah ini.

Published in: on 22 January 2010 at 4:45 pm  Leave a Comment  
Tags:
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.