Gelombang laut, Tsunami, dan Gerakan Tektonik Lempeng

Oleh:
Drs. Abd. Hallaf Hanafie Prasad, M.Si.

I. PENGANTAR
Sejumlah berita paska gempabumi yang disertai gelombang tsunami melanda pantai Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara terjadi pada hari Minggu jam 09.oo tanggal 26 Desember 2004. Berita demi berita digelar ………lewat media elektronika, majalah dan surat kabar. Berita-berita tersebut telah memberikan kepada kita berbagai informasi tentang serangkaian realita dari sebuah bencana alam yang sangat dahsyat, mengenaskan.
Di balik berita tersebut, tulisan ini berusaha mengungkap latar belakang teoritis tentang mengapa dan bagaimana peristiwa gempabumi dan tsunami itu dapat terjadi; adalah suatu penjelasan dari sisi ilmu oseanografi dan geologi-geomorfologi; suatu kajian teori yang diharapkan bermanfaat bagi mahasiswa dan calon-calon guru geografi.
Gempa bumi tektonik adalah sentakan getaran pada kerak bumi yang terjadi secara tiba-tiba yang disebabkan oleh pergeseran antar blok-blok batuan. Titik atau tempat terjadinya pergeseran itu, jika terdapat di dalam bumi (litosfer) disebut hiposentrum dan titik di permukaan bumi yang mula-mula menerima kiriman getaran dari hiposentrum tersebut disebut episentrum. Dari titik pusat gempa di permukaan bumi yang disebut episentrum ini, gelombang getaran itu kemudian menyebar lingkar ke segala arah bagaikan gelombang yang ditimbulkan oleh jatuhnya sebuah batu di permukaan air kolam yang tenang. Berbeda dengan peristiwa gunungapi meletus, terjadinya gempa tektonik sukar untuk dapat diramalkan kapan saatnya akan terjadi lagi, tetapi di mana saja pernah mengalami gempabumi tektonik, maka di tempat itu akan terjadi lagi gempabumi tektonik.
Hiposentrum dan episentrum gempabumi tektonik yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 di Aceh tersebut terdapat pada pertemuan dua lempeng bumi yang bertabrakan (bertumbukan dan/atau bergeseran), yaitu lempeng tektonik Hindia-Australia yang sedang bergeser ke Utara-Timur dengan lempeng Asia yang (dianggap) bergerak ke arah Selatan-Tenggara.
Gelombang tsunami bukan merupakan bagian dari setiap gempabumi tektonik. Peristiwa terbentuknya tsunami adalah salah satu efek dari kodrat air yang senantiasa mempertahankan keseimbangannya. Tsunami merupakan efek massa air laut yang bereaksi ketika terjadi suatu gerak patahan depresi tektonik atau pembentukan graben-horst secara tiba-tiba pada kerak bumi di permukaan dasar laut atau pun gerak runtuhan massa batuan (massmovement/ masswasting). Selain itu tsunami juga dapat terjadi karena letusan gunungapi di dasar laut. Dari titik pusat salah satu jenis peristiwa tersebut gelombang tsunami kemudian meyebar lingkar ke segala arah bagaikan gelombang yang ditimbulkan oleh jatuhnya sebuah batu di permukaan air kolam yang tenang.
Untuk memahami secara utuh peristiwa gempabumi dan gelombang tsunami sumber bencana alam NAD dan Sumatera Utara, berikut ini secara berturut-turut diuraikan tentang gelombang laut, gelombang tsunami dan teori tektonika lempengan. Hal ini dikemukakan agak panjang dan lebih khusus di sini karena sebagai bagian dari materi kuliah Oseanografi, Geologi dan Geomorfologi Indonesia.

II. GELOMBANG LAUT
Gelombang di permukaan laut disebabkan oleh angin. Menurut Helmholtz, “Jika dua massa benda yang berlainan kepadatannya bergeseran, maka pada bidang pergeseran itu terjadi gelombang”. Contoh gejala bentuk permukaan bergelombang akibat pergeseran itu terjadi pada pergeseran air dengan pasir (misalnya di dasar laut dangkal pada zona lithoral), angin dengan pasir (misalnya di daerah gurun dikenal dengan nama sand-dunes atau gumuk-gumuk pasir), dan angin dengan air.
Setiap gelombang mempunyai tiga bagian yang penting, yaitu tinggi gelombang, panjang gelombang dan periode gelombang. Tinggi gelombang adalah jarak vertikal antara titik terendah lembah gelombang (trough) dengan titik tertinggi puncak/punggung gelombang (cresh). Panjang gelombang adalah jarak mendatar antara dua puncak gelombang yang berurutan, sedangkan periode gelombang adalah waktu yang diperlukan oleh dua puncak gelombang yang berurutan untuk melalui suatu titik yang sama (Gambar 1).
Kenampakan gelombang yang seakan berkejaran adalah gejala optik (tipuan pandangan), layaknya seperti nyala lampu-lampu reklame yang tampak seakan bergerak keliling seputar papan reklame, di mana sesungguhnya lampu-

lampu itu tetap di tempat. Kenampakan gelombang laut sesungguhnya mirip dengan gelombang padi sawah yang tampak berkejaran tetapi batang-batang padi tetap di tempatnya. Gelombang laut berjalan tidak seperti arus laut di mana massa air itu berpindah tempat. Adapun perpindahan massa air karena gelombang terjadi dalam bilangan beberapa milimeter atau sentimeter per detik searah dengan arah angin yang membangun gelombang. Sepotong kayu terapung di muka laut tidak bergerak secepat gerakan gelombang seperti yang terlihat, tidak sama dengan kecepatan gerak sepotong kayu yang terbawa arus. Perpindahan gelombang seperti yang terlihat itu adalah perpindahan bentuk gelombang dan energi yang dipindahkan secara horizontal (Gambar 2 dan 3).
Umumnya, ukuran besar-kecilnya gelombang ditentukan berdasarkan tinggi gelombang. Tinggi gelombang bisa hanya beberapa milimeter saja, tetapi juga bisa sampai puluhan meter. Gelombang permukaan laut terbesar di dunia yang pernah diukur ialah 34 meter tingginya; terdapat di Samudera Pasifik yang diukur oleh kapal Angkatan Laut Amerika “Ramapo”, 3 Februari 1933. (Nonci, 1987: 86). Gelombang yang mencapai tinggi 30 m biasanya mempunyai panjang dari puncak ke puncak 600 m. Hal itu hanya terjadi pada samudera di daerah lintang tinggi saat-saat angin taufan besar, pada zona angin siklon. Di zona duldrums (daerah tenang khatulistiwa) seperti misalnya Indonesia, hal itu tidak mungkin terjadi. Di Laut Banda, misalnya, rata-rata gelombang tertinggi, yaitu 2 m, terjadi pada bulan Juli di pertengahan muson tenggara.

8

Ada empat faktor yang menentukan besarnya gelombang di lautan terbuka yang disebabkan oleh angin; yakni kuatnya hembusan, lamanya hembusan dan jarak tempuh angin (fetch) menurut luas-tidaknya kawasan laut yang dilaluinya, serta kecepatan dan arah arus dari laut itu sendiri terhadap arah angin.
Semua gelombang bertingkah laku serupa. Sekali terbentuk, gelombang bergerak keluar dan menjauhi pusat asal gelombang. Gerak gelombang tetap masih berjalan, meskipun angin berhenti. Gejala gelombang di waktu angin teduh disebut “deining” atau “alun”. Gelombang yang disebut alun ini bergerak tenang di kawasan laut dalam, puncak-puncak alun tidak memecah, tetapi ketika memasuki dasar laut dangkal di mana kedalaman kurang dari seperdua panjang gelombang, maka alun pun menjadi sangat terjal lalu memecah.

III. GELOMBANG TSUNAMI
Tsunami adalah istilah yang berasal dari bahasa Jepang yang berarti “gelombang pelabuhan”. Menurut Drs. A. Hamid Latunreng dalam sebuah ceramah kuliahnya menyatakan bahwa Tsu Nami adalah nama seorang ahli geologi Jepang yang mula-mula mengemukakan teori kejadian gelombang besar ini. Di peta Jepang ada sebuah teluk yang bernama Teluk Tsunami. Adakah hubungan nama teluk ini dengan peristiwa tsunami yang bila memasuki perairan teluk gelombangnya menjadi lebih besar? Sejauh ini penulis belum pernah menemukan sumber yang akurat mengapa gelombang besar yang sering menyusul suatu gempa ini bernama tsunami. Namun, Jepang memang merupakan salah satu negara kepulauan yang mencatat gempa terbanyak di dunia sesudah Indonesia.
Gelombang tsunami adalah gelombang yang amat besar yang terjadi (biasanya) segera setelah terjadi gempabumi; khususnya bila episentrumnya terdapat di dasar laut. Namun tidak semua peristiwa gempa yang episentrum-nya di dasar laut disertai dengan terjadinya gelombang tsunami. Berikut dimuat kutipan dari tulisan Dr. Anugerah Nontji (1987: Laut Nusantara, hlm. 99 – 104):

Gelombang tsunami merambat (secara radial, dari suatu titik) ke segala arah, dengan kecepatan yang tergantung pada kedalaman laut. Makin dalam laut makin tinggi kecepatan rambatnya. Pada kedalaman 5.000 m (kedalaman rata-rata di Samudera Pasifik) kecepatan rambat tsunami sangat dahsyat mencapai 230 m/detik (= 828 km/jam), pada kedalaman 4.000 m kecepatannya 200 m/detik dan pada kedalaman 40 m kecepatannya 20 m/detik.
Periode tsunami, yakni jangka waktu yang diperlukan untuk tibanya dua puncak gelombang yang berurutan, bisa sangat lama. Jika sumbernya sangat jauh, periodenya bisa mencapai satu jam. Bandingkan dengan periode gelombang karena angin yang periodenya hanya 10 – 20 m/detik.
Panjang gelombangnya, yakni jarak dari satu puncak ke puncak lainnya, sangat luar biasa panjangnya, bisa mencapai lebih 200 km.
Tinggi gelombangnya di tengah samudera biasanya kecil saja, kadang-kadang hanya seperempat hingga setengah meter, hingga sering tak dapat dirasakan oleh kapal yang sedang berlayar. Tetapi gelombang ini bila mendekati pantai yang semakin dangkal akan mendapat tekanan yang semakin besar dari dasar laut dan sebagai kompensasi energinya yang besar dilampiaskan ke arah permukaan dan menimbulkan gelombang di pantai, bisa mencapai tinggi puluhan meter. Konfigurasi dasar laut sangat menentukan besarnya bencanayang dapat di timbulkan. Teluk yang berbentuk V memberikan efek corongyang dapat menyebabkan gelombang tsunami sangat besar.
Penduduk di pantai dapat mengamati pertanda akan datangnya tsunamidengan mula-mula melihat laut menjadi (tiba-tiba) cepat surut yang sangat jauh dari surut normal. Laut menjadi kering, tidak seperti biasanya dan ikan banyak yang menggelepar-gelepar di pantai. Keajaiban ini sering mengundang orang untuk turun ke laut, terdorong rasa ingin tahu. Justru ini adalah saat yang sangat berbahaya. Keringnya laut sebenarnya menunjukkan laut menunjjukkan bahwa lembah gelombang tsunami telah tiba. Dan sebentar lagi disusul datangnya puncak gelombang raksasa yang dengan segera menghancurkan segala sesuatu di pantai. Pada saat demikian, orang sudah sukar untuk menghindar. Biasanya gelombang ketiga adalah gelombang yang paling dahsyat.
Gelombang tsunami dapat menimbulkan bencana di tempat yang sangat jauh dari lokasi tempat kelahirannya. Tsunami yang bermula di pantai Chili, Mei 1960 misalnya, menghancurkan pantai Hilo (Hawaii) setelah menempuh jarak 12.000 km dalam waktu kurang dari 15 jam, dengan kecepatan rata-rata 804 km/jam.
[Gempa Aceh yang episentrumnya di sebelah barat Aceh dan Kep. Andaman – Nikobar 26 Desember 2004, juga menimbulkan gelombang tsunami yang melanda sampai ke pantai timur Afrika].
Karena Indonesia berada pada jalur gempa dan jalur volkanik yang aktif, maka catatan-catatan sejarah telah menunjukkan bahwa peristiwa tsunami sering menimbulkan bencana di pantai-pantai kita. Sejak letusan Krakatau 1883 hingga sekarang [1987] telah tercatat lebih dari 30 peristiwa tsunami di Indonesia. Dari rata-rata 460 gempa setahun yang tercatat di Indonesia, kurang lebih 70% merupakan gempa tektonik yang bersumber di bawah dasar laut yang potensial bisa menimbulkan tsunami. Daerah potensial bencana tsunami di Indonesia ditunjukkan dalam Gambar 6.
Korban jiwa yang terbesar karena tsunami di Indonesia adalah yang ditimbulkan oleh letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda 27 Agustus 1883, yang merenggut lebih 36.000 jiwa. [Gempa dan tsunami Aceh 2004: hampir 100.000 jiwa]. Letusan ini merupakan letusan gunungapi yang terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah; bunyinya terdengar sampai ke Pulau Rodriguez 1.600 km sebelah timur Madagaskar, atau 4.563 km dari Krakatau. Duapertiga bagian pulau seluas 5 x 8 km2 yang diterbangkan pada puncak letusan. Tsunami yang ditimbulkan luar biasa hebatnya. … Di kota Teluk Betung [sekarang kota: Bandar Lampung} tsunami menerjang dengan gelombang setinggi 20 m dan di Merak sampai setinggi hampir 40 m.

Menurut Tsu Nami, gelombang laut jenis ini terjadi oleh karena adanya perubahan bentuk dasar laut yang terjadi secara tiba-tiba akibat dislokasi massa batuan di dasar laut. Perubahan posisi massa batuan penyusun dasar laut (litosfer) merupakan gejala diastropisma dalam bentuk patahan tektonik atau dapat juga karena masswasting (massmovement, landslides) di dasar laut, atau karena adanya gunungapi dasar laut yang meletus. Illustrasi dari gambar-gambar berikut kiranya dapat membantu memahami hubungan sebab-akibat dari faktor-faktor pembentuk gelombang tsunami.

IV. TEKTONIKA LEMPENGAN KERAK BUMI
Wilayah Kepulauan Indonesia merupakan kawasan di mana aktivitas orogenesis adalah yang paling aktif di dunia. Frekuensi kejadian gempa dan gunungapi adalah yang terbanyak di dunia. Kondisi ini dilatarbelakangi oleh posisi Indonesia yang terjepit oleh desakan tiga lempeng besar dunia yang saling bertumbukan di mana Kepulauan Indonesia berada di kawasan pertemuannya.

1. Teori Kontraksi versus Teori Kehanyutan Benua
Teori yang mula-mula berkembang tentang terjadinya pegunungan-pegunungan atau mengapa terjadi perbedaan-perbedaan relief muka bumi adalah teori kontraksi yang dikemukakan oleh Descartes yang kemudian didukung oleh Suess. Menurut teori ini, pegunungan-pegunungan itu disebabkan karena bumi ini menyusut sebagai akibat dari menurunnya panas planet bumi hingga mengkerut, bagaikan jeruk nipis yang mengering dan mengkerut kulitnya. Teori ini kemudian ditinggalkan setelah Wegener melahirkan teori kehanyutan benua (the Continental Drift) tahun 1910. Wegener berpendapat bahwa meskipun bumi itu susut akan tetapi akibatnya tidak akan dapat mewujudkan pegunungan-pegunungan tinggi dan laut-laut dalam seperti yang ada sekarang ini.
Wegener sebagai seorang ahli klimatologi melakukan penelitian atau pengukuran-pengukuran mengenai gerak (maju-mundur) es di daratan bagian utara Eropa, termasuk daratan Pulau Hijau (Greenland) dan Amerika Utara. Suatu hal yang mengejutkan ialah, bahwa dari hasil pengukuran tahun 1823 – 1870 dan 1907 ternyata Pulau Hijau bergeser ke barat rata-rata 36 m per tahun dan Amerika Utara 0,32 m per tahun makin menjauh dari pantai barat daratan Eropa. Temuan ini kemudian mengilhami Wegener untuk meneliti lebih luas. Dilihatnya pantai timur Benua Amerika dan pantai barat Eropa-Afrika bagaikan pasangan guntingan karton teka-teki (jigsaw puzzle) yang bisa dipertemukan kembali (Gbr. 14, 16, dan Gbr.17).
Menurut Wegener, pergeseran benua-benua itu dapat dibuktikan dengan adanya perubahan iklim dahulu yang dialami benua-benua. Hal ini tidak mungkin terjadi bila benua-benua ini berada pada posisinya yang sekarang. Misalnya, batubara yang dahulu terbentuk di daerah tropis berawa-rawa, sekarang ditemukan jauh di Amerika Utara, Eropa, Asia Utara (Siberia) dan di Antartika yang suhunya dingin tertutup salju dan es abadi, tanpa satu daerah pun yang beriklim tropis (panas). Pada zaman Perm terjadi zaman Es, bekas-bekasnya didapati di Amerika Selatan, Afrika Selatan, India, Australia dan Selandia Baru. Menurut Wegener, keadaan sekarang tidak mungkin bahwa semua daratan itu tertutup es dalam waktu yang bersamaan. Pada waktu itu harusnya merupakan satu benua. Pada zaman Karbon menurut Wegener, mungkin hanya terdapat sebuah benua yang disebutnya Gondwana. Sebagai catatan: batubara ini terjadi di zaman Carbon (350 juta tahun yang lalu). Batubara di Indonesia baru terjadi di zaman Tertier (58 juta tahun lalu); jadi masih muda. Bukti lainnya, adanya persamaan formasi batuan di Eropa Barat-Laut dengan di Amerika Utara, dan dari Afrika Barat persis sama dengan Amerika Selatan Timur.
Benua-benua bergeser karena hanyut bagaikan es yang terapung di samudera. Berat jenis (BJ) massa batuan yang menyusun benua lebih ringan karena terdiri dari Silisium Aluminium (SiAl), sedangkan massa lapisan (sfera) yang ada di bawahnya lebih besar BJ-nya karena terdiri dari Silisium Magnesium (SiMa). Lihat Gbr. 2, Gbr. 5, dan Gbr. 6. Pada tahun 1929 Wegener tewas dalam salju di pulau Hijau pada saat-saat mengadakan pengukuran secara teliti untuk membuktikan bahwa teorinya itu benar.

2. Teori Geo-Sinklinal dan Geo-Antiklinal
Geo-sinklinal adalah daratan yang turun terus menerus karena masih labil, menjadi laut-laut yang beribu-ribu meter dalamnya karena gerakan tektonik. Sementara bagian yang luarnya naik terus membentuk pegunungan lipatan yang tinggi dan merupakan geo-antiklinal-nya.
Menurut Esscher (1948), lapisan sedimen yang banyak diendapkan di laut itu menimbulkan tekanan yang besar, dan terus-menerus pada dasarnya, sehingga turun lambat-lambat dan menyeret tanah yang berada di sekitarnya. Sementara di bagian lain, tanahnya naik berupa lekuk-lekuk pegunungan lipatan, sebaliknya pada bagian-bagian yang rapuh terpecah-pecah dan bergeser. Lekuk daratan yang tinggi dan panjang demikian itu, terdapat sekarang berupa lubuk-lubuk laut yang dalam, dan berupa geo-synclinal yang masih turun terus. Akan tetapi benua-benua yang merupakan inti kontinen, relatif tetap tenang (stabil) selama beberapa zaman geologi.
Sementara palung-palung laut berupa sebuah geo-sinklinal yang masih turun terus; daratan di sekitarnya naik dan melahirkan Pegunungan Himalaya yang tinggi dan panjang. Sebuah majalah terbitan tahun 1950, memberitakan, di lepas pantai dekat kota Bombay ada sebuah pulau bernama Kutubia, menghilang tenggelam ke laut yang begitu cepat sampai dapat disaksikan orang. Sirkum Pegunungan Mediteran dan Sirkum Pasifik yang sekarang, (menurut teori ini) sebenarnya adalah sebuah geo-antiklinal yang lahir dari sebuah geo-sinklinal yang dahulunya merupakan Laut Thetys. Pegunungan ini lahir di Zaman Tertier (58 juta tahun yang lalu).

3. Teori Pembentukan Pematang Samudera
Pada bagian lempeng-lempeng bumi yang saling menjauh (dan putus) kondisi tekanan cenderung berkurang; keluarlah massa astenosfer (material yang paling ringan dari astenosfer) membentuk magma. Magma kemudian keluar ke permukaan dasar samudera dan membentuk tumpukan sepanjang garis retakan. Tumpukan lava beku dari magma ini membentuk punggungan atau pematang samudera, memanjang ratusan sampai ribuan kilometer. Lava beku tersebut ikut terbawa bersama gerak lempeng yang makin menjauh; sementara pada garis retakan terus-menerus terbentuk lava yang baru. Pada kedalaman laut di kawasan pematang samudera ini ditemukan gunung-gunung kerucut berpuncak rata yang disebut guyot. Di duga, bentuk kerucut ini adalah vulkan-vulkan (gunung-gunung api) yang telah padam; sedangkan bentuk puncaknya yang rata disebabkan oleh abrasi gelombang; yang berarti pernah lebih tinggi dari muka laut, lalu tenggelam.

4. Teori Tektonika Lempengan ( Plate Tectonic Theory )
Dua orang mahasiswa berkebangsaan Inggris sedang melukan penelitian, F. Vine dan D. Matthews (1963), menemukan garis-garis magnetis yang berbeda-beda arah di sepanjang pematang Samudera Atlantik. Temuan-temuan data geologis baru dari ekplorasi di sepanjang pematang (punggungan) samudera Atlantik oleh ekspedisi Challenger (1968) menunjukkan bahwa usia batuan beku pembentuk lempeng ternyata makin jauh dari pematang itu makin tua. Artinya, batuan beku itu lahir (terbentuk) di sepanjang pematang lalu bergeser makin menjauh dari pematang; sementara bagian sisi lain dari lempeng itu meluncur lalu tenggelam di bawah lempeng lainnya. Pada bidang gesekan (dua lempeng yang bertemu) ini ujung lempeng itu didaur ulang, endapan sedimen laut dan pulau di atasnya membentuk kerak samudera yang makin menebal dan menyatu dengan benua. Lihat Gbr. 21 dan Gbr. 22.
Sebelumnya, Harry Hess (1962) dalam bukunya: “History of the Ocean Basin” mengembangkan (mengoreksi dan menyempurnakan) teori kehanyutan benua dari Wegener. Hess menulis, bukan benua itu yang hanyut, tetapi benua itu bagaikan potongan kayu yang menancap pada es dan es itulah yang hanyut. Benua tidak hanyut sebagaimana kata Wegener; akan tetapi yang hanyut adalah lempeng samudera yang memikul benua. Lempeng samudera itu hanyut oleh arus konveksi yang terjadi di lapisan astenosfer.
Diilhami oleh teori terjadinya arus konveksi pada air yang dipanaskan dalam panci (Gbr. 20); Hess mengembangkan teorinya; bahwa bagian inti dalam bumi (barisfer) berada dalam kondisi panas dan tekanan tinggi, memanasi lapisan astenosfer yang menyelubunginya. Sementara litosfer itu tersusun dari massa bahan yang kenyal-padat; lithosfer (lempeng dan kerak samudera serta benua) yang menyelubungi astenosfer terdiri dari batuan yang keras.
Jika ada pembentukan batuan baru di pematang samudera secara terus menerus, maka, berarti ada tambahan baru material lempeng samudera. Penelitian J. Tuzo Wilson, melaporkan, tidak ada tambahan materi kerak bumi; karena di bagian lain, lempeng itu akan masuk ke bagian dalam; lebur kembali ke dalam lapisan astenofer yang panas dan bertekanan tinggi.
Tahun 1967, Dan McKenzie dan Robert Parker, ahli geofisika dan astrofisika berkebangsaan Inggris, merumuskan kembali teori-teori tersebut di atas; dengan nama Teori Tektonika Lempengan (Plate Tectonic Theory), Teori Lempeng Tektonik).

Berikut illustrasi-illustrasi yang menggambarkan bagaimana konfigurasi berbagai faktor membangun proses-proses yang dijelaskan oleh Teori Tektonika Lempengan:

5. Perbatasan Antar Lempeng Tektonik
Adanya aliran konveksi di lapisan Asthenosfer, yaitu aliran dengan arah, ada yang saling menjauh, saling bertemu atau saling bergeseran secara horizontal, mempengaruhi lempeng lithosfer yang terapung di atasnya terpecah menjadi beberapa bagian. Lempeng-lempeng yang tergolong besar adalah: Lempeng Eurasia, Afrika, Amerika, Pasiik, Hindia-Australia, dan Antartika. Lempeng-lempeng besar masih terpecah lagi ke dalam beberapa lempeng kecil, seperti Lempeng Filipina, Lempeng Bering, Cocos, Nasca, Arab-Somali dan sebagainya. Masing-masing lempeng bergerak kearah tertentu dengan kecepatan antara 1 -13 cm/tahun. Berdasarkan arah gerak lempeng-lempeng tersebut maka dikenal ada tiga tipe peratasan antar lempeng, yaitu:

1. Divergent Boundaries, yaitu perbatasan lempeng di mana lempeng-lempeng bergerak ke arah yang saling berlawanan atau saling menjauhi. Sering pula disebut ”Constructive Plate Margins”, karena di perbatasan lempeng semacam ini selalu terbentuk kerak bumi baru. Bahan-bahan dalam aliran konveksi dari Asthenosfer mengisi celah retakan antar lempeng yang kemudian membeku menjadi kerak bumi baru di tempat tersebut. Tipe perbatasan semacam ini diketemukan di Midoceanic Ridge (Pematang Tengah Samudera), suatu pegunungan di tengah dasar samudera seperti Mid Atlantic Ridge, East Pacific Ridge, Atlantic-Indian Ridge dan Pacific-Antarct.

2. Convergent Boundaries, yaitu perbatasan lempeng, di mana lempeng bergerak memusat dari arah berlawanan (tabrakan). Sering pula disebut “Destructive Plate Margins” karena pada perbatasan lempeng tipe ini terjadi perusakan pada kerak bumi. Tabrakan antar lempeng menyebabkan terjadinya pelipatan dan patahan-patahan. Di samping itu, salah satu lempeng masuk menjorok ke dalam, di bawah lempeng yang lain, masuk ke lapisan Asthenosfer kemudian lebur lagi. Zona di mana lempeng bergerak menjorok ke lapisan dalam dikenal dengan nama Zona Subduksi, dan yang bergerak sebaliknya (pasangan/lawan) disebut Zona Obduksi yang bergerak ke atas. Zana pertemuan kedua zona ini disebut Zona Benioff (Mintakat Benioff). Dalam kaitannya dengan peristiwa gempabumi, di zona Benioff inilah terletak Hiposentum (pusat gempa awal/dalam) karena adanya tabrakan dan pergeseran antara kedua lempeng tersebut. Karena itu, maka Episentrum gempa juga tersebar di sepanjang Convergent Boundaries. Seperti itu juga halnya dengan rangkaian pegunungan tipe benua atau rangkaian pulau-pulau volkanis yang sejajar dengan palung laut, terdapat di sepanjang perbatasan dua lempeng yang saling bertabrakan. Kerak bumi yang menjorok ke dalam pada kedalaman 50 – 100 km sebagian lebur dan menjadi sumber magma yang membentuk volkan-volkan aktif.

3. Shear Boundaries, yaitu perbatasan lempeng di mana lempeng-lempeng bergerak mendatar dalam arah yang berlawanan di sepanjang bidang batas kedua lempeng. Sering pula disebut “Conservative Plate Margins” karena pada perbatasan semacam ini hampir tidak ada pengrusakan atau pun pembentukan kerak bumi baru. Biasanya batas tipe ini ditandai adanya escarpment panjang.

ZAMAN PERIODE KURUN MULAI
(Mega tahun) PERISTIWA GEOLOGI PERISTIWA BIOLOGI
Keno-zoikum Kuarter Holosen 0,01 Manusia modern
Plestosen 1 Nenek moyang manusia paling tua.

Tersier Pliosen 10 SULAWESI. Kemungkinan adanya hubungan dengan Kalimantan melalui laut dangkal
Doangdoangang atau Selat Makassar yang menyempit. Pemangsa yang besar
Pliosen 25 Sula/Banggai bertabrakan dengan Sulawesi timur; semenanjung utara mulai berputar; Sulawesi timur dan barat mulai menyatu; volkanisme tersebar luas di Sulawesi barat. Hewan menyenggut berlimpah-limpah.
Oligosen 40 Bagian barat Indonesia dan bagian barat Sulawesi kurang lebih seperti posisinya sekarang. Hewan pelari yang besar.
Eosen 60 Australia terpisah dari Antartika, volkanisme mulai timbul di bagian barat Sulawesi. Hewan menyusui modern mulai banyak berkembang.
Meso-
Zoikum Kapur 145 Tumbuhan bunga pertama dan punahnya dinosaurus dan amonit pada akhir kapur

Yura
215 Bagian barat Indonesia bersatu dengan Tibet, Birma, Thailand, Malaysia dan Sulawesi barat terpisah dari Benua Gondwana Burung dan hewan menyusui pertama, dinosaurus, dan amonit melimpah-limpah
Trias 250 Pangea pecah menjadi dua: Laurasia dan Gondwana, pulau-pulau dan bagian-bagian daratan Asia tenggara merupakan bagian timur Benua Gondwana Dinosaurus pertama, pakis, dan pohon jarum melimpah-limpah.
Paleo-zoikum Perm 280 Semua daratan menjadi satu benua, Pangea Punahnya banyak bentuk-bentuk hewan laut, termasuk trilobit
Karbon 350 Hutan-hutan pembentuk batubara yang luas dengan pohon-pohon biji telanjang, hewan melata pertama, hiu, dan hewan anfibi melimpah-limpah

6. Posisi Geologis dan Sebaran Blok-blok Lempeng Bumi di Kepulauan Indonesia.

Jika Teori Tektonika Lempengan tersebut di atas diterapkan kedalam pembentukan Kepulauan Indonesia, maka sedikitnya ada tiga lempeng besar yang bertemu di mana Kepulauan Indonesia berada; yaitu:
1. Lempeng India – Australia; sedang bergerak ke Utara – Timur Laut
2. Lempeng Asia; sedang bergerak ke Selatan – Tenggara; diduga cenderung bertahan.
3. Lempeng Pasifik Barat dan Lempeng Filipina; cenderung bergerak ke Selatan – Barat daya.
4. Di sebagian wilayah Indonesia sendiri, yaitu di Sulawesi, Kepulauan Maluku dan Kepulauan Nusa Tenggara terdapat beberapa lempeng yang lebih kecil, menjadi penyebab utama kawasan ini merupakan pulau-pulau kecil dalam jumlah banyak.

Efek dari gerak dan pertemuan ketiga lempeng besar bumi tersebut dapat ditelusuri dengan memperhatikan:
1. Jalur-jalur pegunungan muda, pegunungan tua, punggung-punggung dan ambang laut di Indonesia. Jalur-jalur ini juga diterjemahkan sebagai jalur orogenetik. Lihat teori Geo-Sinklinal dan Geo-Antiklinal.
a. Pada jalur Pegunungan Muda di Indonesia terbagi atas dua busur yang disebut Busur Dalam dengan ciri utama lipatan dan patahan tektonik yang disertai munculnya gunungapi-gunungapi (volkanik),
b. Busur Luar sebagai punggung-punggung dan pegunungan bawah laut serta pulau-pulau kecil dengan ciri utama sebagai jalur hiposentrum dan episentrum gempabumi (seismik).
2. Jalur-jalur trog / slenk laut di Indonesia; yang terdapat di sebelah Barat Sumatera, Selatan Jawa, Selatan Kepulauan Sunda Kecil (Bali & Nusa Tenggara), Kepulauan Maluku, sekitar Sulawesi dan bagian Utara pada trog Karolin di sebelah Utara Papua dan Palung Mindanao.

Sementara itu, di Indonesia terdapat dua bagian wilayah yang sudah stabil. Di bagian barat Indonesia, di peta dikenal sebagai Dangkalan Sunda termasuk di dalamnya Selat Malaka dan Laut Cina Selatan (Sunda Plat, Sunda Shelf) dengan pulau-pulau yang ada di atasnya termasuk bagian timur Sumatera dan bagian barat dan selatan Kalimantan. Di bagian timur Indonesia terdapat Dangkalan Sahul dengan pulau-pulau yang ada di atasnya dan bagian selatan Papua. Secara geologis daerah ini tidak lagi mengalami gempa yang besar karena hiposentrum sudah demikian dalamnya sehingga getaran pada episentrum relatif sangat lemah.

V. P E N U T U P
Wilayah Kepulauan Indonesia merupakan wilayah di dunia yang paling banyak mencatat peristiwa gempabumi tektonik dan gempabumi volkanik. Indonesia juga sebagai negara yang memiliki garis pantai yang terpanjang di dunia. Peritiwa gempabumi dan tsunami yang berlangsung di Aceh yang terjadi pada 26 Desember 2004 lalu dengan korban lebih dari 80.000 jiwa di samping kerugian harta benda telah menyentak perhatian dunia internasional. Peristiwa yang berlangsung hanya beberapa menit dengan kerusakan kota-kota yang ditimbulkannya di sepanjang pantai Aceh dan Sumatera Utara diduga baru dapat dipulihkan kembali dalam waktu sekurang-kurangnya 20 tahun termasuk pemulihan trauma psikologisnya. Jelas kondisi ini akan menyebarkan dampak yang luas ke seluruh Indonesia.
Hingga kini para ahli belum menemukan teknik untuk dapat meramalkan terjadinya gempa tektonik; yang pasti ialah bahwa di mana tempat yang pernah mengalami gempabumi tektonik, maka di tempat itu untuk waktu yang tidak diketahui akan mengalami lagi gempabumi. Tsunami, baik didahului oleh getaran tanah (gempa) atau tidak, selalui diawali oleh ciri air laut surut tiba-tiba, surut yang bukan bagian dari gejala pasang-surut normal (tidal). Dengan demikian, bencana gempabumi akan selalu menjadi bagian dari kehidupan bangsa Indonesia. Untuk itu, pengetahuan tentang citra geografi Kepulauan Indonesia, tidak terkecuali geologi, geomorfologi dan oseanografinya, adalah menjadi sangat penting. Sistem Informasi Geografis (SIG / GIS) menjadi mutlak bagi kebutuhan bangsa Indonesia ke depan. Paling tidak informasi awal tentang kawasan potensial rawan gempa serta gejala-gejala gempabumi dan tsunami mengantar kepada kesiapan mental dan teknik manajemen penanganan bencana.

DAFTAR PUSTAKA
Allison, Ira S, 1974: Geology: The Science of Changing Earth, New York, 6th ed., McGraw Hill Book Company.
Bemmelen, R.W. van, 1968, Geologi Indonesia, Geologi Umum, Djilid 1A, Terjemahan D.W. Puspokusumo dan Al. Sukohardi, Jogjakarta, Tjepat.
Davis, Reitan, Pestrong, 1976: Geology, Dur Physical Environtment, New York, McGraw Hill Company.
Escher, B.G., 1948: Grondslagen der Algemene Geologie, Amsterdam, Wereldbiblictheek N.V.
Gilluly, James, et-al, 1968: Principles of Geology, San Fransisco, 3rd ed., WH Freedmand and Company.
Hamlin, W. Kenneth, Howard, James D, 1975: Exercises in Physical Geology, USA, 4th ed,Burgess Publishing Company.
Nybakken, James W., 1992: Biologi Laut, Suatu Pendekatan Ekologis, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.
Nontji, Anugerah, 1987: Laut Nusantara, Jakarta, Djambatan.
Plummer, Charles C., McGeary, Davis, 1985: Physical Geologi, Iowa, 3rd ed., Wm C. Brown Publishers.
Robinson, 1982: Basic Physical Geology, New York, John Wiley & Sons.
Sandy, I Made, 1985: Republik Indonesia, Geografi Regional. Jakarta, Jurusan Geografi – FMIPA – Universitas Indonesia.
Stokes, William Lee, 1978: Introduction to Geology: Physical and Hystorical, New Yersey, 1 nd ed., Prentice Hall Inc., Englewood Cliffs.
Thornbury, William D, 1976: Principles of Geomorphology, New York, John Willey and Sons Inc.
Whitten, Anthony, Muslim Mustafa dan Gregory S. Henderson, 1987: Ekologi Sulawesi, Terjemahan Gembong Tjitrosoepomo, Yogyakarta, Gadjah Mada Unuversity Press.
Worcester, Phillip G., 1961: A Text Book of Geomorphology, New York, D van Nostrand Company Inc.

Published in: on 22 January 2010 at 7:00 pm  Leave a Comment  
Tags:

POTENSI BENCANA ALAM DI JATENG – DIY:TANTANGAN UNTUK PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH

Senin, 29 Maret 2004 – 17:13:44 WIB
– Untuk mewaspadai bencana alam, dapat dimulai dengan pemberian informasi potensi bencana alam yang jujur, cepat, tepat, akurat. Diharapkan dengan demikian dapat dilakukan pemilihan dan penyiapan langkah yang tepat, yaitu : mengatasi bencana, mensiasati bencana, atau menghindari bencana tersebut. Pemilihan dan penyiapan langkah tersebut dapat didekatkan ke berbagai cara, misalnya ke pola keruangan kawasan pemukiman, pola konstruksi, pola transportasi, pola informasi, dan lainnya. Kalaupun ternyata masih tertimpa bencana juga, minimal secara mental lebih siap. Karena semua bencana itu, semula memang merupakan gejala alam.

POTENSI BENCANA ALAM DI JATENG – DIY:
TANTANGAN UNTUK PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH

Eko Teguh Paripurno*

Proloog
Ketika bencana akibat konflik di Aceh dan Ambon belum tuntas di selesaikan, bencana alam ikut hadir ikut “memeriahkan”. Di Bengkulu muncul gempa 7,4 Skala Richter 4 Juni 2000 lalu, yang menyebabkan ratusan korban meninggal dan luka-luka. Berikutnya, gempa di Sukabumi Rabu 12/7 200 dengan kekuatan 5,1 skala Richter dengan intensitas kerusakan III-IV MMI, menyebabkan 2.218 bangunan roboh, sehingga kerugian mencapai 2, 3 milyar rupiah. Sebelumnya, masih kental diingatan bencana-bencana besar yang terjadi. Gempa bumi di Liwa Lampung Barat, Rabu 16 Februari 1994 dengan kekuatan 6,5 Skala Richter itu, telah menghancurkan 80 % dari seluruh bangunan teknik yang ada, mengakibatkan lebih dari 200 tenduduk tewas, serta 1000 penduduk luka-luka. Selanjutnya, Jum’at 3 Juni 1994 dini hari, gelombang pasang menggulung pantai selatan Jawa Timur, dari Pacitan sampai Banyuwangi, sehingga sedikitnya 300 orang ditemukan meninggal dan puluhan kampung porak poranda. Juga peristiwa fenomental di daerah kita, letusan Gunung Merapi 22 November lalu yang membawa korban jiwa lebih dari 60 orang.
Fenomena-fenomena di atas menjadi menarik, karena sejak UU Nomor 22 Tahun 1999 (tentang pemerintahan daerah) dan UU Nomor 25 Tahun 1999 (tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah) ditetapkan, perbincangan tentang otonomi hanya terbatas mengenai memanfaatkan sumberdaya alam daerah. Sasarannya: menggenjot pendapatan asli daerah (PAD). Kebetulan kedua undang-undang tersebut lebih banyak mengatur prosedur bagi hasil sumberdaya. Pengesahan undang-undang tersebut menyebabkan para esksekutif daerah kaya ingin segera melaksanakan undang-undang itu dalam tempo sesingkat-singkatnya untuk “merdeka” dari pemerintah pusat dalam mengelola sumberdaya alamnya. Sebaliknya bagi daerah miskin kondisi tersebut dianggap merupakan “ancaman” bagi kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu penerapan undang-undang ini boleh jadi merupakan “petaka”, yang mungkin lebih “nyaman” jika dihindari. Belum lagi jika kawasannya rawan bencana. Lantas bagaimana otonomi daerah itu diterapkan dalam mengelola bencana?
Gempa Bengkulu yang lamban penanganannya merupakan tantangan tersendiri buat otonomi daerah. Karenanya ternyata di sisi ini ada “saling ketidak pedulian” antara pusat dan daerah. Di satu sisi daerah perlu bantuan mendesak, di sisi lain pemerintah pusat menyatakan tidak ada dana khusus untuk penanganan bencana. Depertemen “terkait” sudah dihapuskan, sementara departemen lain cenderung ragu-ragu untuk mengeluarkan dana non bugdeternya, mengingat banyak kasus pengeluaran dana dengan cara itu di utik-utik keabsahannya. Kondisi ini barangkali memicu kita untuk berfikir dengan lebih bijak perihal pengelolaan sumberdaya sekaligus pengelolaan bencana dalam pelaksanaan otonomi daerah.Manajemen bencana bertumpu pada masyarakatSelain bencana alam, dewasa ini bencana karena manusia juga mengalami peningkatan. Hal ini berkaitan erat dengan berkembangnya industri, yang kemudian mengakibatkan bahaya karena kesalahan dan kelalaian teknologi. Begitu banyak bencana karena ulah manusia lainnya, sehingga menyebabkan perusakan lingkungan dan ketidakseimbangan lingkungan, yang pada akhirnya menimbulkan bencana. Desertifikasi, perubahan iklim global, merupakan sederetan bencana yang disebabkan karena ulah manusia. Bencana, juga dapat pula terjadi karena kombinasi, yaitu muncul karena ulah manusia dan kondisi alam saling mendukung.
Bencana alam seringkali dianggap sebagai sesuatu yang harus terjadi. Gempabumi, letusan gunungapi, tanah longsor, gelombang pasang, kekeringan, banjir dan lainnya, adalah kondisi alam yang melekat pada bumi kita. Sampai sekarang, manusia belum mampu secara tuntas menghentikan munculnya bahaya itu. Bukan saja karena kekuatannya yang luar biasa, namun juga karena waktu terjadinya sulit ditentukan secara tepat. Beberapa kejadian bencana alam menunjukkan bahwa betapa besar ukuran suatu bencana alam itu, sehingga manusia tidak mempunyai makna terhadap besarnya bencana tersebut. Namun, dilain fihak, manusia mempunyai kemampuan untuk mengenali dan memahami bencana tersebut. Tindakan tersebut merupakan salah satu upaya untuk meredam kerugian yang ditimbulkan oleh bencana alam, atau sering disebut sebagai bagian dari manajemen bencana. Tindakan manajemen bencana merupakan bagian penting dan strategis bagi aksi kemanusiaan. Karena itulah akhirnya PBB menetapkan Dasawarsa Internasional Peredaman Bencana Alam, sampai berakhirnya masa itu tahun lalu. Keputusan PBB itu dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran seluruh umat manusia akan bencana alam, khususnya melalui pemahaman yang lebih baik mengenai bencana alam tersebut, serta upaya menekan bahaya melalui kemampuan teknologi dan manajemen. Pembangunan kemampuan penanganan bencana ditekankan pada peningkatan kemampuan masyarakat, khususnya masyarakat pada kawasan rawan bencana, agar secara dini menekan bahaya tersebut. Umumnya berpangkal pada tindakan penumbuhan kemampuan masyarakat dalam menangani dan menekan akibat bencana. Untuk mencapai kondisi tersebut, lazimnya diperlukan langkah-langkah : (1) pengenalan jenis bencana, (2) pemetaan daerah rawan bencana, (3) zonasi daerah bahaya dan prakiraan resiko, (4) pengenalan sosial budaya masyarakat daerah bahaya, (5) penyusunan prosedur dan tata cara penanganan bencana, (6) pemasyarakatan kesiagaan dan peningkatan kemampuan, (7) mitigasi fisik, (8) pengembangan teknologi bencana alam.Setelah otonomi, adalah kewajiban pemerintah daerah dan kita untuk membuat masyarakatnya yang rentan lebih berkapasitas. Tujuan akhirnya, membuat mereka mampu mengatasi semua ancaman agar tidak menjadi bencana. Kita tentu percaya, kapasitas masyarakat yang kuat akan menempatkan ancaman tetap sebagai ancaman; tidak sebagai bencana. Bukan sebaliknya, meninggalkan mereka, menisbikan keberadaan mereka, karena tidak sesuai dengan keinginan kita.
Manajemen bencana ini perlu dilakukan dengan mekanisme internal, yaitu mendudukkan masarakat sebagai subyek. Manajemen ini tidak menempatkan masyarakat pada posisi lemah, bodoh dan salah, nampaknya menjadi suatu kebutuhan. Tantangannya adalah bagaimana memulai melakukan pengalihan keterampilan penelitian dan perencanaan itu? Metoda pertisipatif merupakan salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendukung mekanisme internal. Asas yang melandasi mekanisme ini adalah “pemberdayaan”, yaitu memperhatikan kapasitas awal masyarakat dan kegiatan dibangun untuk masyarakat agar dapat mengembangkan kapasitasnya sendiri. Wujud nyata dari asas ini adalah perlunya lembaga-lembaga pemerintah, lembaga swasta dan lembaga swadaya masyarakat mendukung proses peningkatan kapasitas (sekaligus merupakan upaya mengurangi kerentanan) yang ada dengan sepenuh hati. Namun, setelah masyarakat mempunyai kapasitas yang cukup, biarkan masyarakat menentukan.
Mengenal “rumah” sendiri
Yang tidak boleh dilupakan adalah upaya mengenal “rumah” dan lingkungan kita sendiri. Pada kesempatan ini, akan penulis sampaikan secara garis besar beberapa hal mengenai jenis bencana alam yang potensial dan daerah-daerah di “rumah” kita, Jateng-DIY yang rawan terhadap bencana tersebut.
Gempa Bumi. Secara sederhana, didefinisikan sebagai sentakan alamiah yang terjadi di bumi, yang bersumber di dalam bumi dan merambat ke permukaan. Ada tiga kelompok pembagian gempa bumi alami yang lazim kita kenal. Pertama gempa tektonik, yaitu gempa yang berkaitan erat dengan pembentukan patahan besar, sebagai akibat langsung dari tumbukan antar lempeng litosfera pembentuk kulit bumi. Gempa ini merupakan gempa besar yang umumnya berkekuatan lebih dari 5 skala Richter. Kedua gempa vulkanik, yaitu gempa berkaitan dengan aktivitas gunung api. Gempa ini merupakan gempa mikro sampai menengah, yang berkekuatan kurang dari 4 skala Richter. Ketiga gempa terban yang muncul akibat longsoran / terban dan merupakan gempa kecil, sehingga getaran yang muncul tidak terasa.
Pemunculan pusat-pusat gempa tektonik dan pemunculan gunung api, merupakan sifat yang melekat dari karakteristik kepulauan Indonesia. Sebagai penyebabnya adalah tatanan tektonik Indonesia yang khas. Tatanan tektonik regional Indonesia sangat dipengaruhi oleh keberadaan lempeng-lempeng astenosfer yang berada di sekitar Indonesia. Lempeng Hindia Australia di sebelah selatan bergerak ke utara, Lempeng Eurasia di sebelah utara-barat bergerak ke selatan-timur, Lempeng Filipina di sebelah utara-timur bergerak ke barat, serta Lempeng Pasifik di sebelah timur bergerak barat. Masing-masing lempeng itu bergerak mendekat dengan kecepatan 8 cm/tahun sampai 12 cm/tahun, membentuk hubungan antar lempeng yang saling menunjam dan berpapasan. Kondisi ini yang memunculkan jajaran gunungapi sekaligus juga pusat-pusat gempa dan patahan-patahan sepanjang selatan pulau Sumatera, Jawa sampai Banda.
Gunungapi. Gunung api adalah suatu lubang bumi, yang dari lubang tersebut dapat dikeluarkan isi bumi berupa padatan panas, cairan panas dan gas panas. Beberapa tipe letusan gunungapi sudah dapat diramalkan pemunculannya, karenan umumnya memiliki ritme selang waktu letusan. Bahaya yang ditimbulkan oleh gunung api dikenal sebagai bahaya primer dan bahaya sekunder. Bahaya primer merupakan bahaya yang berkaitan langsung dengan proses letusan. Muatan panas berupa padatan, cairan dan gas bersuhu tinggi (di atas 500 0C) akan menghanguskan semua saja yang disentuhnya. Guguran lava pijar dan awan panas yang dikeluarkan oleh G. Merapi merupakan contoh bahaya primer. Bahaya sekunder merupakan bahaya yang ditimbulkan secara tidak langsung. Misalnya, jika hujan turun, lahar meluncur mengubur yang dilewatinya.
Bencana gunungapi bukan barang baru. Bencana ini dapat terjadi setiap saat di banyak tempat di indonesia. Dari 128 gunung api yang ada, tercatat 70 pernah melakukan kegiatan, 26 diantaranya termasuk kategori gunung rajin sehingga diawasi secara khusus. Yang berada di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta antara lain G. Merapi. Untuk kawasan DI Yogyakarta dan Jawa Tengah, secara umum kawasan di seputar Gunung Slamet, Gunung Sundoro, dan Kompleks Dieng, merupakan kawasan rawan bencana. Khusus untuk Kompleks Dieng, bahaya yang siap muncul adalah karena gas beracun yang muncul dari kawah maupun retakan-retakan batuan.Gelombang Pasang. Umumnya gelombang pasang menerjang pantai landai. Asal-usul kejadiannya dapat dihubungkan dengan adanya gempa tektonik (selanjutnya disebut gempa) dan letusan gunungapi. Tsunami yang berhubungan dengan gempa dan letusan gunungapi merupakan bencana alam lain yang kedatangannya tidak dapat diramal. Gempa yang berpengaruh langsung menimbulkan gelombang pasang umumnya merupakan gempa dangkal, dengan kedalaman sumber kurang dari 50 km. Kawasan rawan gelombang pasang untuk Jateng dan DIY, terutama adalah kawasan landai pantai selatan Jawa, mulai Parangtritis sampai Cilacap. Di beberapa titik lokasi di kawasan ini mempunyai kepadatan penduduk sangat tinggi, misalnya pantai kawasan wisata Parangtritis dan pantai nelayan Cilacap. Menyimak kondisi ini, maka pembangunan yang memungkinkan berakumulasinya penduduk perlu didisain mengatisipasi ancaman ini ini. Bukan saja untuk pelabuhannya, tetapi juga untuk masyarakat di sekitarnya yang berakumulasi karena keberadaa pelabuhan itu.
Tanah Longsor. Tanah Longsor (gerakan tanah) merupakan gejala alam untuk mencapai kondisi keseimbangan. Seperti halnya banjir, nampaknya gerakan tanah merupakan bencana alam yang sedikit dapat diramalkan kedatangannya, karena berhubungan dengan besar curah hujan. Daerah rawan longsor, umumnya mempunyai sifat yang khas. Jenis batuan yang mudah desintregrasi, pola patahan batuan, pola perlapisan batuan, ketebalan tanah lapuk, kemiringan lereng curam, kandungan air tinggi dan getaran gempa merupakan beberapa sifat geologis yang mempengaruhi proses longsoran. Manusia dapat sebagai faktor pemacu proses longsoran, misalnya tanpa sengaja melakukan penambahan beban, penambahan kadar air, penambahan sudut lereng. Karena faktor kadar air merupakan hal yang cukup dominan, maka longsor sering terjadi dimusim hujan. Beberapa kawasan di Jawa tengah dan DI Yogyakarta yang potensi longsor antara lain Magelang utara, Boyolali utara, Purworejo, Temanggung utara, Cilacap, Wangon, Wonosobo, Wonogiri, Kulon Progo, dan Wonosari.
Banjir Bandang Banjir Pasang Surut dan Abrasi. Meningkatnya banjir yang melanda beberapa daerah di wilayah Indonesia, khususnya Pulau Jawa, sering dikaitkan dengan aktifitas pembabatan hutan di kawasan hulu dari sistim daerah aliran sungai (DAS). Banjir, sebenarnya merupakan bencana alam yang paling dapat diramalkan kedatangannya, karena berhubungan dengan besar curah hujan. Secara klasik, walaupun tidak tepat benar, yang dituduh sebagai biang keladi banjir adalah petani, peladang yang menebang hutan di bagian hulu DAS. Penebangan dan pengelolaan hutan yang terbatas, tidak begitu saja dapat mengganggu sistim pengaturan air maupun sistim kesimbangan air. Kecuali jika dilakukan secara besar-besaran pembudidayaan hutan menjadi ladang, lahan pertanian atau pemukiman. Apalagi jika disertai dengan pemadatan tanah dan erosi yang berat. Pemukiman dan pemadatan tanah tidak memberikan kesempatan air hujan untuk meresap ke tanah. Sebagian besar menjadi aliran air permukaan dengan pelumpuran. Apalagi didukung oleh sungai yang semakin dangkal dan menyempit, bantaran sungai yang penuh sesak dengan penghuni, serta penyumbatan saluran air di daerah hulu. Banjir umumnya terjadi di dataran, hilir dari suatu sistim DAS yang memiliki pola aliran rapat. Dataran yang menjadi langganan banjir umumnya memiliki kepadatan penduduk yang tinggi. Secara geologis, berupa lembah atau bentuk cekungan bumi lainnya dengan porositas rendah. Umumnya berupa dataran delta maupun aluvial. Selain beberapa kawasan pantai utara Jawa yang merupakan hulu DAS Solo, DAS Brantas, daerah sangat potensial menjadi kawasan banjir adalah Purworejo, Tegal, Pekalongan, Semarang, Brebes, Kebumen, Kutoarjo
Banjir pasang surut dan abrasi terjadi dengan lambat tapi pasti. Banjir pasang surut, yang kurang “dihiraukan” pemerintah daerah setempat, terjadi di Semarang dan Demak. Banjir pasang surut dan abrasi telah menghabiskan pantai Sayung sepanjang lebih dari 10 kilometer dengan lebar lebih dari tiga kilometer selama dua dasawarsa terakhir ini. Memang ini bukan murni bencana alam. Berbagai sebab menjadikan fenomena banjir dan abrasi di kawasan ini luar biasa. Permasalahnya dianggap pemerintah daerah yang kurang tepat mengelola kawasannya, baik pengambilan air tanah melebihi kemampuan pengisian alamiah, pembangunan tiang pancang dermaga, dan tentunya didukung masyarakat yang semena-mena mengubah hamparan mangrove menjadi tambak. Dan bencana macam ini tidak harus dibiarkan saja kan?
Amblesan dan Intrusi Air Laut. Bencana alam geologi yang kurang disadari dan dianggap enteng adalah penyusupan air laut dan amblesan. Walaupun bencana ini lambat laun pasti terjadi, alon-alon ning kelakon, nampaknya kurang mendapat tempat perhatian, dalam arti kurang ditanggapi secara serius. Amblesan terjadi karena air diambil melampaui batas kemampuan pada batuan endapan jenuh air, sehingga terjadi gangguan tata air tanah. Jika proses penyedotan di luar batas kemampuan ini dilakukan pada daerah pantai landai, maka akan terjadi pengisian ruang kosong pada tanah maupun batuan oleh air laut. Proses ini dikenal sebahai penyusupan (intrusi) air laut. Proses penyusupan air laut ini telah melanda kawasan Jakarta, Semarang dan Surabaya. Akibat penyusupan ini, air tanah berubah payau, bahkan menjadi asin. Dari data yang ada, penyusupan air laut di tiga kota tersebut berkembang cepat dari waktu ke waktu. Karena kebutuhan meningkat dan pengambilan air tanah tak terkontrol bukan tidak mungkin maka masalah penyusupan air laut juga akan terjadi di beberapa kota lain di Jawa Tengah misalnya Cilacap, Tegal.
Kekeringan. Bencana kekeringan mempunyai karakteristik tersendiri. Karena sebagian besar derah Jateng-DIY merupakan dataran gunungapi yang merupakan reservoar air yang baik, maka kekeringan justru banyak dijumpai di daerah kars. Kekeringan pada kawasan kars secara umum mempunyai ciri (1) kejadiannya dapat diduga dengan baik karena bersifat rutin; (2) berlangsung dalam waktu panjang, sepanjang musim kemarau; (3) terjadi pada kawasan luas, yang tempat kedudukannya dapat diketahui dengan baik; (4) mengakibatkan penurunan produktifitas sosial, pertanian, dan bahkan menghilangkan fungsi lahan untuk sementara waktu. Kawasan kars yang rawan kekeringan antara lain seputar Pegunungan Selatan, Wonosari, Wonogiri, Kulon Progo, Cilacap.
Penutup
Semua bencana alam, awalnya adalah gejala alam biasa. Peristiwa itu dikatakan sebagai mencana karena menabrak kepentingan manusia. Untung tak dapat diduga, malang tak dapat ditolak, demikianlah kata pepatah. Celakanya, kebanyakan bencana alam memang sulit diramalkan. Oleh karenanya, masyarakat perlu memahami tingkat potensi bencana, bentuk bencana dan besar kekuatan bencana yang mungkin menimpa.
Untuk mewaspadai bencana alam, dapat dimulai dengan pemberian informasi potensi bencana alam yang jujur, cepat, tepat, akurat. Diharapkan dengan demikian dapat dilakukan pemilihan dan penyiapan langkah yang tepat, yaitu : mengatasi bencana, mensiasati bencana, atau menghindari bencana tersebut. Pemilihan dan penyiapan langkah tersebut dapat didekatkan ke berbagai cara, misalnya ke pola keruangan kawasan pemukiman, pola konstruksi, pola transportasi, pola informasi, dan lainnya. Kalaupun ternyata masih tertimpa bencana juga, minimal secara mental lebih siap. Karena semua bencana itu, semula memang merupakan gejala alam.

* Jurusan Teknik Geologi & Koordinator Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta

Published in: on 22 January 2010 at 4:50 pm  Leave a Comment  
Tags:
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.