Pantai Patuno, Ikon Wisata Wakatobi yang Menggoda


Pantai Patuno, Ikon Wisata Wakatobi yang Menggoda

OLEH: AGUS SANA’A

WAKATOBI – Menyelam di tempat-tempat penyelaman (diving resort) di belahan dunia mana pun di jagat raya ini, Anda akan bercengkerama dengan berbagai jenis ikan dan biota laut, serta menikmati keindahan formasi terumbu karang beragam jenis.

Namun, ketika memilih Patuno Resort sebagai tempat menyelam, Anda tidak sekadar menikmati pemandangan alam bawah laut, tetapi juga dapat bercengkerama dengan sejumlah ikan lumba-lumba yang berkeliaran di kawasan pesisir tempat penyelaman tersebut. Sungguh suatu pemandangan yang amat menyenangkan.
Bagi pengunjung pantai yang tidak suka menyelam, dapat menyaksikan ikan lumba-lumba bermain di sela-sela gelombang laut dari dua pulau kecil tanpa penghuni yang “terbaring” molek di depan pantai. Di pulau yang ukurannya lebih besar, terdapat lubang kecil yang elok dipandang mata. Dari atas pulau itulah pengunjung dapat menikmati pemandangan matahari terbenam yang indah. Jika cuaca bersahabat, Anda juga bisa melihat perahu-perahu nelayan yang sedang mencari ikan.
Pantai Patuno terletak antara Wanci, Ibu Kota Kabupaten Wakatobi dan Bandara Matahora Wanci. Dari Wanci hanya berjarak kurang lebih 22 kilometer, sedangkan dari bandara hanya sekitar tiga kilometer.
Letaknya yang begitu strategis menjadikan kawasan tersebut mudah diakses. Mencapai tempat ini dari Wanci dengan mobil atau sepeda motor hanya butuh waktu kira-kira 30 menit, sedangkan dari bandara sepuluh menit.
Bagi warga dari luar pulau yang ingin berlibur di pantai tersebut, tidak susah menjangkaunya. Setiap hari maskapai penerbangan Ekspres Air melayani rute Ja­karta­–Maka­s­sar–Baubau-Wakatobi dan sebaliknya. Jika ingin melewati Kendari, Ibu Kota Provinsi Sultra, Anda bisa memilih Lion Air, Garuda Indonesia, Merpati Nusantara, Sriwijaya Air atau Batavia Air melalui rute Jakarta–Makassar–Kendari. Dari Kendari, dilanjutkan ­­Tdengan pesawat Susi Air berkapasitas 12 tempat duduk.
“Kalau warga Jakarta mau berlibur ke sini (Pantai Patuno-red) bisa berangkat hari Jumat dari Jakarta. Hari Sabtu menyelam, Minggu balik kembali ke Jakarta, dan Senin sudah bisa masuk kantor,” kata Bupati Wakatobi, Hugua. Oleh karena mudah diakses, Pemerintah Kabupaten Wakatobi menjadikan kawasan tersebut sebagai ikon wisata di Wakatobi.

Pulau-pulau Lain
Bosan menikmati keindahan alam pantai alam bawah laut, pengunjung bisa bergeser ke kawasan wisata lain di kabupaten tersebut, seperti Pulau Huga, Onemombaa atau karang Mari Mabo. Dari Pantai Patuno ke karang Mari Mabo, bisa menggunakan perahu cepat kurang lebih 30 menit. Demikian pula menuju Pulau Hoga, hanya perlu waktu sekitar 25 menit, sedangkan ke Onembaa sekitar dua jam.
Onemombaa, salah satu kawasan wisata diving di Kecamatan Tomia, Kabupaten Wakatobi yang dikelola PT Wakatobi Diving Resort milik Lorent, warga asal Swiss. Di Tomia, perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing) itu menyiapkan fasilitas bandara yang dapat didarati pesawat Fokker-28. Selama ini, para wisatawan yang mengunjungi kawasan tersebut hanya bisa mencarter pesawat dari Bali dengan jadwal penerbangan dua kali sebulan.
Untuk tinggal selama sepuluh hari, pengunjung harus merogoh kocek minimal US$ 3.000.
Saat ini, ke Onemomba tidak harus melewati Bali dengan pesawat carter dan menunggu 15 hari. Tiap hari Anda bisa ke Onemombaa dengan melewati Jakarta-Makassar–Baubau–Wakatobi. Biayanya pun cukup murah, paling tinggi US$ 570. “Pokoknya ke Wakatobi sekarang sangat mudah dan murah,” ujar Hugua.
Sementara itu, Pulau Hoga adalah kawasan wisata selam yang dikelola Wallacea. Di alam bawah laut tersebut terdapat kurang lebih 750 spesies terumbu karang. Bahkan, jenis karang bernama Palao Strea yang selama ini hanya ditemukan di perairan Laut Palao, dapat dijumpai di alam bawah laut Pulau Hoga. Pakar Biologi Kelautan Universitas Hasanuddin Makassar, Dr Ipul, menemukan jenis karang langka tersebut pada 23 November 2009 lalu.
Bupati Wakatobi mengidentikkan keindahan alam bawah laut di dua kawasan yang masuk area Pusat Segi Tiga Terumbu Karang dunia (triangle) itu bak surga nyata. Itu sebabnya, Bupati Wakatobi terus berjuang membangun sarana transportasi, baik udara maupun laut. Tujuannya agar para pecandu selam kelas dunia dapat menikmati surga nyata di Pusat Segi Tiga Terumbu Karang Dunia itu.
Berada di Wakatobi, tidak hanya keindahan alam bawah laut yang bisa dinikmati, melainkan juga keragaman budaya dan berbagai tradisi lisan. Di masyarakat Wakatobi banyak terdapat beragam budaya unik, seperti karia, kabuenga, makan kulit kerang kima, dan bangka mbule-mbule. Budaya bangka mbule-mbule merupakan tradisi masyarakat nelayan Suku Bajau dalam melarung sesajen di tengah laut. Ritual ini untuk menjauhkan nelayan dari marabahaya sambil memohon rezeki berlimpah dari penguasa laut, digelar sekali setahun.
Sementara itu, kabuenga, diyakini sebagai ajang tempat mencari jodoh. Entah ada hubungannya atau tidak, yang pasti artis Zakiah Mecca dan Hanung Bramantyo melaksanakan akad nikah setelah mengikuti acara kabuenga tersebut di Wanci. n
Pantai Patuno, Ikon Wisata Wakatobi yang Menggoda

Published in: on 26 January 2010 at 12:05 pm  Comments Off  
Tags:
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: